Bicara soal perempuan dan laki laki dalam sebuah hubungan yang katanya memiliki ikatan. Tapi belum menikah. Orang umumnya menyebutnya proses pacaran. Oke, baiklah. Apapun namanya. Seharusnya sih sudah terbayang apa yang saya maksud, kan?
Dalam satu hubungan ini, sekalipun belum sedemikian mengikat seperti pernikahan. Tapi kan seharusnya esensinya sama. Berada dalam sebuah hubungan yang punya komitmen. Komitmen hanya ada setelah menikah? Bodoh benar. Buat orang yang mengAmini proses pacaran sebelum menikah, ya seharusnya mengerti bahwa komitmen itu perlu ada. Komitmen bahwa proses yang sedang dilakukan ini adalah suatu jenjang yang dilewati untuk jenjang yang lebih serius lagi selanjutnya. Begitu kan?
Makanya buat saya pribadi salah besar yang namanya orang bilang “selingkuh lah mumpung masih pacaran dan belum menikah”. Wow. Prinsip apa itu? Mencoba mencari yang terbaik, mungkin adalah termin yang masih akan saya benarkan. Tapi kalau “selingkuhlah”... memangnya tidak pernah terpikir bahwa itu akan jadi suatu kebiasaan yang akan terpelihara hingga saat menikah nantinya, ya?
Ah, ya sudahlah. Masalah itu sih mungkin tiap orang punya pilihan dan pemikirannya sendiri. Tapi satu lagi, nih. Tentang sejauh mana hubungan fisik dilakukan pada saat pacaran.
Ga bisa dipungkiri sama sekali lho, kalau sekarang yang namanya pacaran, jarang sekali yang bersih dari campur tangan para tangan! Pegang sana sini, jamah sana sini, peluk sana sini, cium sana sini… Ga cuma orang dewasa yang lakukan, bahkan anak remaja pun seakan ga mau kalah dengan parade hubungan badan ini! Wow wow wow!
Terserah saja. Sekali lagi, setiap orang punya standar pemikirannya sendiri yang tidak seorang pun bisa larang, dan terlepas dari semua standar benar dan salah. Orang sebut tahapannya adalah KNPI (Kissing, Necking, Petting and Intercourse). Kau sudah sampai mana? Hahaha maaf… betapa tidak pantasnya pertanyaan saya. Sekali lagi, itu urusanmu sendiri. Saya juga tidak akan cerita apa apa, sekalipun melakukan ataupun tidak melakukan apa apa. Tapi pasti ada, dan seyakinyakinnya pasti banyak, di luar sana yang masih pacaran tapi sudah melakukan hubungan badan yang bisa disebut, ML, Intercourse, have sex, screwing, fuck. Whatever.
Lalu apa maksudnya membahas topik yang masih suka membuat orang ’seakan akan” jengah dan masih tabu ini?
Karena saya perempuan. Karena saya tidak senang sama sekali, bahwa bila ada sesuatu yang sepasang pecinta lakukan, di ujungnya kadang perempuan yang paling menderita dan menanggung segala bebannya.
Saya bukan mau bicara soal keadilan atau apalah. Tidak ada yang adil atau tidak dalam hal ini. Norma pun tidak diajak disini. Makanya Islam punya aturan “Wa laa taqrobu zinnah”, yang pastinya adalah untuk melindungi umatnya, dan mungkin terutama perempuan.
Oke tidak selalu yang namanya berhubungan seksual di luar nikah akan berakhir pada kehamilan. Cukup patut disyukuri bahwa semakin meningkatnya tingkat kebejadan manusia jaman sekarang, ilmu pengetahuan dan teknologi juga makin berkembang. Ada banyak itu alat kontrasepsi yang bisa digunakan. Kalau sampai jadi kehamilan dan dilahirkan atau diaborsi, saya rasa sudah cukup banyak saya teriak teriak membawa nama anak. Tapi kalau tidak hamil, sudah berhubungan seksual, dan si lelaki selingkuh ataupun pergi begitu saja, gimana?
Kenapa harus, kebanyakan, perempuanlah yang akhirnya akan menderita? Merasa menyesal. Merasa digunakan. Merasa disiasiakan. Dan parahnya akhirnya merasa sudah tidak berharga! Ah! Terkutuklah para lelaki yang demikian! Tapi…
Tapi waktu melakukan hal yang tidak boleh dilakukan itu kan berdua? Waktu melakukannya kan senang berdua? Waktu melakukannya kan bukan dalam keadaan tidak sadar sehingga bisa dikatakan “being used” dan sebagainya?
Maka siaplah dengan segala konsekuensinya. Maka jangan jadikan dunia berakhir ketika si lelaki pergi begitu saja dan tiba tiba sudah berhubungan dengan orang lain! Maka jangan merasa tidak berharga, karena memang saat itu ketololan yang sedang meraja. Mau bilang apa kalau demikian? Bukan berarti juga mendukung gaya hidup orang barat pada umumnya yang sama sekali tidak tabu dan aneh lagi hal yang demikian… hanya saja… kadang kalau sudah melakukan yang begini, bukannya akan lebih damai sedikit kalau merasa ini wajar dan bukannya merasa bersalah lalu terbebani? Toh ini pilihan… mau dirasa wajar dan nyaman nyaman saja dilakukan… atau sadar bahwa ini salah dan dosa dan segala itulah lalu hentikan sama sekali!
Apa gunanya bertahan karena katanya sudah terlanjur “melakukan sesuatu” dan harus bertahan apapun yang si lelaki lakukan. Mau sampai kapan? Asal dapat sertifikat pernikahan baru bisa tentukan jalan lagi ke depannya? Mau mengharapkan apa menikah dengan lelaki yang demikian? Manusia bisa berubah… ya ya ya… but for me, that must be an exception. Once a cheater always a cheater? Bukan begitu juga. Its about the TRUST that’s not there anymore. Sebuah hubungan tanpa berlandaskan kepercayaan dan tanggung jawab, mau jadi apa?
Tertinggalkan… terbuang… jalani saja semuanya… sudahlah… dan kalau perlu bertobatlah dan jadikan pelajaran di masa ke depan. Bukannya malah hidupmu yang kau sia siakan! Suatu saat si lelaki sialan PASTI dapat balasan. Tidak ada satu perbuatan pun yang Tuhan diamkan… masa kau tidak percaya?
Ah… kenapa ya saya ini… Perlu tidak saya perjelas bahwa saya sama sekali bukan sedang cerita tentang saya? Lelaki kecil saya rasanya cukup bertanggung jawab. Tahu… semua tidak semudah tertulis dan terkatakan. Tapi memang lalu kenapa? Kalau harus melewati yang tersulit, ya lewatilah, dan bersyukurlah ketika tidak mati karenanya! Hanya kuat yang tersisa. Semoga saja bisa…







Ceritanya 











