Cerita tengah malam

Sebuah luka sedang, atau masih, menganga. Luka yang dipenuhi juga tanda tanya dan ketidakmengertian pada semua yang suka bicara sekenanya.. Ah, nampak tidak dimengerti!

Bolehlah mungkin ditumpahkan sdikit ini isi hati yang sedang meluapluap..

Minggu minggu terakhir ini segalanya sedang terasa cukup berat. Mulai dari harus menghadapi seorang perempuan yang mungkin salah satu jelmaan iblis wanita di dunia, kemudian kebenaran menyakitkan yang tibatiba terungkap, dan lagi lagi kenyataan yang tidak bisa lagi tersembunyikan..

Semuanya terasa begitu lengkapnya..memembentuk satu bongkah besar yang ga pergipergi meninggalkan kepala dan menghantam dada berkalikali.. STRESSS

Pernahkah bertanya, ‘Ya Tuhan, sbetulnya ujungnya dari cerita ini apa? Kenapa tidak selesai juga dan ganti dngan kisah baru lagi?’ Kepala saya sdang dipenuhi pertanyaan itu..

Saya tidak bisa, dan tidak mau, bercerita tentang si iblis wanita dan kebenaran menyakitkan yang mengikutinya.. Rasanya cerita itu cukup dibiarkan terbang menghilang begitu saja, toh dia hanya orang luar yang sbenarnya tidak tau apa apa.. Btapa mudahnya..

Tapi kalau ‘orang dalam’? Sebuah kaum, yang saya sedang mempertimbangkan ulang esensi dari label yang melekat pada mereka. Keluarga.

Sudahlah cukup saya sdang berlatih pada perempuan tiga huruf dalam hidup saya dngan perilaku dan kata katanya yang saya tidak mengerti, skarang mereka merasa perlu ikut bersuara.

Minggu lalu seorang bude saya mampir ke rumah. Ada kondangan besok harinya. Dari jumat sampai minggu dia akan menginap di rumah saya. Awalnya firasat buruk akan terjadi hal yang tidak menyenangkan sempat terlintas. Sebisa mungkin saya hindari kontak, tapi apa mau dikata, akhirnya kena juga.

Di saptu sore yang panas, pertanyaan, pernyataan, saran dan paksaan dibombardirnya pada saya. Mulai dari keputusan bulat saya menolak masuk imigrasi dan betapa saya dibilang keras kepala dan ga mau membahagiakan orang tua karenanya, sampai ke masalah sudah terdngarnya rencana kami buat menikah tahun depan. Dia bertanya kenapa.. Sudah siapkah saya.. Sampai pada bertanya apa saya PD bila dilihat orang berdua pasangan saya? Pertanyaan yang absurd. Satu hal yang membuat saya bangga, saya makin bisa mengendalikan emosi di hadapan ibu saya dan tentunya keluarganya. Bibir dan sekujur tubuh bergetar menahan amarah yang siap meledak karna pernyataan pernyataan tidak bertanggung jawap. Tapi saya tidak kalap. Dengan tenang saya berhasil menjawab dan menjelaskan semua yang jadi pertimbangan saya. Hingga akhirnya sama seperti sang adik yang adalah mama saya, bude saya cuma bilang TERSERAH! Dengan embel embel yang sama, bukan berarti menyetujui. Ah, sama seperti waktu adiknya sampai pada kata ini dulu waktu kami sempat berusaha berbicara dngan tenang, kata TERSERAH menandakan pembicaraan kami sudah usai.

Esoknya saya bawa pasangan saya yang mungil bersalaman dngan bude saya, dan dngan ibu yang seperti biasa tidak menunjukkan sdikitpun keramahan. Mereka tidak ada yang bicara apa apa. Ya sudah..tinggalkan saja..

Tapi memang kemunafikan jadi satu sifat turunan, yang saya mohon pada Tuhan saya tidak mewarisi sepenuhnya, karena kalau tidak sama sekali agak sulit rasanya. Hari ini saya tahu apa yang mereka semua katakan hari itu dari adik perempuan yang skalipun kadang menyebalkan, adalah pendukung saya satusatunya disini.

Mereka mengejek betapa tidak pantasnya kami. Mereka bilang saya yang, sumpah ini hanya kata mereka dan saya tidak mengarang, cantik masih muda dan pintar, harusnya bisa cari pasangan yang lebih pantas. Yang normal, bahkan katanya. Sang mama bilang malu, apa kata keluarga nanti kalau kami menikah. Betapa saya menyianyiakan diri. Bahkan satu hal yang paling membuat saya sakit hati, kata ‘yang bisa lihat’ saya digunaguna! Astagfirullah.. Masih banyak lagi kata kata mereka yang sang adik ceritakan, dan btapa dia ikut sakit hati sampai melawan buat membela saya. Terima kasih ya sayang.

Tinggal saya termenung hingga berjamjam setelah percakapan tersebut. Mana yang katanya, ‘bukan masalah fisik!’ yang dulu dia bersikeras bilang pada saya? Dan ya Tuhan, apa hak mereka menyebut kata ‘normal’? Siapa manusia yang bisa memilih akan dilahirkan bagaimana? Mereka itu merasa sudah sesempurna apa? Pernahkah hatinya diberi kaca?
Malu? Saya tidak! Saya lebih malu atas sikap dan kata kata mereka. Meributkan tentang harus berpendidikan dan sgala macam, tapi mulut sendiri seperti tokoh di sinetron yang nampak tidak makan bangku sekolahan.. Dan guna guna? Mereka pikir kami manusia tidak beragama? Sini, kemarikan itu orang orang yang kau agung agungkan punya ‘kemampuan’ dan coba ’sembuhkan’ saya. Saya rasa ga akan ada beda apa apa. Betapa piciknya.. Ya Tuhan.. Saya sungguh sakit hati..

Tapi lalu saya bisa apa? Rasanya saya tidak mau apa apa. Saya tidak peduli. Saya bertahan dngan jalan saya, skalipun sang ibu bilang tidak akan ridho pada saya. Saya rasa Tuhan lebih bisa menilai. Saya akan jalan terus, sekalipun mereka bilang tidak pantas dan memalukan. Saya tidak.

Ah entah.. Sudahlah.. Saya menolak buat jadi orang yang banyak bicara kali ini, ya Tuhan. Saya rasa saya hanya perlu membuktikan. Waktulah satu satunya sahabat saya..

Hm..sudah terlalu malam, hampir pagi. Tolong ijinkan saya istirahat sebentar, ya Tuhan. Besok saya mau belajar masak di rumah mama kedua saya :-)

Comments (4)

BUAT APA?

Q : Ngapain kamu kuliah tinggi2 kalo ga KERJA?

Me : Errr.. Bukannya emang kuliah buat nyari ilmu? Aplikasinya ga cuma KERJA KANTORAN kan?

Q : Ngapain sih masih muda aja kok udah pengen kawin? Nikmatin masa muda.. Sapa tau sambil kerja ktemu yang terbaik!

Me : Im 24 and thats not young. Lagian kalau jodohnya udah ada emang kenapa? Kalo bisa mah dulu dari lulus SMA dah kawin..

Q : Kalo ada peluang bagus banget begini KENAPA NGGA diambil sih?

Me : Kalo emang ga mau, KENAPA HARUS? Bagus itu kata siapa?

………………………………………………..

Masih panjang bantahannya..

Tapi lebih panjang kemantapan hati ini..

Sudah tiba pada satu titik dimana tidak akan kubiarkan lagi kata kata menyakitiku..

Jadi apa masih ada keberatan? Sejuta bantahan? Ketidaksetujuan?

Aku siap.

Comments (6)

TERLALU MURAH!!! :D

Untitled

Critanya Jualan :D Di klik aja Gambarnya :D

Comments (12)

Thoughtful Lover Needed

thoughtful BF

Foto ini sudah lama saya ambil pada suatu hari waktu saya sedang berjalan jalan sendiri di BSM menikmati “me time”, dan iseng mampir ke satu gift shop “Rumah Bagus” di sana. Tiba tiba ada seorang cowok di hadapan saya yang sedang serius mengambil dan taruh lagi beberapa barang yang lucu lucu. Rasanya agak ga mungkin kalau dia membeli buat dirinya sendiri. Apalagi yang dilihatlihat barang barang bertuliskan kata kata such as I LOVE U dan sejenisnya. Saya rasa dia beli buat pasangannya.

Saya foto dia bukan karena saya naksir atau suka pada dia. Saya suka pada apa yang dia sedang lakukan. Saya suka dengan kenyataan, how very thoughtful he is, sekalipun mungkin dia beli kado buat pasangannya buat sogokan karena habis ketahuan selingkuh :p

Lalu saya teringat pada pasangan saya sendiri. Sepanjang hampir dua tahun ini, rasanya dia belum pernah memberi saya hadiah. Bahkan hal hal kecil remeh temeh, asal judulnya hadiah, dia sama sekali belum pernah kasih! Ya, saya tau pemasukan dan pengeluaran dia yang sebagian akhirnya disimpan oleh saya. Tapi entah kenapa, beda rasanya. Itu bukan hadiah. Itu memang kewajibannya karena dia tidak bisa menabung sendiri, maka dititip ke saya. Uangnya saya yang atur, karena dia ga bisa mengatur keuangannya sendiri. Tapi apakah itu hadiah? Kan bukan?

Kadang saya suka kesal, karena saya sendiri adalah orang yang suka memberi. Jadi saya merencanakan buat tidak memberi dia apa apa lagi yang bentuknya hadiah. Tapi susah! Karena entah kenapa, umumnya perempuan punya kepuasan dan kebutuhan buat memberi. Katanya kalau sayang sih demikian, tapi lalu kenapa pasangan saya tidak pernah ya? Apa buat dia ini bukan hal yang penting sama sekali? Sampai saya pernah menyindir bilang bahwa sekali kali saya ingin dikasih hadiah oleh dia, saat saya sedang iri pada teman atau adik saya yang rasanya sering sekali dapat ini itu dari pasangannya! Tapi tidak berpengaruh. Dia tetap begitu saja. Entah kenapa.

Tidak cukup sayang saya? Rasanya tidak yah. Mungkin memang hal ini benar benar tidak penting buat dia? Tapi kan saya perempuan biasa? Saya perlu juga merasa disanjung sewaktuwaktu… kalau sudah begini bawaannya jadi membandingkan dengan yang dulu dulu. Sekalipun bahkan cincin yang saya dapat dari mantan saya jual karena saya ga suka menyimpan satupun barang bersejarah :D

Syit! Kenapa yah… mungkin sedang mellow… atau sedang manja… Sedang kesal saja punya pasangan yang ga peka… skalipun saya bersyukur punya pasangan yang seperti dia. Aaaaaaaaarrrrrhhhhhhhhh trus kenapa harus ngeluh doooonggg???

Entah… karena harapan harapan yang ga terwujudkan mungkin… yang tau musti diikhlaskan karena bukan jadi tujuan utama… tapi yah… damn… Saya manusia biasa.

moa

Comments (13)

Menunggu Distraksi

Seorang teman dengan heboh dan berapiapinya di tengah obrolan santai beberapa perempuan 20 something bilang, “Gila banget yah SBY! Dia kok lepas tangan begitu aja sama masalah KPK! Pasti emang dia ada hubungannya juga tuh! Jadi ga mau ikut kena batunya! Heran!”

Dan obrolan berubah menjadi obrolan seputar politik.


Oleh perempuan perempuan yang sama sekali ga mengerti benar soal politik.

Well, okelah sebagai orang awam saya berpendapat bahwa memang benar saat ini KPK sedang dimakan oleh KPK versi DemoCrazy aka Koruptor Pemberantas KPK, karena memang terlihat rekayasa yang sedemikian rupa. Juga saya menganggap memang si Presiden benar benar punya sikap yang aneh, setelah beliau melakukan pernyataan sikap, yang terkesan tidak mau ikut ikutan sama sekali, padahal belio lah yang mustinya jadi penengah. Sampai juga saya punya pikiran bahwa toh KPK sendiri mungkin sebenarnya selama ini tebang pilih juga, tapi kebetulan kali ini mau tidak mau nyangkut ke pihak kepolisian sebagai pesakitan, sampai akhirnya timbul kepanikan. Well, semacam senjata makan tuan begitulah.

Tapi saya ga benar benar mengerti. Makanya tidak pernah terlalu bernapsu buat bahas. Buat tulis. Buat urun pendapat. Buat apa?

Apa sama sekali tidak peduli? Hm.. ga juga sih. Kenapa tidak cari tahu sendiri? Tidak ada kebutuhan untuk itu.

Ga cinta negara? Bodo Amat. Ga ada hubungannya. Hanya sedikit skeptis saja. Memang kalau ribut ribut jadi ada pengaruhnya? Memang kalau ada simpatisan sana sini jadi ada bedanya?

Jadi saat ini saya sedang menunggu ada berita heboh baru. Ada gosip spektakuler yang mencengangkan. Yang bikin fokus terpecah pindah. Supaya bahan obrolan cepat berganti.

Karena memang orang Indonesia cepat sekali kena distraksi.



Comments (7)

LIVE LIFE TO THE FULLEST!!!

Wow! Its been a month! Can i still call myself a blogger? :lol:

Entah kenapa, sekarang ini agak susah buat menemukan waktu buat diri sendiri menulis dengan nyaman, sebagaimana dulu waktu masih jaman sekolah, tiap malam sebelum tidur saya selalu menulis perasaan saya hari itu. Hal hal yang terjadi yang membekas buat saya. Pemikiran pemikiran waktu itu *yangkebanyakancowomelulu* padahal dulu menulisnya pakai pulpen di lembar kertas diary! Skarang sudah lebih mudah… malah tidak meluangkan waktu! Sigh…

SO! How’s life dear friends? Mine? So far so good…

Ceritain satu satu ya? This is my blog anyway… i write anything i want here! :mrgreen:

DSC00452Tentang pacar yang insya Allah calon suami. Alhamdulillah jalan rejekinya dia sedang dibukakan. Emang resikonya freelance gitu, sih ya? Kalau lagi kosong, ga ada banget kerjaan! Giliran lagi ada banyak, rada keteteran… dodol! :p Kasihan juga sama lelaki kecil itu. Bebannya dia banyak sekali, dan banyak juga yang harus dibuktikan dalam waktu yang sangat singkat ini. I know how hard that would be, darl. Tapi memang ga semua orang liat yang namanya proses kan ya? Tetap sabar dan ikhtiar juga berdoa ya… Akupun pasti berusaha buat selalu mengingat satu tujuan utama kita di depan sana :)

Sebetulnya kalau bicara soal sabar…. jadi bersambung kepada seorang IBU yang paling berpengaruh dalam hidup saya. Ibu saya tentunya. Yang paling banyak ikut campur dalam hidup saya. I appreciate it, for i know that she does that all only because she loves me. Tapi lama kelamaan mama saya kok jadi mirip ibu ibu menyebalkan di film “BECAUSE I SAID SO” ya? :p

Masih saja entah kenapa tidak merestui rencana pernikahan saya dan si pacar yang sebentar lagi akan kami wujudkan. Amien. Akhirnya kemarin-kemarin sempat ada pembicaraan dua hati antara kami. Awalnya karena saya bilang tidak tahan lagi tinggal di lingkaran setan dimana seorang ibu teriak teriak tiap hari dan kalimat favoritnya adalah punya anak perempuan ga ada gunanya!

Saya mencoba buat jadi pendengar saja. Yang hebatnya, saya sama sekali bisa menjaga nada suara untuk terdengar datar, sambil tetap berusaha mengungkapkan semua pendapat saya! Dia bilang dia tidak mau saya dengan si lelaki bukan karena fisik, tapi memangnya salah kalau dia mau saya punya pasangan tuh yang bisa mengontrol emosi saya, yang bisa mengimbangi saya, yang pantas diliat berdua saya. Well, that aint totally not about physical, huh? Lalu dia menolak dibilang sering marah marah, dia bilang seharian di depan komputer facebook dan chatting itu untuk mengontrol diri. Lalu dia membandingkan dirinya dengan ibu ibu lain yang lebih kasar dan lebih ga sabaran katanya, dan mengatakan betapa beruntungnya kami punya ibu seperti dirinya. Yes, mum. We’re so lucky to have you. Tapi yang mama suka lupa rasanya buat juga lihat betapa beruntungnya punya anak seperti kami, yang tidak kacau balau seperti banyak anak lain yang lebih bikin stres orang tuanya!

Lalu katanya saya yang belum dewasa boro boro bisa menikah! Beberes rumah saja jarang, masak ga bisa, hal hal kecil itu katanya. Hm… saya bukannya sama sekali ga pernah toh mam? Dalam seminggu kalau ada waktu pasti beberes. Masalah masak? Nanti pasti belajar dengan sendirinya. Itu naluriah rasanya. Skarang memang belum berasa butuh aja. Lalu, apa dewasa benar benar diukur hanya dari hal hal demikian menurut mama? Ah… susah sekali bicara dengan ibu yang satu ini. Lihatlah sisi lain anakmu mam…

Lalu saya katanya pernah mau bikin mama bahagia. Lulus aja waktu itu lama, skarang udah lulus ga mau kerja di kantoran. Mama sayang… lulus lama dulu bukan salah saya sendiri. There’s many factors. Toh akhirnya beres. Ga mau kerja kantoran lalu memangnya kenapa? Mama pikir mereka yang kerja di kantoran senang semua dengan apa yang mereka kerjakan? Aku sudah mencoba dan sama sekali ga suka, mau apa? Si yang punya kantor meminta buat balik, ada pegangan kalau aku mau, tapi kalau tidak mau yah mau gimana? I love what im doing right now. Tolong jangan menyumpahi. Jangan doakan yang jelek jelek selalu. Lihat saja nanti. Beri waktu dulu, bagaimana? Dan bukannya sama sekali sebagai anak tidak mau melihat orang tua bahagia, tapi apa tidak bisa ma belajar sedikit dari papa yang bisa bahagia dan merelakan anaknya jadi apapun yang mereka mau dan ikut bahagia sesederhana dengan bila si anak bahagia?

Lalu terakhir cuma bisa bilang, terserah! kamu mau menikah mau apa terserah! mama ga melarang! ga merestui!, dengan muka masam dan banjir air mata. Baiklah. Terserah padaku kan? Sama seperti waktu dikeluhkan tentang dirimu yang menuntut semua pacar anaknya buat sopan, tapi kadang disalami pamit pulang saja tidak mau buat keluar kamar mendatangi dia yang menghampiri buat salam, atau paling tidak melihat ke arahnya langsung. Lalu siapa yang tidak dewasa ma? Dengan semua penyangkalan dan ketidakmauan buat sedikitpun merasa ada kesalahan? Ah… ya sudahlah. Saya masih mencoba buat menemukan pola komunikasi yang baik dengan mama. So much as u told me you love me, i love u too mom!

Trus… kerjaan? Hahahah told u im a freelancer, rite? Its mostly free for me hahaha

Sbetulnya saya bisa saja kembali ke pekerjaan saya sebagai “HRD” di kantor yang sempat saya singgahi beberapa bulan itu, karena si bos nya menunggu saya balik kesana. Bahkan saya disuruh ikutan foto untuk bikin name tag padahal belum tahu kapan dan apakah akan saya kembali ke sana. Tapi hati sama sekali masih belum mau. Siaran di MGT juga masih kepending karena entah management nya yang mulai sama kacrutnya dengan radio saya yang dulu kah atau gimana. Saya benar benar sedang menikmati berbisnis disini! Saya lagi ga mau promosi. Tapi ya memangnya kenapa kalau saya suka melakukan hal ini? Setelah 4 bulan, akhirnya saya bulan depan akan dapat pendapatan sebulan yang lebih sedikit dari pendapatan saya sebulan bekerja di kantor dengan jam kerja yang jauh lebih sedikiT!

Ga cuma itu sih… minimal dua kali dalam sebulan saya masih bersentuhan dengan dunia psikologi. Alhamdulillah biro dimana saya pernah magang nampaknya juga percaya sekali bahwa saya mampu, jadi tiap kali ada proyek saya diajak :) Mau konseling hari Minggu ini. Yah… lumayan lah kalau yang ini mah buat biaya bersenangsenang hahaha

Overall, hidup saya layak buat disyukuri! Terlepas dari pertengkaran musiman dengan si pacar, kepincangan komunikasi dengan sang ibu, uang yang kadang banyak di luar kosong di dalam :lol: Saya betul betul sedang merasa bahwa hidup saya indah, dan sedang menanti banyak keindahan lainnya yang pasti akan datang karena sekarang saya sedang berusaha sekuatnya buat mendatangkannya! :)


Baiklah… posting buat sebulaneun nih :lol:


LIVE LIFE TO THE FULLEST, FELLAS!!!!

Comments (10)

Just So Updated

Aduh… sudah cukup lama juga ya saya ga mengisi apa apa di blog ini? Sayang sekali… turun banget kali yah semua ranking ranking annya? hahaha like i care! :p Ga kok… saya ga peduli…

Hari ini semuanya berbatik di kantor. Saya juga… kenapa? Mengikuti trend? Ngga juga.. sebagai orang yang pernah ikut ribut mencaci negara tetangga karena mencuri apa saja pusaka Indonesia, rasanya udah sewajarnya ya? Lagipula hari ini adalah hari terakhir di kantor dalam arti sebenarnya. Jadi gapapa kan tampil manis? :D

Sudah Oktober lagi dan saya memutuskan buat keluar dari pekerjaan yang bisa membuat saya gila dan stres, justru karena tidak melakukan apa apa. Weekend pun saya tinggalkan. Lepas hubungan skalian. Sudah. Slanjutnya? Well… saya sih masih menunggu itu radio yang katanya mau cepat mengeluarkan jadwal… sambil coba2 daftar di radio lain lagi…

Ga bisa terikat… apa saya maunya yang nyaman aja? Ah nggak juga… saya mau yang kehatian… ga minta terlalu banyak kan? Saya mau kerja keras? Tapi buat kerja kepaksa… itu aja… ada banget lho bedanya!

Oriflame saya juga Alhamdulillah makin kesini makin memperlihatkan hasilnya, dan itu cukup memuaskan :) masih akan terus berusaha buat berkembang tentunya! Ga mungkin dong berhenti begitu saja…

Impian di depan mata yang sebentar lagi akan kami jelang juga sudah menanti. Sudah terlalu banyak air mata yang tumpah dan usaha yang dikerahkan buat sampai kesana, maka kami tidak boleh gagal! Insya Allah Amien…

Mau jadi sales door to door ah :lol: anything for the big money, eh?

Haduh… sbetulnya saya ini mau cerita apa? Ga tau juga… pengen update blog aja hehehe

Masih Syawallan nih! Maaf lahir batin smuanya! :D

Comments (16)

Older Posts »