If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

MAMA. My Forever Love(Hate) Relationship.

According to Wikipedia, the very definition of love/hate relationship is:

A love–hate relationship is an interpersonal relationship involving simultaneous or alternating emotions of love and hate—something particularly common when emotions are intense.[1]

The term is used frequently in psychology, popular writing, and journalism. It can be applied to relationships with inanimate objects, or even concepts,[2][3] as well as those of aromantic nature or between siblings and parents/children.[4]

Ada banyak pendefinisian lain di situs berbeda. But I kinda agree with this one, so I’ll go with it to tell about my dear dear dear Mother.

Mama saya menikah di usia 24, dan memiliki saya tidak sampai setahun setelah pernikahannya. Berbeda dengan saya dan adik saya yang lama buat punya anak, mama sering bilang, mama mah ditoel aja hamil😆 Total, mama saya pernah hamil 6 kali. Tapi hanya ada kami berempat saat ini. 2 anak lainnya adalah kisah terlalu sedih buat dikenang dan semoga menjadi tabungan di akhirat nanti.

Sebagai anak pertama, 3,5 tahun saya memiliki mama hanya untuk diri sendiri. I barely had a memory of my childhood before the age of 5. Tiba-tiba punya adik, dan punya adik lagi, sampai ketika remaja pun punya adik bayi sekali lagi yang terpaut 15 tahun di bawah saya.

Sebagaimana banyak anak perempuan dan ibunya, hubungan saya dan mama penuh dengan drama. Kalau agak kurang kerjaan dan search di blog ini aja, ada banyak sekali kisah tentang saya, adik-adik dan mama. Not always a heartwarming one, but that’s just the way it is🙂

Saya tidak tahu sejak kapan saya menjadi berjarak dengan Mama. Ada beberapa memory yang masih saya ingat saat saya SD, mau ulangan dan mama membacakan soal-soal buat saya jawab dan betul semua. Saya ingat sebuah ekspresi bangga dari Mama. But I dont remember much detail about my relationship with Mom back then.

Sebagaimana banyak pasangan suami istri lainnya, my parents fought. Ada suatu adegan pertengkarang yang saya sering ingat, entah apa dan bagaimana, saya cuma ingat orang tua saya bertengkar, dan saya menatap di sisi tempat tidur, pura-pura memejamkan mata padahal terjaga. Sometimes I wish I would never do that to my baby, but occasionally me and my husband fights, in front of our babygirl. Betapa saya sering menyesal sesudahnya. Memeluk kencang si buah hati dan meminta maaf dari hati yang diucapkan dengan lisan, berharap yang baru saja terjadi tidak akan tertoreh selamanya di hatinya. Mungkin dulu, mama saya pun pernah melakukan hal yang sama.

Satu lagi memori sebelum menginjak usia 5 tahun, atau sudah, entahlah. Tapi saya sudah punya adik bayi pertama waktu itu, dan pertama kali mama tidak pulang ke rumah. Saya tidak tahu kenapa, dan saya menangis sambil bertanya kepada papa kemana mama dan adik bayi. Oh my, this is just exactly one thing I hate by writing about memories, when you suddenly remember it, you cry😥 Honestly, the water start to work now. Kemudian entah apakah di tahun yang sama atau tidak, saya tinggal bersama nenek di rumah Bude saya di Surabaya selama 1 tahun setengah. Kelas 2 SD. Kelas 3 SD pertengahan saya mulai sekolah di SD Strada kembali berkumpul lagi dengan keluarga tersayang.

Mungkin disitulah awal pertama ketidaklekatan saya dengan Mama. Apalagi dengan kenakalan saya semasa SD dan mama yang mungkin saat itu masih emosional dan mendidik dengan cara terbaik orang tua jaman dulu, dengan gesper dan sapu lidi😆 Kemudian saya menjauh selama 3 tahun di pesantren. Kadang tidak tahu apa yang terjadi di rumah. Drama yang hanya saya dengar dari jauh. Meskipun saya selalu ingat Mama yang rajin mengunjungi anak perempuannya sesering mungkin walaupun tidak punya mobil pribadi dan harus naik angkutan umum dari Bekasi ke Jakarta Selatan. Mama yang selalu mengusahakan bawa banyak oleh-oleh buat anaknya yang manja, yang pada waktu itu saya tidak tahu kalau mama sedang kesulitan keuangan. Damn. Trouble seeing. Cry me a river here😥

Memasuki masa SMA, makin jauhlah jarak di antara kami. Saya yang begitu keras kepala dan tidak mau diatur, emosional, sering mengamuk. Ga menambah baik keadaan ketika saya mulai kenal internet dan pacaran dengan orang yang kenal dari chatroom di Bandung, dan sering menghabiskan waktu pergi ke Bandung sendirian ketika itu. Naik bis dan spending weekend di Bandung ketemu sama pacar numpang tidur di rumah temannya bukanlah hal yang aneh. Kelas 1-2 SMA. Bayangkan gimana stressnya ibu saya? Tapi sama sekali ga masuk akal apapun alasan yang dilontarkan mama waktu itu tentang kenapa saya ga boleh pergi ke Bandung, pacaran sama orang yang ga jelas. Haha. Ga perlu khawatir, saya sukses menjaga keperawanan hingga setelah menikah sih.

Kemudian saya ga akan pernah lupa ketika diputusin sama pacar di Bandung dan menangis2 berhari-hari, ga mau makan sampai sempat kurus waktu SMA😆 dan mengurung diri dengerin lagu depresif di kamar. Mama mengajak saya mabal sekolah dan menemani ambil hadiah kuis di HardRock Radio waktu itu yang jauh aja dari rumah kami di Bekasi, dan menghabiskan lunch date yang membuat saya merasa lebih baik saat itu. Every time I remember this moment, saya merasa dicintai🙂

Oh iya, waktu SMA mama mengumpulkan saya dan teman-teman segang buat nonton bareng video seks Unpad – Itenas waktu itu😆 Daripada nyari tahu sendiri mungkin yaaaa. Saya juga memang sering sekali baca novel semi erotis mama jaman dulu. Dari mama jugalah saya punya kecintaan yang besar terhadap buku, yang mana kecintaan itu bergeser lalu hilang entah kemana seiring waktu, berganti kecintaan pada film seri dan film korea😆

Memasuki masa kuliah, hubungan saya dan mama regang seregang-regangnya. Saya 3 kali pacaran saat kuliah, dan semuanya ga ada yang direstui mama, terutama suami saat ini. For the sappy crazy details, please do go over my 2007-2010 posts. Maafkan bahasa alay yang digunakan disitu. Satu bukti nyata kalau saya berkembang sekarang😆

Puncaknya ketika mama tidak menghadiri pernikahan saya. Ah. Anak mana yang tidak patah sepatah-patahnya hati saat itu. Tapi yang saya luput buat sadari saat itu, mungkin mama pun luka seluka-lukanya ibu saat tidak hadir di pernikahan anaknya. But everything happened for a reason. Whatever that is, kami sudah melaluinya dan sekarang suami sudah bisa datang ke rumah mama tanpa diusir😆

Too many drama. So i wasnt just exaggerating when I said that this is such a Love/Hate relationship, right?

Tapi setelah punya anak, saya rasa. Setelah tinggal sendiri dan berpisah dari mama, 3 tahun belakangan ini, saya mulai lebih bisa memahami mama.

Saya mulai lebih bisa memahami kenapa mama bereaksi begini. Kenapa mama bersikap begitu. Meskipun kadang pemahaman datang belakangan dan pecah pertengkaran antara kami berdua. Tapi tidak seperti dulu. Mama sering melakukan silent treatment kalau kita sedang bertengkar. Bisa lebih dari 3 hari kami serumah tapi tidak saling mengucapkan kata apapun sama sekali. It was killing me inside. Tapi bertahan karena gengsi. Sekarang, sebagaimana pepatah bahwa buah jatuh mah ga akan jauh dari pohonnya, sama anak kecil kalau udah lagi pinter banget saya suka melakukan silent treatment. Sama anak kecil sih berhasil ya, karena mereka masih needy. PR banget buat merubah kebiasaan silent treatment-ing people yang akhirnya malah bikin kesel dan ga bikin keadaan jadi lebih baik juga😆

Sekarang kalau mama lagi marah-marah, kadang saya balas, tapi mulai lebih sering diemin aja deh. For i know, ga bakalan lama. Seperti hari ini aja, tadi sebelum berangkat pergi Mama sempet deh maki-maki saya dulu karena emang anaknya lelet dan suka telat kalo ngapa-ngapain😆 My bad juga sih.. Jadi diemin ajaaa.. Ga usah diolo juga malah panjang. Bener aja tuh akhirnya biasa lagi sendiri😆

Banyak kepribadian buruk mama yang menurun ke saya. Kalau marah meledak-ledak pengennya sampai puas. Gampang banget tersinggung sama kalimat orang. Mikir pendek. Ngomong seenaknya. Masih ada sih hal lain yang saya suka sebel dari Mama, semoga ga jadi trait buat saya, tapi kayanya makin kesini saya makin mirip mama. Mama mungkin mengelak dan ga mau dibilang kalau mama itu ina itu. Saya sendiri humbly mengakui bahwa mau mama menyebalkan seperti itu, saya ga kalah lebih nyebelinnya dan makin kesini sifat jelek mama banyak yang menurun ke saya, semoga ga semuanya😆

Satu contoh nyata, saya sering deh bilang sama anak, “Yaudah kalau ga mau nurut sama Bunda pergi aja deh Bici deh bunda ga mau kasih tau lagi”. Ke anak blom 3 taun😆 How immature. Tapi mungkin itu karena Mama saya dulu seriiiiiiiing banget, bahkan mungkin kalimat favoritnya, “Yaudah kalo ga mau dengerin mama pergi aja dari rumah mama! Masih tinggal di rumah mama ya turutin apa kata mama!”. Kadang tiap saya mengucapkan kalimat yang mirip-mirip saya suka istigfar, jangan sampe keterusan. Nanti kebayang gimana drama berulang saat anak saya remaja. Naudzubillah min dzalik.

Kalimat favorit mama saya saat ini setelah saya punya anak:

“Anak kamu masih kecil aja udah pinter banget. Liat nanti makin gede makin pinter dia, kaya kamu. Biar kamu rasain gimana rasanya punya anak kaya kamu. NGERI! Tapi yang namanya karma itu mah ada. Nanti kamu rasain sendiri gimana rasanya mama punya anak kaya kamu”.

OMG MOTHER!!!!😆

Tapi sebagaimana saya sering berpikir bahwa semoga anak saya akan mirip sama saya di hal yang baik-baik aja dan seminimal mungkin mengikuti keburukan emaknya, saya juga punya banyak mewarisi sisi terbaik dari Mama.

I never do bullshit. Mama saya ga pernah ngomong di depan A di belakang B. Saya juga ga pernah.

Mama saya ga peduli sama orang lain yang sebel sama dia tanpa alasan. Mari kita sebut haters. Saya juga ngga. Mungkin ga punya sih karena bukan artis. Mama kan lebih gaol😆

On that accoount, Mama saya gampang banget bergaul sama orang. Sekarang di usianya yang Oma-oma (bukan usia itu mah ya😆 ) Mama makin banyak bersosialisasi dan punya banyak teman dari kalangan manapun. Saya ga segitunya kaya mama sih. Cuma minimal dari mama saya belajar ga milih-milih temen dan bergaul sama siapa aja asal kalau ada hal buruk yang dilakukan teman, ga usah ikutan.

Satu hal yang selalu juga saya ingat dari mama, my favorite piece of Mom’s wisdom, adalah betapa mama sering kasih tau ke kami anak-anaknya:

“Berbuat baik itu sama siapa aja. Sekecil apapun. Mama selalu berusaha buat ngasih ke orang lain kalau punya. Karena balasan mungkin ga dateng saat itu juga, mungkin ga langsung buat mama, tapi manfaatnya buat kalian anak-anak mama. Begitu udah cukup buat mama.”

Banyak. Terlalu banyak dan lama dan panjang kalau harus cerita tentang mama dan love/hate relationship nya kami. But nevertheless, she is my one true love, and the only one who I know will always be there for me. Ih najis, udah mau beres aja nangis lagi😆

Happy birthday, Mommy dearest. I love you just the most

12038236_10205990730441860_904888789270748355_n

btw, quote ini gw bikin sendiri. eh dipake bule. trus dibikin meme. udah aja jadi kaya punya orang. no. i wrote this one myself firsto_O

 

21 comments on “MAMA. My Forever Love(Hate) Relationship.

  1. nirmalanurfauzia
    September 23, 2016

    Seru love-hate relationshipnya, baca ini jadi kangen mama sendiri🙂

  2. bioeti
    September 23, 2016

    Sampai ikutan berurai, air mata dong yaaaa… bukan air liur.
    Jadi inget, ortu pernah berantem. Dan sebagai anak tengah yang cuek dan mawa karep sorangan, beliau kadang sering curhat ke saya. Kalau lagi berantem suka digodain… “adeeeuh lagi gencatan senjata yaaaa…”
    Mamah suka bilang,”dasar budak teu uyahan…”
    Aku bales, “nu nga-uyahan na saha?”
    Ampyun yaaaa…
    Ma’afkan daku mamah….

  3. marini
    September 23, 2016

    Wuaaaa..:'(
    Tapi ya bunda, menurut ien penuh intrik itu terkadang “menyenangkan”. Ada yang dikenang gitu pas lagi harmonis buat diketawain hihi.
    Happy birthday oma blissy…

  4. phadliharahap
    September 23, 2016

    Berbeda denganku, anak nakal tapi paling disayangi. Kakak dan adikku paling males kalo ada masalah si anak nakal selalu dibelain. hihihhi

  5. natazya
    September 23, 2016

    Huh. Aku boro2 dibelain 😔😔

  6. natazya
    September 23, 2016

    Hahahaha gut teteh! Daripada ikutan stress 😝

  7. natazya
    September 23, 2016

    Emang jauh dari mama ya teh? Abis nikah kisah kota?

  8. natazya
    September 23, 2016

    Pokonya mah dibikin buku juga bisa harusnya.. Eh apa ngga sinetron stripping lah 😝

  9. nirmalanurfauzia
    September 23, 2016

    Rumahnya sih deketan beda komplek doang, tapi belum sempet mampir udah 2 mingguan ini. Makanya abis baca ini jadi kangen.
    Btw memang ya setelah jadi orangtua barulah sedikit paham sama orangtua sendiri. Semoga kelak anak2 kita ga sebandel ibunya😀

  10. natazya
    September 23, 2016

    Aamiin… Kalo kata mama, “anak kamu mah udah kliatan pasti lebih Pinter lebih nakal drpd kamu” 😭😭😭 meni hayang puas hahaha.
    Sama teh aku jg beda komplek aj.. Mau ga mampir minimal skali dalem seminggu diambekin hahaha

  11. tatats
    September 23, 2016

    Iya yah…sama mamah saya juga (dulu) begitu. Dan kalo lagi dimarahin sayapun dalam hati nyumpah-nyumpah..kalo nanti punya anak, jangan sampe saya kayak mamah. Tapi ya gtu..rasanya makin kesini saya makin mirip mamah..haha..karma does exist ya.. Semoga sih yang menurut saya kuramg baik,.ga saya warisin deh dari mamah..

  12. natazya
    September 23, 2016

    Iya kan ya.. Mau ga mau produk asuhan ibu jadinya kaya ibu hihi

  13. Mia
    September 24, 2016

    Duh ini cerita bikin haru biru huhuhu
    Nanti aku belum tau kalau jadi ibu apakah aku produk jiplakan bapak aku atau ibu aku

  14. anil
    September 25, 2016

    baper bacanya yampon~

  15. bloggergunung
    September 26, 2016

    Pelajaran dari emak buat emak nih…

  16. claudeckenni
    September 26, 2016

    Ypu have a great mother, you know? You should cherish your time together more.

  17. Pangki Pangluar
    September 27, 2016

    sedih juga nih cerita ….

  18. Srie
    September 27, 2016

    True story yaa…jujur banget ceritanya…sukses terus ya Tasya…

  19. natazya
    October 6, 2016

    I know😀 will do😉

  20. Ade Anita
    October 21, 2016

    Wahhh..panjang penjelasannya. Sebagian setuju sebagian masih hmmm… Tapi nice story.

  21. natazya
    October 21, 2016

    ya jangan hmmm atuh heheheu da ini mah bukan pelajaran hahaha true story😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: