If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

Kisah (Bukan) Kasih Di Sekolah

Malam takbiran Idul Adha. Baru selesai ngelonin anak. Semacam ritual, tengah malam saya suka beberes rumah tiap malam takbir sambil menunggu suami pulang dari masjid setiap malam takbiran, dan melakukan kegiatan yang mewajibkan mandi pagi sebelum subuhan nanti😆

Mengambil sedikit waktu untuk sejenak bercerita. Malam takbiran selalu membuat saya mellow dan bahagia. Ada kalanya ia membawa tangis, tapi sekarang tidak lagi. Kenangan demi kenangan, yang malam ini kembali ke masa-masa sekolah. Bukan apa-apa, sudah deadline minggu bertema di Gerakan #1Minggu1Artikel dan saya belum sama sekali terpikir mau menceritakan apa. Alasan saja itu last minute person. Atau memang iya ya, di saat akhir seperti ini otak bekerja lebih baik.

Begitu pula jaman sekolah dulu. SD, SMP, SMA. Selalu ada di rangking 10 besar. Masa SD setiap kenaikan kelas dapat hadiah dari Dunkin Donut untuk ranking 1-10. Padahal semua hanyalah hasil SKS alias sistem kebut semalam rasanya. Ga heran, menua, saya merasa makin bodoh. Menguap semua itu ilmu yang didapat pada masa sekolah. Ah, tapi ternyata saya ga butuh semua bidang keilmuan tersebut kok. Saya cuma perlu sekolah lagi, sekolah kehidupan, sekolah menjadi seorang ibu terbaik saja buat anak gadis yang belum masuk masa sekolah🙂

Membaca banyak tulisan lain tentang mereka yang punya bittersweet memories saat sekolah dulu, membuat saya iri. Rasanya saya tidak punya kenangan yang terlalu indah, maupun terlalu pedih. Kalaupun ada, semua kenangan tersebut benar-benar hanya sebuah kisah lalu yang tidak bahkan pernah hinggap di kepala, kecuali dikorek seperti malam ini, sekedar demi mengingat apa yang membuat saya terikat dengan masa sekolah.

I have such an embarrassing past. Ah, kasian sekali orang tua saya jaman saya sekolah. Nakalnya ga karu-karuan. Sekalipun ga sampai ke narkoba apalagi seks bebas, saya rasa tahun ke tahun masa sekolah tidak hentinya saya menorehkan luka dan malu di hati orang tua. Didn’t I told you that I’m not a fan of the past?

SD, berpindah 3 sekolah dan hanya di kelas 1 SD lah sekalikalinya merasakan bersekolah di sekolah negeri. Prestasi seperti dibilang, tidak pernah lepas dari 10 besar. Dari kelas 3 sampai 6 di SD STRADA, salah satu sekolah katolik yang cukup bergengsi di Bekasi.

Paling tidak di masa yang cukup dini, di usia sekolah dasar ini, saya sudah mulai belajar mengenai keberagaman. Tentang bagaimana menjadi minoritas, bukan mayoritas. Belajar bahwa menghormati ga selalu berarti harus dimanjakan. Belajar bahwa belajar agama memang bukan hanya di sekolah. Mana ada sih murid sekolah katolik yang belajar pelajaran agama Islam di sekolah?

Lalu apa yang pahit dari masa SD? Haha. Saya. Saya yang salah bergaul, dan mulai mengenal godaan dunia di usia yang terlalu muda.

Pertama kali di kelas 6 lah saya mulai terlibat skandal. Sexwise? Ya gak lah giling! I stole. I shoplift. Berteman dengan seorang anak bernama W, meningkatkan kebiasaan nilep receh orang tua ke level baru. Di usia 11 tahun, saya pernah digeledah dan ditelanjangi *halah ga deng* di ruang security sebuah toko buku yang belakangan mulai tutup dimana-mana. Ga berhenti disitu, kasus dengan guru pun ada.

Ah.. menyedihkan sekali buat diingat. Bukan buat saya. Tapi betapa di usia muda saya sudah bisa membuat orang tua bersedih sedemikian rupa😥 Saya pun ga akan lupa rasanya ketika seorang teman sekelas membully setelah kasus saya jadi gossip umum. But i never did bow down to any bullies in my life. I conquer.

Hm.. this is kinda like the very first time i shared about my crazy elementary school’s scandal😆 Ini namanya buka aib sendiri bukan sih? Ah rasanya bukan. I dont think of this as an “aib”, anyway. This is something that happened once in my life and maybe or maybe not, Im gonna tell my daughter someday. Kalaupun tidak, ah anakku.. mana bisa kamu menipu ibumu yang mantan tukang tipu?😆

Kejadian mengerikan di penutup usia SD saya mungkin membuat orang tua saya merasa takut tidak bisa mengontrol saya, dan mengirim saya ke pesantren. I dont blame them today, I’d very much thank them. But back then, I resent them.

Seorang gadis praremaja merasa dibuang oleh orang tuanya. Maka tahun pertama saya di pesantren diisi dengan psikosomatis tiada henti yang harus membuat saya pulang pergi pesantren buat ke dokter. Ga jauh sih.. pesantrennya pun sekarang jadi pesantren anak artis😆 Pernah denger Darunnajah Boarding School di Jakarta Selatan? Dulu sebelum sama sekali ada cabangnya, saya diinapkan 3 tahun disana oleh orang tua.

As you can imagine, akibat merasa dibuang tersebut, betapa banyak drama yang saya ciptakan sendiri. Yang bila mengingatnya sekarang membawa penyesalah teramat dalam, dan rasa bersalah juga rasa makin saya pada mama saya. Oma Anis, ay lop yu, thou i never said that enuff. Betapa seorang ibu mengorbankan segalanya buat anak. Naik bis bawa-bawa anak balita buat jenguk anak sulungnya. Ga punya uang tapi membawakan banyak oleh-oleh buat anak manjanya. Ih, nangis niiiiiiiiihhh😥

Tahun yang terbuang cuma buat coping yang terlampau lamban, membuat saya terlambat bonding dengan teman-teman dan pondok tercinta, sampai terlanjur memutuskan buat keluar setelah menyelesaikan masa MTS alias SMP, dan ingin mencari pengalaman sekolah di sekolah biasa. Terlalu banyak juga kisah yang terjadi dalam 3 tahun yang terlalu berwarna dan emosional. Im gonna need a whole day to share it. And yet, another scandal. Later ya… later..🙂

Memasuki masa SMA, saya cumalah seorang remaja perempuan yang kebanyakan baca cerita romantis, cerpen majalah Aneka YES-Gadis-Kawanku yang isinya roman picisan, dan film romantis pertama seperti Never Been Kiss, Titanic, dan teman-temannya yang terlalu manis di era 90an. Maka jangan salahkan kalau saya berakhir menjadi seorang hopeless romantic yang selalu lupa pakai kepala dan sok -sok-an penuh cinta.

Masa SMA yang tidak berwarna kalau bukan karena mereka, deretan para mantan😆 Saya sama sekali ga semangat sekolah dulu. Ke sekolah bawa walkman, dan asiknya pakai kerudung adalah bisa memasukkan earphone tanpa ketahuan oleh guru. Resiko dianggap budeg sebanding dengan kebebasan mendengarkan lagu-lagu dari Mustang FM, Prambors dan Hard Rock, yang masih jadi radio favorit saya sampai hari ini terutama hari rabu sepanjang hari Mustang Wednesday I’m In Love.

Gadis bodoh yang isinya impian romantis yang sumpah jauh dari realistis. Terjebak juga di dunia maya lovemail.com, MIRC, dan YM. Saya hampir ga punya memory tidak terlupakan semasa SMA selain kisah cinta penuh noda *ew* selain menjadi ketua KIR dan Sekretaris Rohis. Berkesan sekali di bagian mengatur sendiri sebuah Study Tour, merancang budget, destinasi, akomodasi dsb tanpa bantuan guru pendamping sama sekali. Merasa super keren dan seru saat itu! Padahal akhirnya dari study tour itu tidak mempelajari apa-apa sama sekali selain bahwa pergi bersama teman-teman segeng seperjuangan perjalanan yang kita atur sendiri itu terlalu menyenangkan! Sementara yang berkesan dari Rohis adalah betapa sering kita bikin PESTA alias pesantren Sabtu Minggu yang mana lebih mirip acara girls night out di sekolah😆

SMA saya di Bekasi sekarang jadi salah satu sekolah favorit. SMUI PB Sudirman. Padahal jaman saya, dimana saya adalah angkatan ketiga, penuh dengan kekacauan tapi menghadirkan sebuah keakraban tidak tergantikan. Dimana jajaran guru pun ada yang tidak profesional dan tidak kompeten memegang jabatannya, they made my days back then. Apalagi yang lebih diharapkan seorang remaja SMA selain sekolah yang bebas dan kurang aturan yang mengikat sehingga sering sekali bisa kabur dari sekolah sebelum jam pulang sekolah yang waktu itu rasanya kesorean? But dont get me wrong, predikat 5 besar ga pernah lepas. Dengan sistem SKS tadi haha. Bahkan NEM saya dulu tertinggi kedua di sekolah. Kinda like a big fish in a small pond.

Lalu de geng masa SMA yang tinggal kenangan.. Tapi 2 dari mereka menjadi sahabat terbaik saya hingga hari ini🙂

Sampai disini, saya merasakan lagi gelombang penyesalan besar pada orang tua. Betapa saya menyia-nyiakan waktu dan uang mereka untuk mendidik saya sebaik-baiknya.

Kuliah tidak pernah saya masukkan ke dalam kategori sekolah. Sebagai mahasiswi psikologi, pada akhirnya kuliah adalah semacam berobat jalan buat saya pribadi. Klise, kebanyakan mahasiswa psikologi bakal bilang gitu. But I was a troubled one. Masa dimana saya merasa lebih mengenal diri sendiri dan lebih mencintai diri sendiri dan pada akhirnya punya self image yang baik🙂

Lalu bagaimana dengan masa sekolah? Jadi dari cerita random di atas, apakah sekolah sama sekali ga mendidik saya apapun yang membentuk saya sebagai seorang manusia hari ini?

Tentu tidak! Masa sekolah memberi sebuah pelajaran penting yang baru saya mengerti istilahnya kemudian hari di masa perkuliahan.

Saya belajar tentang coping strategy pada saat teman sekelas tahu tentang skandal kleptomania saya waktu SD. Saya belajar lagi ketika masuk pesantren dan mendapati sebuah hidup baru yang berbeda dari biasanya. Saya gagal ketika sebuah konflik yang membuat saya dealing with daddy issue  sepanjang hidup dimulai. Saya menyadari butuh bertahun-tahun untuk berdamai dengan hal tersebut.

Saya belajar bahwa peer pressure memang adalah hal yang sangat berat pada masanya. Hell.. sampai usia dewasa pun banyak yang masih kalah pada peer pressure dan gagal menjadi diri sendiri, tergerus pergaulan yang masih tidak juga disadari dan menyalahkannya pada gaya hidup yang memang sudah demikian.

Paling utama, di usia sekolahlah saya melatih sebuah life skill yang terpakai seumur hidup hingga hari ini. Saya belajar menggunakan persona alias topeng sosial yang sedikit sekali yang tahu ada siapa di balik semua topeng yang tiap hari dipakai hanya untuk bisa diterima oleh lingkungan. Bahwa saya yang sejatinya hanyalah seorang introvert bisa dianggap sebagai extrovert. Im not. Really.

Saya belajar bahwa membentuk sebuah ideal self image itu ternyata PR yang ga mudah tanpa adanya role model yang baik. Beberapa tahun dalam hidup, saya sukses membenci cermin dan benci pada bayangan saya sendiri. Padahal saya jauh lebih seksi kece dan pastinya langsing daripada hari ini!😆 Belajar berbohong dan mengarang cerita, sebagai katarsis dari sebuah kehidupan yang terasa perih, terutama pada saat tidak merasa punya siapapun untuk bercerita. Belajar menjadi kuat.

Masa sekolah, ketika dikenang, ternyata memberi sebuah pelajaran yang jauh lebih berharga daripada apapun. Pelajaran untuk bisa menjadi manusia yang lebih baik, manusia yang hari ini sudah menjadi seorang ibu. Yang mengharapkan sang anak tidak melalui likaliku drama dan skandal cuma buat berproses menjadi seorang yang bisa mencintai diri sendiri. Yang (semoga) akan selalu ingat bahwa prestasi semasa sekolah itu sama sekali bukan segalanya. Dont push too hard. Buat hadir dalam masa galau tersebut, adalah PR terpenting. Semoga kelak anaknya mengijinkan Bundanya menyertai transisi hidupnya dari masa kanak-kanak, praremaja, remaja lalu kemudian jadi dewasa muda.

Lalu anaknya barusan terbangun dan ngigo ngajakin emaknya mainan tangan entah apa maksudnya😆 Kode bahwa sudah waktunya kembali pulang dari memory lane yang agak gelap dan sesak *sok suram loe Nat! 

Betapa jarang aku merindukan masa mudaku

selain rasa sesak dan rindu pada rumah masa lalu

menolak mengulang kembali semua yang sudah terlewati

maka aku hidup untuk hari ini dan esok hari

bukan berarti lebih indah dari yang sudah

tapi selalu sebuah janji yang tidak pasti berbumbu mimpi

lebih membawa semangat hidup sebelum mati nanti

5 comments on “Kisah (Bukan) Kasih Di Sekolah

  1. tatats
    September 11, 2016

    Halo Mbak Nat,

    Suka baca ceritanya🙂..Setuju….itu bukan aib, tapi kisah masa lalu untuk diintrospeksi agar tidak terulang sama anak.

  2. warm
    September 12, 2016

    di alinea terakhir tulisanmu, (sebelum kalimat entahlah ber rata kanan itu), saya menghela napas cukup panjang, ternyata kisah hidupku, masih belum ada apa2nya dibanding dirimu..

    tiap orang sepertinya memang punya sisi hidup yang cuma dirinya sendiri yang tahu, dan coping? saya lambatnya lebih ampun2an dalam hal itu

  3. phadliharahap
    September 12, 2016

    Aku senang membacanya. mengalir… Anaknya semoga kayak emaknya

  4. emaknyashira
    September 13, 2016

    strada mawar natz? lah gak jauh dari rumah gue itu. bentar lanjut baca postingan lagi, ini teralihkan gegara mikir kita waktu kecil deketan rumahnya.

  5. emaknyashira
    September 13, 2016

    Yah peer pressure itu isu banget emang, buktinya sampai dewasa masih banyak yang merasa ditekan sana-sini dengan berbagai pemikiran (asi, non asi, working not working thingy) yang sebenernya gak perlu di debatkan.
    Gue baca postingan ini sambil sesekali mikir dan berdo’a, yah semoga kita bisa menjadi orang tua yang terbaik untuk anak masing-masing.

    Bok, PB Sudirman itu bukannya Cijantung- Jakarta Timur yah? Kok jadi Bekasi? Hihihihii, deket sama SMA gue juga ituuh, gue di SMA 39.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 11, 2016 by in curcol misah misuh, sekolah, temans temans and tagged , , , , .

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: