If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

#5BukuDalamHidupku (5) Bukan Sekedar Buku, Ini Hatiku

Selesai juga. Menulis #5BukuDalamHidupku ternyata jadi hal yang menyenangkan, yang umunya terburu-buru dilakukan sebelum menutup hari di jam 12, karena management waktu yang selalu buruk😀 Anyway, tahu ada proyek menulis ini pun dari news feed facebook seorang teman yang bikin penasaran, di 40 menit menjelang jam 12 malam hari pertama😆

Semua buku yang saya bagi benar-benar buku-buku yang pertama terlintas di kepala ketika memikirkan tentang #5BukuDalamHidupku. Buku-buku yang membacanya tidak cukup satu kali. Buku-buku yang sudah sekian lama sejak terakhir dibaca, tetapi memang tidak akan pernah terlupa. Tepat sekali rasanya jika menutup rangkaian 5 buku yang punya dampak besar dalam hidup, dengan sebuah buku yang bukan sekedar buku. Hati yang disajikan dalam bentuk kata-kata yang akhirnya dibukukan. Dari saya, seorang istri, untuk sang suami, lelakiku.  Kepada, Lelakiku.

Awalnya sama sekali ga ada niat untuk menulis buku, memang. Ada, tapi bukan yang seperti ini yang saya inginkan. Bagaimanapun, seumur hidup saya selalu punya 3 cita-cita. Penyiar, Penulis dan Psikologi. Penyiar, done. Penulis, memang bukan penulis buku apalagi terkenal, tapi jadi penulis blog dan notes facebook sudah cukup buat saya saat ini😀 Psikolog? Yah.. yang ini memang mulai dadah-dadah sih😦 Di awal tahun 2011 waktu itu ada proyek menulis yang pertama saya rajin buat ikuti, judulnya #30HariMenulisSuratCinta yang mana sepertinya dulu booming sekali di twitter. Segala yang berbau cinta ga pernah gagal menarik hati saya😀 Jadi, ikutan lah… Menulis selama 30 hari, rangkaian kalimat buat satu orang saja, the object of my affection, sang suami. Bukan sekedar rayuan gombal dan kata-kata manis, tapi sebagaimana sebuah surat, tertuliskan semuanya. Perasaan sayang, cemburu, sedih, kecewa, ketidakpuasan, terima kasih, ketakutan, kecemasan, harapan. Cerita, mimpi, rahasia, yang sepertinya susah buat diucapkan langsung ke muka seorang suami, lebih mudah mengalir dalam bentuk “surat tertulis”.

Lalu mendekati tanggal 13 Maret 2011, ulang tahun pernikahan pertama kami, saya putuskan untuk membukukannya secara indie. Bukan untuk jualan, tetapi sebagai buku untuk hadiah ulang tahun pernikahan pertama untuk seorang suami yang sangat saya cintai. Apalagi tahun pertama pernikahan kami memang tahun yang berat dan penuh cobaan, menyusul pernikahan yang memang tidak disetujui, apalagi dihadiri, oleh ibu saya. Tahun yang penuh air mata. Tapi lelaki kecil saya selalu ada dan menemani. Tidak terpikirkan sebuah hadiah yang lebih bisa untuk mengungkapkan semua yang selama ini dirasa, selain sebuah buku yang memang ditujukan padanya, berbicara langsung kepadanya melalui tulisan, karena sang istri kadang terlalu pengecut dan kadang gengsi buat mengungkapkan semuanya.

kl

Karena tidak selamanya segala yang tersembunyi di dalam hati, tersangkut di ujung lidah, berlari-lari di pojok kepala, bisa dengan mudah terucapkan dengan bantuan pita suara sebagai kata-kata.
Sebagai perempuan, apalagi istri, kadang ada saja hal yang akhirnya hanya bisa lagi dan lagi terpendam. Padahal betapa ingin buat diungkapkan. Betapa ingin buat dipahami. 
Maka tertulislah lembar demi lembar surat cinta dari seorang perempuan, seorang istri, bagi sang lelaki, sang suami. Tentang harapan, tentang kecewa, tentang cemburu, tentang percaya, tentang impian masa depan, tentang komitmen. Ah ya, pastinya semuanya tentang CINTA.
Bacalah, dan mungkin akan Anda temukan kata-kata yang selama ini ingin diungkap. Atau akan menemukan kata-kata yang perempuanmu ingin ungkap. Tandai, beri garis bawah, dan beri pada pasangan, buat mewakilimu ungkapkan segalanya!
Karena pada akhirnya, komunikasi yang lancar, adalah kunci sebuah hubungan yang berhasil

Kalimat di atas adalah kalimat yang dijadikan kalimat “jualan” di website penerbitan indie yang saya pilih. Pada akhirnya ada beberapa teman yang mungkin baik hati, penasaran atau kasihan, tahu saya ceritanya menerbitkan buku, maka membeli, menyisihkan recehan mereka😆 Ga masalah, karena pada akhirnya semua surat yang tertulis adalah dari seorang perempuan. Seorang perempuan yang bisa saja bukan saya, untuk seorang lelaki yang bukan suami saya. Yang sudah menikah, yang masih berharap dinikahi, yang sudah mulai bosan dengan kehidupan menikah yang dijalani.

Beberapa sahabat yang membaca bergosip setelahnya saat bertemu langsung atau chatting. Dengan heboh khas perempuan saat bergosip, menyatakan bahwa beberapa hal yang tertulis sama dengan yang mereka alami. Betapa dalam rumah tangga, dan sebagian mengatakan tentang kebahagiaan, uang memang bukan segalanya, tapi perihal uang adalah hal yang sangat penting dan perlu untuk dibahas. Bahwa meskipun menikah berarti 2 keluarga yang menikah, kadang-kadang ada beberapa hal yang cukup berdua saja, tidak perlu ada yang lain yang ikut repot menggerecoki. Bahwa kadang kita harus belajar buat melihat bahwa rumput di rumah yang ditinggali, sudah cukup hijau dan tidak perlu tergoda dengan rumput tetangga yang terlihat lebih segar dan subur. Bahwa cemburu, khawatir dan takut tidak akan hilang begitu saja dengan janji pernikahan yang sudah terucap, dan rasa terima kasih kepada pasangan hidup kadang lupa buat diucapkan. Beberapa bercerita kalau mereka menyodorkan bukunya kepada pasangan masing-masing, supaya dibaca di bagian yang mereka tandai. Bukan lagi saya yang sedang berbicara, tapi mereka, kepada lelaki mereka, melalui deretan kata yang ada di dalam sebuah buku yang sama sekali tidak ditulis dengan niat apapun selain ikutan proyek menulis surat cinta🙂

Seperti yang tertulis di header blog saya, something are better left written. Lebih daripada itu, beberapa hal memang lebih mudah disampaikan dengan tulisan. Siapa yang kalau berantem bisa bawel banget di BBM atau di SMS dengan rentetan tanda seru (!!!) tapi diam seribu bahasa dengan muka tertekuk saat di depan mata? Saya😆 Siapa yang sedang merasa sangat cinta, sangat bersyukur, sangat bahagia memiliki seorang pasangan hidup yang terasa begitu sempurna diberikan Tuhan tetapi tidak tahu cara bagaimana supaya seseorang itu tahu? Maka menuliskannya menjadi sebuah sarana paling mudah buat dilakukan. Tidak bisa menemukan rangkaian kalimat yang tepat buat diucapkan? Boleh kok mencontek surat di buku Kepada Lelakiku ini buat lelakimu🙂 Ah iya, mungkin lelaki juga perlu membaca buat mengintip ke dalam kepala seorang perempuan, yang mana tahu sesekian persennya ternyata punya cetakan yang sama dengan pasangannya sendiri😆

kepada lelakiku 2-page-003

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 16, 2013 by in curcol misah misuh and tagged , .

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: