If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

#5BukuDalamHidupku (3) Norwegian Woods. Cinta, Mati, Hidup.

Adakah yang akan mencintaiku bila aku ingin egois sepertiku?

“Kamu merasa tidak mereka cintai?’ dia memiringkan kepalanya dan melihat mukaku, lalu dia mengangguk,

“Antara ‘tidak cukup’ dan ‘sama sekali tidak cukup’. Aku selalu kelaparan. Sekali saja, aku ingin bisa mengatakan ‘sudah, perutku sudah kenyang, terima kasih’. Cukup sekali saja, sekali saja….Karena itu aku berpikir seperti ini. Aku akan mencari dan mendapatkan orang yang sepanjang tahun bisa mencintaiku seratus persen dengan tanganku sendiri. Ketika aku di kelas 5 atau 6 SD, aku bertekad seperti itu”

“Wah hebat kamu,” kataku terkagum-kagum. “Lalu bagaimana? Berhasil?”

“Sulit juga,” kata Midori. Lalu ia berpikir sambil melihat asap sebentar. “Mungkin karena aku terlalu lama menunggu, aku jadi mencari-cari sesuatu yang betul-betul sempurna. Karena itu, merepotkan juga”

“Cinta yang sempurna?”

“Bukan!Kalau sampai kesana aku juga tak mencarinya. Yang kucari hanyalah bisa bersikap egois. Egoisme yang sempurna. Misalnya, sekarang aku berkata begini ‘aku ingin makan sepotong kue stroberi’, dan kamu tetap membiarkan aku dengan kegiatanku lalu berlari pergi untuk membeli kue itu. Lalu ketika kembali dengan napas tersengal-sengal, kamu berkata sambil menyodorkan kue itu ‘Ini Midori, kue stroberinya sudah aku beli’. tetapi aku akan berkata ‘Huh..aku jadi tak ingin makan kue seperti ini’, lalu membuangnya dari jendela. Yang kucari adalah keegoisan seperti itu.”

“Sepertinya sama sekali tak ada hubungannya dengan cinta,” kataku sedikit kaget.

“Ada. Kamu tak tahu saja,” katanya. “Bagi perempuan, kadang-kadang hal seperti itu sangat penting.”

“Melempar kue dari jendela itu?”

“Ya, aku ingin pria pasanganku mengatakan ‘Maaf Midori, memang aku yang salah. Semestinya aku sudah bisa menduga bahwa kamu pasti tidak jadi mau makan kue stroberi. Aku memang tolol dan bodoh bagaikan tahi keledai. Sebagai tanda permintaan maafku, adakah sesuatu yang lain yang bisa kubelikan? Mau apa? Kue coklat atau keju?”

“Selanjutnya bagaimana?”

“Setelah diperlakukan seperti itu, aku akan mencintainya secara setimpal.”

“Rasanya itu cerita yang betul-betul absurd ya.”

“Tapi bagiku itulah cinta. Meskipun tidak ada orang yang mau memahaminya,” kata Midori sambil menggelengkan kepalanya pelan di atas pundakku. “Bagi sebagian orang, cinta itu dimulai dari hal yang sangat kecil atau dari hal yang sama sekali tidak berguna. Bila tidak berawal dari hal-hal seperti itu, tidak akan muncul rasa cinta.”

“Aku baru pertama kali bertemu dengan perempuan yang berpikiran sepertimu,” kataku.

“Banyak orang yang berkata sepertimu,” katanya sambil mengutik-utik kukunya, “Tapi aku hanya bisa berpikir seperti itu, sungguh. Aku hanya berkata jujur”

———————————————————————————————————————————————————

Saya tidak menemukan kata yang tepat untuk menceritakan kembali bagaimana Haruki Murakami menggambarkan dengan manis seorang perempuan yang memang egois. Luar dalam. Tapi meninggalkan kesan jahat dalam keegoisan itu sendiri. Egois yang manis,

karena dalam cinta semua orang bisa jadi super egois. Selamat tinggal baris kata ‘cinta tak harus memiliki’ yang klasik dan penuh kebohongan juga penyangkalan itu. Cinta HARUS memiliki. Cinta bukan hanya cukup dimiliki, tapi membawa ketenangan, kedamaian, dan bahagia. Terpuaskan. Tapi kadang cinta menuntut kompromi. Karena menyangkut dua hati. Jadi egois tidaklah boleh. Tapi alangkah senangnya bila bisa menikmati cinta sesuai dengan maunya kita. Ini yang saya pikirkan pertama kali selepas membaca bagian ini dari buku “Norwegian Wood” nya Harold Murakami. Dialog yang mewakil betapa inginnya saya dimengerti oleh pasangan, sebetapapun egoisnya saya. Menemukan seorang lelaki yang sudah diuji sedemikian rupa dengan hal yang mungkin menyakitkan hati dan berulang kali, masih akan ada di sisi saya dan mengingatkan berulang kali sebetapa dia mencintai saya. I’ve found one anyway now🙂

Kenapa bisa sampai membaca buku ini? Entah. Jaman kuliah menyambangi penyewaan buku adalah hobi yang tidak bisa dilewatkan. Nafsu menghabiskan deretan novel yang ada di ruangan kecil dan pengap berbau buku yang nikmat. Saya suka sekali membaca novel terjemahan, mungkin itulah salah satu jalan berjodohnya saya dengan buku ini.

Bercerita tentang cinta, kematian, dan bagaimana seseorang menghadapi kehilangan yang meninggalkan kekosongan di dalam diri. Terpusat pada seorang tokoh utama bernama Watanabe, dengan seorang sahabat yang bunuh diri dan meninggalkan kekasih bernama Naoko yang akhirnya menjadi perempuan dalam hidupnya, yang tidak mampu coping dengan kenyataan dan kehampaan hidup yang sebetulnya umum dirasakan remaja yang tidak punya kedekatan dengan sosok role model yang baik. Seperti saya, pada suatu masa. Membaca buku ini mengingatkan pada rasa sakit hati, yang selalu terasa lebih pahit ketika dikenang kembali, sebelum bisa menemukan kebahagiaan yang sejati. Sebagaimana patah hati yang selalu lebih sakit sebelum hadirnya seseorang yang jadi pengobat luka hati🙂 Tapi Naoko tidak bisa bangkit, menyeret Watanabe dalam kegelapan, keputusasaan dan kesedihan yang membuat semua yang membaca ikut merasa putus asa.

Lalu ada Midori. Gadis aneh yang bebas dan liar dan seenaknya. Berbeda 180 derajat dari Watanabe, apalagi Naoko. Midori yang selalu hadir pada saat yang tidak diduga apalagi terencana dalam hidup Watanabe. Menariknya dari kehampaan dan membuka mata pada dunia yang cerah ceria. Salah satu adegan di stasiun kereta adalah adegan manis favorit saya lainnya. Ayo baca! Tidak ada bocoran kali ini😀

Buat sebagian orang, ending dari Norwegian Wood ini sangat menggantung dan tidak memberikan kepuasan. Padahal kalau menurut saya, bukankah cerita terbaik di dunia adalah yang mirip dengan kisah nyata? Hidup tidak selalu menyajikan akhir bahagia yang sempurna. Hidup hanya berjalan pada akhirnya. Waktu benar-benar menghapus semua yang salah bila diberi “waktu”. Kita cuma perlu menunggu, kelak semuanya akan baik-baik saja, sebagaimana Watanabe. Tidak perlu ada kalimat penutup, karena hidup juga tidak berakhir setelah buku ditutup. Mari kita membayangkan sendiri bagaimana akhirnya bagi Watanabe dan Midori. Ending dengan kemungkinan terbuka yang demikian, saya selalu paling suka🙂

Lalu tentu, jadi tahu kalau Norwegian Woods adalah lagunya The Beatles. Tentu, mendownload lagunya kemudian. Tidak bisa dihindari, pada lagunya pun saya jatuh cinta🙂

Mau tau bagaimana sebuah rasa pahit bisa jadi begitu indah? Read this book!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 14, 2013 by in curcol misah misuh and tagged .

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: