If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

Bicara Bercerai

marriage quptes

Gambar diatas bagus ya… Buat saya quotes di atas benar-benar mengena dan sebisa mungkin akan selalu diingat untuk diterapkan dalam kehidupan pernikahan yang kami jalani. Yang masih seumur balita ini😀

Saat ini usia saya 28 tahun. Muda apa tua sih segitu? Dewasa muda kalau menurut psikologi perkembangan sih… Usia suami 34 tahun. Kebanyakan teman kami di rentang usia yang ga terlalu jauh dengan kami. Kebanyakan sudah menikah. Ternyata, ga sedikit juga yang sudah bercerai lagi.

Saya ga terlalu sering sih yah bergosip dengan teman apalagi hal yang terlalu pribadi kecuali dengan sahabat dan teman dekat yang memang cuma segelintir. Kebanyakan, saya tau kabar teman saya dan akhirnya kehidupan pernikahan mereka melalui media sosial. Umumnya sih Facebook. Karena ga peduli usia berapapun, masih ada saja orang yang berbagi terlalu banyak pada dunia yang mungkin ga bahkan dikenalnya hehe. Saya sih maunya bilang “dulu” saya juga begitu. Kalau berantem sama pacar, dunia harus tau. Kesel dikit, kudu pasang status ya maki-maki lah ya mensyen orang ybs atau nyindir-nyindir berharap dibaca. Kadang saat berantem sama suami sampai sekarang pun saya suka update status ga jelas dan penuh kegalauan yang misterius😆 Tapi kalo hati udah ademan dikit, apus aaahh malu dong cinnn!!! Lagipula suka dimarahi suami :p

Rasanya ga etis kan ya kalau kita nanya ke orang yang sebenarnya jarang buat bahkan bertegur sapa tentang masalah pribadi mereka. Tapi karena statusnya yang “share too much” kadang bikin saya jadi kepo maksimal dan berujung pada facebook wall stalking😆 Ya ngga stalking juga sih ya kalo yang terjadi adalah mencari tau ada apa sebenarnya dengan scroll down di timeline ybs sampai sebulan ke belakang biasanya haha. Dari situ saya baru tau ternyata si ini sudah bercerai dengan pasangannya karena ina dan itu, si ini hampir bercerai, si itu curiga diselingkuhi, and so on. Kadang kalau memang orangnya adalah memang teman saya, ya teman main, teman sekolah dulu, teman kuliah, sering disapa di fb chat, basa basi, dan biasanya mereka akan curhat dengan sendirinya.

Am I being too nosy? Forgive me if I don’t see it that way🙂 Jujur kalau mereka adalah teman yang saya kenal, kemudian bercerita terlalu banyak di media sosial, terdengar seperti teriakan minta tolong. Minta tolong, kalaupun ga bisa dibantu menyelesaikan masalahnya, sekedar untuk didengarkan saat bercerita saja. I used to do that. Kekuatan sepasang telinga, atau mungkin kalau jaman sekarang sepasang mata dan jari-jemari, bisa sedikit memberi perasaan lega lho saat seseorang sedang bermasalah.

Buat saya sendiri, selain sebagai penyaluran hasrat sebagai Psikolog yang belum tercapai karena belum melanjutkan kuliah, sebagai sarana pembelajaran juga.

Siapa sih yang punya kehidupan pernikahan yang sempurna? Dimana setiap hari berwarna pink dan berbunga-bunga. Well, mungkin ada sih.. Tapi umumnya, pernikahan tidak pernah sempurna. Selalu ada hal yang harus diperjuangkan. And that’s not a bad thing, thou. Kompromi itu perjuangan. Tidak menaikkan suara dengan mudah saat pasangan seperti tidak mengerti apa yang kita mau padahal sudah berulang kali dijelaskan itu kemenangan kecil. Lama kelamaan perjuangan itu tidak akan terasa seperti beban karena hanyalah sebuah keseharian yang terasa wajar dan harus buat dilakukan. Kebahagiaan sederhana yang mudah, mungkin demikian seharusnya pernikahan.

Lalu bagaimana bila kadang-kadang sedang letih berjuang? Atau kebahagiaan dalam sebuah pernikahan yang utuh retak karena hal-hal yang tidak disangka? Kalau kata gambar di atas sih, FIX IT. Perbaiki. Berusahalah buat menambal keretakan yang ada, dan jadilah utuh kembali. Berusaha buat mengobati luka yang mungkin terlanjur tertoreh untuk kembali sehat. Bukan sembarang buang. Bukan menyerah dan membiarkan keretakan menyebar dan merapuhkan kekokohan fondasi, kemudian hancur berkeping-keping.

Perceraian dibenci oleh Allah, itu kalau kata agama saya. Tapi kadang, saya sendiri merasa bahwa bilang memang diperlukan, maka lakukan. Rasanya Tuhan pasti mau hambaNya mencari jalan terbaik untuk kebahagiannya juga. Bukan menyiksa diri sendiri, dan tau-tau bunuh diri -_-

Memperbaiki rumah tangga bukan tugas mudah. Bukan seperti tembok yang retak bisa diplester oleh seorang diri lama-lama pasti beres sebesar apapun. Bagaimanapun, ada dua tiang yang seharusnya menyangga. Suami dan istri. Maka dari kebanyakan cerita yang saya dengar, lihat, semoga tidak akan rasakan, perjuangan memperbaiki keutuhan rumah tangga pasti hancur kalau hanya satu pihak yang berusaha.

Memperbaiki yang rusak dalam pernikahan cuma akan berhasil kalau kedua pihak mau buat berusaha. Berbicara, berdiskusi, mencari jalan keluar. Apapun masalah yang dihadapi. Perselingkuhan kah. Masalah materi kah. Soal anak yang tidak kunjung hadir dan menimbulkan kejenuhan juga keputusasaan kah. Apapun lah. Persoalan yang bagi sebagian seperti sepele tapi bagi sebagian yang lain justru jadi sebab yang menggerogoti dan menyebabkan perceraian bisa terjadi. Bicarakan, cari jalan keluarnya yang akan adil dan menyenangkan kedua pihak, apa yang harus berdua lakukan demi mencapai keadaan yang dulu menyatukan berdua di bahtera pernikahan. Usaha. Bersama.

Kalau tidak berhasil, kenapa tidak sudahi saja? Bukan masalah terlalu mudah membuang yang seharusnya bisa diperbaiki, tapi tidak membuat lelah diri sendiri. Siapa yang kenal pasangan yang sudah menikah sekian tahun, terganggu oleh perselingkuhan yang tidak bisa dihentikan, tapi tetap melanjutkan karena sayang pada anak misalnya. Retaknya tidak akan pernah hilang. Menggerogoti dari dalam. Kebahagiaan sudah tidak ada. Apakah itu benar makna pernikahan? Lantas buat apa?

Atau dimana salah satu pihak sendiri jadi yang selalu berusaha memercikkan kembali api asmara yang dulu mungkin sebelum resmi masih meletup-letup, lalu meredup. Mencoba, berusaha, mengiba sampai mengemis buat sesuatu yang seharusnya selalu ada. Perhatian dan support dari seseorang yang katanya teman hidup. Lama-lama pasti lelah. Rasanya kalau sudah begini dan memilih berhenti, tidak bisa dibilang menyerah, kan?

Satu alasan yang selalu digunakan orang tua adalah, kasihan pada anak bila bercerai. Tapi memiliki keluarga yang disfungsional juga bukanlah situasi yang kondusif untuk tumbuh kembang. Trust me. I know🙂 Jangan remehkan anak. Bagaimanapun mereka punya cara buat mengerti. Toh anak bukan hanya duplikat mini dari orang tua, tapi juga seorang manusia yang dibekali akal yang sama oleh yang kuasa.

Seorang teman pernah bercerita ingin segera memiliki anak untuk membuat dirinya jadi orang yang lebih baik, dan siapa tau bila sudah memiliki anak kelakuan suami yang tidak pedulian dan minim support akan berubah. Well, a girl can hope. Tapi bertaruh pada pasangan yang tidak bahkan bisa diandalkan, dan berniat menyeret serta seorang calon anak yang mungkin cuma akan jadi satu lagi orang untuk diacuhkan, apa sepadan?

Who am I to say… hubungan saya dan suami juga ga sempurna. Kalau berantem masih suka jejeritan😆 But we learn, we evolve… Paling tidak berdua yang punya niat buat berubah dan jadi lebih baik lagi, bukan satu pihak sendirian berusaha dan akhirnya menyianyiakan diri sendiri. Semoga hingga ujung nanti bisa menjaga supaya tetap punya energi yang sama buat terus berusaha menghadapi apa saja berdua.

It is true that when its not broken, dont fix it. But when it is broken, it’s kinda late to fix anything. Fix it when it just start to break. Fix it while it fixable. When it’s broken, it’s too late for certain things to be fixed.

2 comments on “Bicara Bercerai

  1. isal
    October 21, 2013

    Nice sharing… On Oct 20, 2013 10:06 PM, “If its Not So Important To U, Well It Is For Me”

  2. Allisa Yustica Krones
    October 21, 2013

    Baca ini aku jadi ketawa sendiri, soalnya kira2 seminggu yang lalu i stalked my friend’s wall too..hehehe…soalnya tiba2 ada temen yang cerita kalo si a udah bercerai dari suaminya, penasaran jadinya cari tau…ternyata gak cuma udah bercerai, tapi si a itu udah nikah lagi…dan rangkaian ceritanya hampir lengkap ada di wall-nya😀

    Dalam keyakinanku juga bilang, Tuhan membenci perceraian, makanya gak boleh sembarangan memilih pasangan…butuh banyak pergumulan, butuh banyak doa, supaya benar-benar peka sama suara Tuhan apakah si dia memang adalah jodoh dari Tuhan buat kita atau cuma seseorang yang kita inginkan menjadi jodoh kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 20, 2013 by in Marriage Life and tagged , .

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: