If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

Bulan Puasa Paling Berat

Saya sudah sangat jarang menulis sekarang. Ya, saya tahu. Padahal setiap harinya begitu banyak hal yang ingin diceritakan dan terlalu berat buat disimpan sendiri. Entah karna tidak meluangkan waktu, entah karna tersita waktu oleh kehidupan yang sebenarnya sebegitu saja.

Namun saat ini saya hanya sekedar ingin berbagi.

Bulan puasa tahun ini adalah tahun yang paling penuh dengan cobaan bagi saya. Kalau bisa, ingin sekali ujungnya semua cobaan ini menjadi berkah. Sejauh ini puasa saya batal 2 hari karena berhalangan sebagai perempuan, yang memang diwajarkan, dan 3 hari karena sakit. Ya. Sakit. Yang kalau diingat-ingat, baru tahun ini lagi saya bisa batal puasa karena sakit. Entah sejak kapan saya Alhamdulillah selalu sehat.

Selama ini saya berpikir bahwa saya sakit maag. Sakit maag yang paraag😆 Biasanya kalau terlambat makan, atau kalau makan yang pedas pedas kumatnya. Itu selalu yang terjadi sepanjang setahunan kemarin. Oh ya, sebelum menikah saya sangat jarang sakit. Selain maag, saya juga merasa sering kemasukan angin. Yang entah bagaimana caranya, angin seperti menemukan cara buat masuk melalui celah manapun dari tubuh saya dan membuatnya sangat tidak nyaman.

Tapi itu kemarin-kemarin.

Awal puasa, saya sudah menyiapkan segala jenis obat-obatan untuk menjaga kelanacaran puasa. Saya tidak lagi mengkonsumsi suplemen vitamin C karena rasanya buruk buat maag saya. Saya siapkan PDA dan Ranitidin serta beberapa Antangin sebagai senjata andalan saya. Di hari ketiga puasa, serangannya mulai terjadi. Saya sering merasakan perut yang melilit, ulu hati yang sesak, dan punggung  yang nyeri tidak keruan. Entah berapa hari selama puasa ini, saya bahkan tidak bisa tidur dalam keadaan berbaring, harus duduk, supaya saya bisa bernapas dengan tidak terlalu sakit. 

Akhirnya saya menyerah pada hari Minggu waktu sahur dimana saya menelpon ayah saya untuk mengantar ke UGD karena sakitnya menjadi sangat tidak tertahankan, ya di perut, ya di ulu hati, ya di punggung, ditambah muntah dan buang air cair. Tapi saat itu akhirnya tidak jadi ke UGD karena saya ditangani secara alternatif oleh guru spiritual ayah saya. Memang sakitnya menghilang saat itu. Tapi,  Saya tidak bisa sakit terus terusan. Saya harus ke dokter. Maka saya pergi ke salah satu ahli lambung yang ada di Bandung, dan diperiksa. Sang dokter bilang ada kembung di perut saya, dan lain lain yang lebih mirip bergumam, lebih karna saya kurang paham. Ada 3 lembar hasil USG yang tidak dijelaskan secara menyeluruh dan membuat saya masih kurang mengerti apa sebenarnya sakit saya. Saya hanya sempat dengar dia bilang bengkak empedu, dan rasanya dia sendiri kurang paham letak penyakitnya dimana, karena dirujuk ke Lab terdekat untuk melakukan beberapa pengecekan.

Sayangnya, pengecekan yang harus dilakukan sangat mahal. Mencapai angka 1.5 juta yang saya sama sekali tidak tahu itu apa saja, karena saya merasa kurang dapat penjelasan. Well, mungkin salah saya juga karna tidak bertanya. Tapi tidak bohong, bahkan pada saat pergi ke dokter, saya sedang menahan sakit. Akhirnya saya menolak buat melakukan lab check dan hanya menebus resep dokter. Itu di hari Senin.

Hari Senin malam, saya didoakan oleh sang guru spiritual untuk mengurangi rasa sakitnya. Diberi resep ramuan yang sampai hari ini masih saya usahakan buat dapat. Ada yang tau daun jeringo? Mail me please🙂 Alhamdulillah hari Senin malam itu saya bisa tidur berbaring dengan nyenyak. 

Esoknya, guru spiritual ayah saya kembali menghubungi saya. Entah bagaimana dia tahu di dalam perut saya katanya ada batu. Dia malah sempat bilang batu empedu. Dengan ijin Allah katanya. Saya tanya apa saya perlu rontgen lagi atau tidak, katanya lebih baik dilawan dengan doa dan rasa ikhlas, karena sakit semua datangnya dari Allah dan hanya Allah yang berhak buat mencabutnya kembali. Dimintanya saya buat bermunajat dalam sholat hajat setelah Isya.

Pada saat itu saya sudah membaca di om gugel beberapa hal tentang bengkak dan batu empedu dan bagaimana ujungnya bisa jadi pankreatitis. Dan itu sangat mengerikan. Saya dipenuhi dengan ketakutan, dan sakit. Maka malam itu saya menangis sejadinya di atas sajadah, memohon ampun atas segala dosa yang mungkin mendatangkan penyakit ini buat saya. Memohon Tuhan mau buat mengambilnya. 

Guru spiritual saya bilang itu urusan dia dan Tuhan tentang meminta buat penyembuhan saya. Saya hanya harus ikhlas dan sabar. Berpikir tentang sembuh. Hal ini membuat saya sering bertengkar dengan suami. Bukan karna suami saya jahat, tapi karna berpikir baik itu sulit sekali buat saya dan butuh usaha buat mencapai ikhlas. 

Saat ini, saya Alhamdulillah tidak dalam keadaan sakit. Hanya saat bernapas atau bahkan menguap terasa ada sesuatu yang tertarik di perut dan bagian atasnya. Yang buruk adalah setelah makan buka puasa. Makan sesedikit apapun membuat perut saya kejang dan sakit, dan saya kehilangan nafsu makan. Yang ga membuat saya kurus juga pada akhirnya😆 Tadi malam kembali kambuh pada saat tidur. Sedikit sulit buat menemukan posisi berbaring yang tidak membawa rasa sakit sama sekali. Beberapa kali saya masih terbangun pada saat malam, mendapati perut saya melilit dan tidak bisa dibawa tidur dalam keadaan miring. 

Tapi Alhamdulillah, saya masih sanggup puasa. Saya yakin, Insya Allah saya akan sembuh sebentar lagi. Bagaimana? Saya tidak tahu pasti. Hanya saja saya mau demikian.

Terlepas dari segala rasa sakitnya, saya rasa sedikit demi sedikit saya bisa buat ambil hikmahnya. Saya jadi jauh lebih menghargai kesehatan saat ini, selain karna sehat itu MAHAL, sakit itu sama sekali tidak menyenangkan. Mungkin selama ini saya kufur nikmat. Makan makanan seenak saya. Jarang dan hampir ga pernah berolahraga. Dengan begini, saya jadi berniat buat benar-benar mengatur pola makan saya, pola tidur dan istirahat, juga meniatkan buat olahraga saat keadaan perut saya sudah normal lagi nantinya.

Saya juga jadi bisa lihat lagi, betapa suami saya yang sering saya kecewakan adalah suami yang super baik yang bisa diberikan Tuhan buat saya. Dia yang mengurus semua makanan saya, membuatkan air jahe saat saya mual, memarutkan kunyit buat ramuan pereda maag, memijat punggung saya yang terus pegal, dan tidak mengeluh bahwa dia musti mengurus sendiri makanan berbuka dan sahurnya. Saya, yang di awal puasa meragukan apakah kami akan sanggup menjalani semua ini karna satu dua masalah sepele, seperti ditampar Tuhan dan diberi lihat sebaik apa suami saya pada saya.

As I said, bulan puasa tahun ini adalah bulan puasa terberat yang saya jalani. Tapi pasti, ada hikmahnya. Insya Allah, pelajaran tentang bersyukur bisa saya petik tahun ini, in a hard ways🙂

Eniweeeeeeey…

Slamat melanjutkan ibadah puasanya :) 

5 comments on “Bulan Puasa Paling Berat

  1. pipitta
    August 18, 2011

    get well soon, jeng… *hugs*

  2. Asop
    September 2, 2011

    Wah… bagaimana keadaan di akhir ramadhan? Sehat terus?🙂

    Maap lahir batin, ya…

  3. nuraeni
    September 22, 2011

    sekarang kita sudah melewati hari-hari itu…🙂
    tapi kita akn selalu menantinya di tahun yang akan datang….

  4. Rumah
    September 27, 2011

    Terasa Berat tatkala kita menganggapnya berat …
    tapi yakinlah …
    Allah SWT senantiasa memberikan balasan yang berlimpah karena Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan sekecil apapun perbuatan baik dari orang2 baik ^_^

  5. ahmad musyrifin
    September 28, 2011

    walah sama neh, puasa tahun ini juga terasa banget, dikantor dah dingin bawaannya ngantuk mulu, padahal kerjaan bejibun.
    ==========================
    pembodohan di negeri ini dilakukan sistematis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 18, 2011 by in Feels and Thoughts and tagged , , , , , , , , .

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: