If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

Finally Written…

Dear Papa,

Ah… menemukan waktu yang tepat buat sekedar menulis padamu saja aku seperti tidak sempat. Putri macam apa aku ini. Padahal kau menamaiku dengan namamu, Puteri Wisaksono, tentunya supaya selalu ingat pada dirimu yang selalu akan menempel di namaku. Tapi Papa, kadang sulit buat bercerita tentangmu. Ah… mari, akan kuberitahu apa yang kuingat tentangmu.


Papa berulang tahun yang ke 52 tahun ini. Di usiamu yang separuh baya, Papa terlihat lebih tua dari usiamu kadang-kadang. Entah apa yang membuatmu demikian. Mungkin kesehatanmu yang menurun karena kelelahan bekerja di sebuah NGO asing, mungkin karena rokok yang menggerogoti sel sehat dalam tubuhmu tapi sama sekali ditolak buat dihentikan, atau mungkin makin lama makin lelah menjadi bapak yang bertanggung jawab atas hidup 6 orang anak, dan 2 istri.

Waktu kecil, yang pertama kuingat tentang Papa adalah bahwa aku memanggilmu “Om Oy” saat usiaku 5 tahunan. Mungkin mengikuti sepupuku yang dari lahir dulu adalah tetanggaku, yang memanggil Papa Royku dengan sebutan “Om Oy”, jadi aku ikut-ikutan. Papa dulu sering memberitahuku supaya tidak memanggilmu “Om”, tapi susah sekali sebagai anak kecil yang dalam masa modeling buat tiba-tiba merubah panggilan tersebut. Ketika akhirnya aku kembali memanggil Papa, rasanya beliau lebih senang.

Aku akan selalu ingat waktu masih SD dan mama sering memarahiku karena aku sering mengambek dengan heboh dan sering melawan bila diberi tahu apapun dan memutuskan buat tidak memberiku uang jajan, saat berangkat sekolah Papa akan menyelipkan uang lima ratusan di saku seragamku di atas motor. Entah Mama tahu atau tidak, tapi aku tidak pernah mengalami kesusahan tidak bisa jajan di sekolah. Papa juga sering mengajakku nonton malam hari di Bioskop RAMA di Bekasi, yang sekarang sudah jadi sangat kumuh dan ngeri buat disambangi. Atau sekedar pergi ke Proyek di atas jam 9 malam buat makan nasi uduk Emak yang tersohor itu, dengan sedikit mengendap-endap supaya adik-adikku yang masih kecil tidak bangun dan ingin ikut. Aku anak pertama yang sangat dekat dengan Papa waktu itu.

Tapi Papa juga galak. Aku ingat pernah dilempar centong nasi saat sedang makan karena sebab yang bahkan tidak kuingat. Papa yang tidak sabaran mengajar matematika pada anakmu yang malas. Papa yang kalau bertengkar dengan mama sering melempar barang, hingga menggulingkan lemari piring dan hancurlah semua isi di dalamnya. Papa yang suka memukuliku dengan ikat pinggang dulu saat aku nakal.

Ada suatu masa yang juga tidak akan pernah bisa terlupa dari ingatanku tentang Papa. Tapi sampai sekarang aku masih berpikir bahwa aku cuma bermimpi atau berkhayal berlebihan, Karena aku ingat Papa pernah pulang malam hari ditemani seorang perempuan yang entah siapa ke rumah, dan Mama menjerit-jerit dan menangis kemudian. Ingatanku samar karena sepertinya aku berada di balik bantal dan pura-pura menutup mata. Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak, tapi aku ingat mama pernah pergi dari rumah beberapa hari, membawa adik pertamaku yang waktu itu masih bayi. Aku ingat bertanya pada Papa, “Mama kemana? Kapan pulang? Kenapa aku ditinggal?”. Aku ingat bahwa Papa dan Mama pernah berpisah hampir setahun, dan aku diajak Mama tinggal di rumah saudaranya di Surabaya. Aku masih ingat airmata yang jatuh di pipiku saat Papa harus pergi lagi ke Jakarta setelah menjenguk kami waktu itu. Aku yang kelas 2 SD, menatap Papa pergi dan kehilangan sosokmu selama setahun lebih, hingga akhirnya kalian memutuskan untuk rujuk kembali.

Tapi teriakan itu masih sering ada. Airmata mama masih sering turun. Namun hidup rasanya berjalan jauh lebih baik. Papa masih rajin membereskan segala sesuatu yang tidak beres di rumah. Papa masih suka membuat sendiri rak dan aneka peralatan rumah tangga, yang masih kau lakukan sampai sekarang. Ada 4 mobil di garasi rumah kita yang di sewakan sebagai tambahan penghasilan. Sepertinya keadaan sangat baik. Tapi kadang horror nya masih ada. Sekalipun tidak sesering dulu.

Mungkin memang ada yang salah dengan diriku. Aku tumbuh jadi anak super nakal di usia akhir SDku. Aku punya hobi sangat tidak terpuji, mencuri di toko buku di mall, hingga mencuri uang teman di sekolah. Guru akhirnya tahu kejadian itu, dan aku pun diskors beberapa hari. Saat itu aku yang masih berusia 12 tahun ketakutan setengah mati bila orangtuaku sampai tahu, maka aku kabur dari siang hari sepulang sekolah. Aku tidak tahu harus lari kemana dan tidur di mana ketika malam datang, dan malah tidur di salah satu rumah kontrakan kosong di dekat rumah kami, menutupi diri dengan tumpukan kardus dan tersembunyi. Dingin dan ngeri, dan takut sekali memikirkan apa yang akan orangtuaku lakukan ketika mereka tahu apa yang sudah aku lakukan. Aku menangis, berusaha buat tidur di lantai yang dingin. Tiba-tiba Papa menemukanku! Papa menemukanku di balik tumpukan kardus itu, jam 3 malam! Papa membawaku pulang, tidak marah sama sekali, sekalipun Mama marah sekali dan menangis lalu meninggalkanku dan mengunci kamarnya, Papa tidak. Papa tidak mengeluarkan satupun makian yang selalu diucapkan ketika marah. Papa tidak membentak. Papa tidak bertanya macam-macam. Papa memelukku dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lalu di pelukanmu aku menangis.

Masa SMP kuhabiskan di Pesantren. Mungkin salah satu alasan Papa Mama mengirimku kesana adalah untuk memperbaiku tingkah lakuku. Sekalipun dulu aku bereaksi dengan penuh penolakan, pada akhirnya aku bisa menikmati dan mengambil pelajaran dari 3 tahun yang berlalu di sana. Tapi yang membuatku sedih adalah ketika kedekatanku dengan Papa menghilang disitu. Jarang bertemu, jarang bersandar lagi di pelukanmu, dan tiba-tiba Papa bekerja di Palembang. Tidak hanya jarang pulang, tiba-tiba Papa tidak pulang sama sekali selama 8 bulan, kabur dengan Tante Wiya yang pernah kutemui waktu liburan ke Palembang.

Aku tidak tahu apakah Papa tahu bagaimana keadaan keluarga kita waktu itu. Mama bekerja banting tulang sendirian dalam keadaan hamil adik keduaku. Keadaan keuangan waktu itu kacau balau tanpa kiriman uang dari papa berbulan-bulan, hingga listrik di rumah pernah diputus PLN selama beberapa hari karna tidak bayar berbulan-bulan.

Tapi lalu Papa kembali. Dengan banyak airmata dan sakit hati, Mama menerimamu kembali. Tapi mungkin Mama tidak mampu buat menanggung sendiri beban hatinya, sehingga aku yang masih remaja selalu jadi tempatnya buat bercerita tentang Papa, betapa sakit hatinya, betapa bencinya pada perempuan yang merebut Papa dari kami, betapa Mama sering memaki yang mungkin tidak bisa dilemparkannya langsung pada siapa-siapa, hingga aku yang harus menampung semuanya. Aku yang baru beranjak remaja.

Kau masih selalu bekerja di luar kota. Karna saat kau tidak bekerja di luar kota, kau tidak mendapatkan pekerjaan apa-apa di Jakarta, dan itu membuatmu makin stress dan makin sering marah dan bertengkar dengan Mama. Hingga aku lelah. Aku bosan mendengar kalian. Bosan mendengar Mama mengeluh, bosan mendengarmu marah-marah, atau bahkan tidak bicara sama sekali.

Aku tidak pernah lagi dekat denganmu setelah itu. Aku tidak mau tau sama sekali tentang dirimu. Aku hanya mendengar cerita mama dan sakit hatinya. Aku jadi takut pada lelaki. Aku jadi tidak bisa menjalin hubungan yang baik dengan pacar-pacarku dulu, hingga dengan lelaki yang sekarang jadi suamikupun. Aku punya benteng pertahanan diri yang terlalu tinggi. Kau yang membantuku membangunnya. Aku takut sakit hati, dan kecewa seperti Mama.

Aku hanya benci. Benci dan sama sekali tidak bisa menerima. Hingga aku beranjak dewasa, dan aku tau Papa masih hidup dengan jadi suami dari dua istri. Aku ingat bahwa aku sakit hati ketika menemukan SMS Papa buat Tante Wiya, bercerita tentang Lenient, anak pertama kalian. Aku sakit hati, karena aku suka nama Lenient, dan Papa tidak boleh memberi nama yang sedemikian bagus buat anak dari istri kedua Papa yang sama sekali tidak kurestui! Aku benci dan dipenuhi kemarahan, hingga tidak mau tau sama sekali.

Tapi aku belajar tentang manusia, tentang hidup, di bangku kuliah, saat aku mengenal Psikologi. Aku belajar buat mengenali diri sendiri, mengenalimu, mengenali Mama, mengenali perasaan-perasaan yang tidak pernah terungkapkan. Aku mulai sedikit berpikir bahwa mungkin pada akhirnya ada alasannya kau tidak pernah pergi meninggalkan istri keduamu, walaupun menurutmu awalnya kau hanya menikahinya karna takut dibunuh oleh keluarganya yang mengancammu.

Semakin dewasa, semakin berselisih pahamlah aku dengan Mama. Semakin lelah mendengarnya. Aku jadi sedikit jauh dari Mama yang banyak berubah semenjak dirinya berteman dengan dunia maya dan jatuh cinta kepadanya. Mungkin Tuhan punya alasan buat itu, karena setelahnya, aku jadi mendekat lagi kepadamu. Kau yang mendukungku selalu, saat aku tidak mau bekerja di kantoran, saat aku memutuskan buat siaran dan berbisnis saja, saat aku memutuskan buat menikah dengan suamiku sekarang. Bahkan saat Mama malah memalingkan muka dariku.

Hingga saat aku menikah dengan lelaki yang tidak diinginkan Mama buat jadi menantunya, kau yang berdiri di sampingku dan menjadi waliku. Aku tidak akan pernah lupa, malam sebelum pernikahanku, saat Mama malah meninggalkanku dan pergi buat menghindari hari yang tidak diinginkannya buat terwujud, kau duduk di sampingku di atas tempat tidurku dan tersenyum menatapku, lalu berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja, dan aku tidak boleh sedih. Lalu aku menangis, tersedu-sedu di pelukanmu. Setelah sekian lama aku kadang marah dan sakit hati kepadamu, malam itu aku sangat beruntung karena kau ada buatku, dalam saat terberatku.

Setelah menikah, aku makin mengerti hal-hal yang memang mewarnai kehidupan pernikahan. Betapa harus saling mau mendengar bila ingin didengar. Betapa harus ada kompromi. Betapa kalaupun ada yang ingin marah dan meledak, tidak bisa buat dilakukan bersama, harus bergantian. Aku jadi mengerti, kenapa hubunganmu sedemikian buruk dengan Mama.

Aku tidak akan pernah tau, yang salah sebetulnya siapa di antara kalian. Kalian berdua adalah sosok yang paling kucinta dan kuhormati. Tapi bagaimanapun, aku sadar kalian juga manusia. Dengan salah yang mungkin berbeda, tapi sama besarnya ambil andil mematirasakan pernikahan kalian sekarang. Aku ingat dulu aku sering berharap Papa dan Mama bercerai saja, tapi sekarang tidak sama sekali. Aku butuh kalian berdua. Aku butuh Papa, aku butuh Mama. Sekalipun kalian belum bisa lagi saling membuka hati satu sama lain, mungkin kelak saat menua, kalian akan. Aku harap kalian sama sadarnya dengan kami. Kami, keempat anak Papa dan Mama yang turut sakit hati dan sedih atas apapun yang terjadi. Kami, yang sebagaimanapun kacaunya kalian, tapi kami tau bagaimana mengurus diri sendiri dan menjadi versi terbaik dari anak Papa dan Mama yang sulit buat bersama.

Aku mulai bisa menerima, bahwa kau tetap akan bersama keluarga keduamu. Dengan istri kedua dan kedua anakmu, yang mau tak mau kuakui bahwa mereka adalah adikku. Mungkin kau memang butuh mereka. Kau butuh istri kedua buat menjagamu yang mulai menua dan sering sakit saat bekerja di luar kota. Kau mungkin butuh anak-anak itu buat hadirkan tawa di hari-hari lelahmu. Entahlah. Aku mencoba buat berdamai dengan kenyataan yang ada.

Aku tidak menelan mentah semua yang kau ucapkan. Tentang Mama, tentang hidup, tentang Tuhan. Tapi aku tahu bahwa aku mengambil banyak sekali pelajaran darimu. Aku memahamimu, dan aku tau bahwa kau mengusahakan semampumu, buat jadi suami yang baik untuk Mama, yang mungkin sedang terasa sulit sekarang. Aku juga tau, kau berusaha jadi Ayah yang terbaik bagi kami, keempat anakmu yang jarang kau temui. Toh nyatanya kau sama sekali tidak pernah benar-benar meninggalkan kami dan bertanggung jawab sepenuhnya pada kami, sekalipun ada keluarga kedua yang sehari-hari hidup bersamamu.

Papa, rupanya aku ingat banyak hal tentangmu. Rupanya aku ternyata memang sangat menyayangimu. Rupanya aku memang sudah berdamai dengan hatiku tentangmu..

Yang sehat ya, Pa. Tunggulah, aku akan jadi anak yang bisa lebih membanggakan Papa dan Mama, sehingga kalian akan tau, kalian sama sekali bukan orang tua yang gagal. Semua anakmu, pasti jadi anak yang bisa membuat kalian bahagia.

You might not be the best father in the world. But you obviously are, the best for children like us. God knows why He choose you to be our father. We love you. I do. Eventhough.

 

 

2 comments on “Finally Written…

  1. Pingback: Menikah dan Orang Tua « If its Not So Important To U, Well It Is For Me

  2. pepipepo
    May 4, 2012

    Taz, gue juga susah berdamai sama bokap atas kelakuannya dulu tapi gue selalu inget apa aja yang udah bokap lakuin ke gue. Dia yang ngajarin gue menggambar, membaca, dia yang kalo pulang dari kantor selalu bawain gue hadiah, dia yang ngangkat gue tinggi tinggi dan ngegendong gue di bahu, dia juga yang suka diem diem nyelipin uang jajan waktu nyokap ga ngasih. Banyak taz, jadi sebrengsek apapun dia dulu, gue udah damai dengan keadaan buat maafin dia. Sekarang gue cuma berusaha lebih mandiri aja walo gue percaya deydo baik dan ga macem macem, tapi tetep gue harus bisa berdiri di atas kaki gue alias ga bergantung. Lo juga ya Taz🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 14, 2011 by in keluarga and tagged , , .

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: