If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

Novana … November

Aku benci matahari! Apa-apaan sih  benda bulat besar di angkasa itu. Bikin silau! Aku sangat tidak suka! Seperti siang ini yang membuat semua orang memicingkan mata di jalanan karena cahayanya yang terlalu terang. Padahal bulan November. Tapi karena pemanasan global, cuaca sudah sama sekali tidak menentu sekarang ini. Buatku, ini berarti sekujur tubuh panas bagaikan terpanggang karena busana hitam-hitam favoritku ini! Kenapa ya warna hitam itu harus menyerap matahari? Aneh sekali.

Ponselku berdering dan menampilkan foto perempuan cantik mungil di sana. “Yang, beneran lho katanya film Breaking Down keluar bulan ini! Aku baru baca di website! Kita harus nonton ya!”, serunya perempuan itu riang.

“Ya sayang… nanti kita nonton ya kalau sudah masuk. Kamu dimana sekarang? Nanti malam jadi ya!”, jawabku padanya dengan langsung memastikan sebuah rencana.

“Okei. Nanti malam aku yang datang ke rumah kamu ya? Awas lho, jangan aneh aneh ya! Hehehe”

“Surprise pokoknya! I’ll be waiting for you. Love you.”.

Hm… heran! Sudah sejak bulan lalu awal aku mengenal dirinya, Novana Clarissa, selalu saja dia membicarakan tentang film yang bercerita tentang vampire tampan yang jatuh cinta pada manusia itu. Cool katanya. Sampai rela katanya jadi pacar vampire kalau setampan si Edward Cullen. Hahaha ada-ada saja. Hm… kadang aku berpikir, sudah cukup tampan belum ya aku di mata dia? Ah… ya sudahlah. Lebih baik mempersiapkan diri buat kencan malam ini dengan Novana.

Novana di bulan November. Manis sekali perempuan ini. Dengan tubuh mungilnya dan suara lembutnya. Lirikan mata yang membuat setiap orang terpesona. Perempuan baik hati yang nampak tanpa dosa. Mengingatnya saja membuatku senang! Di kampus yang sekarang aku singgahi, banyak sekali lelaki yang menyukainya! Mulai dari yang seangkatan, senior, adik angkatan, hingga ada dosen muda sekaligus! WOW! Berat sekali rasanya ya persaingannya? Tidak berlaku buatku… mengalahkan semua lelaki yang berebut menarik perhatiannya, aku menang dengan mudahnya.

Kubeli seikat bunga lily kesukaannya. Tidak lupa sekotak coklat berbentuk hati. Malam ini ulang tahunnya dan aku berencana akan memberinya surprise makan malam romantis di rumahku. Huh, masih siang. Sudah lapar sekali rasanya!

Membayangkan Novana dengan senyum manisnya membuat hatiku berdebar-debar. Ingin rasanya cepat memeluk tubuh mungilnya dan mendekapnya erat di kedua lenganku. Merasakan kepolosan dan kepasrahan yang terpancar tiap kali dia bersamaku, dan betapa besar godaan yang harus ditahan buat melakukan sesuatu padanya yang pasti kami berdua tidak akan suka kalau terburu-buru! Tapi malam ini nampaknya boleh. Tepat jam 12 malam nanti saat pergantian hari yang berarti bertambah satu lagi usia si Novana. Aku pasti akan melakukannya! Sekarang ini, apa sih yang tidak boleh dilakukan?

Matahari yang terlalu panas itu meluncur dari singgasananya pelan-pelan tergantikan bulan. Akhirnya mulai malam. Novana belum juga sampai, akhirnya aku putuskan untuk menelponnya barangkali dia perlu dijemput.

“Va, udah dimana? Mau aku jemput?”

“Sayang, aku datang agak telat nih. Hehehe kelamaan di salon rupanya! Nanti naik taxi sendiri aja ngga apa-apa kok”

“Oke, aku tunggu ya. Love you.”

Ke salon? Cuma untuk sebuah undangan mampir ke rumah pacar? Hebat! Ingin tampil cantik buat malam ini ya, sayang? Manis sekali dirinya.

Kutata ruang makan sehingga hanya tersisa dua buah kursi di sisi sebuah meja bundar kecil. Setangkai bunga lily di tengah meja dan sebuah chandelier manis di sisinya. Suasana sengaja kubuat remang-remang supaya semuanya sempurna pada waktunya. Tidak lupa musik! Buat segala sesuatunya musik itu penting… Buat malam inipun seharusnya tidak sunyi. Kitaro. Ya. Aku suka sekali pada Kitaro dan musik indahnya. Sekalipun teman-temanku sering mencibir dan menghina seleraku yang katanya tidak melambangkan jati diri kami. Ah. Biar saja. Aku cinta keindahan dan seni. Semua musti dilakukan dengan indah demi kesempurnaan. Silk Road mengalun pelan-pelan. Nah, itu dia Novana sudah tiba!

Turun dari taxi dengan gaun merah yang dia bilang bisa membuatnya jadi cantik berpuluh kali lipat! Kugenggam tangannya dan kuajak masuk ke dalam rumah, “Cantik banget kamu malam ini. Mau kemana sih?”

“Ah… Kamu mah… Aku jadi malu nih!” Pipinya bersemu merah. Serasi sekali dengan warna gaunnya.

Kukecup pipinya dan kubawa dia langsung menuju ke meja yang sudah kusiapkan untuknya.

“Wah… Kamu pasti repot menyiapkan ini semuanya sendirian!”

“Ah… Ngga juga. Kamu suka kan?”
“Iya,” angguknya pelan sambil tersenyum. Pipinya bersemu merah. Ah! Tambah senang aku melihatnya!

Mata kami saling bertatap. Haha dia menundukkan kepalanya terlebih dahulu! Kasihan, mungkin memang sangat malu.

“Kok rumah kamu sepi banget sih, Yang? Memang sedang pada pergi kemana? Aku kira mau dikenalin ke keluarga kamu hehe”

“Iya, sedang pergi semuanya minggu ini. Lebih sepi lebih romantis, kan?”, sengaja aku tersenyum nakal padanya untuk menggodanya.

“Ih! Apaan sih!”, lalu diam lagi dan menatapku sambil tersenyum.

“Makan dulu yuk, pasti kamu lapar. Sudah malam kan. Aku sengaja masak buat malam ini”, sambil menuju ke dapur dan

membawa hidangan yang sudah kusiapkan sebelumnya, “Sup udang dan fried calamary made by Adriyan.”

“Wah!!! Kamu yang masak semuanya sendiri, Yan? Kayanya enak nih!”

“Coba saja. Ini resep turun temurun di keluargaku, lho”, jawabku sambil menyendokkan sup udang ke mangkuknya.

Pelan-pelan dia menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. Aku sangat menikmati tiap gerakan yang dibuatnya!

“Hm! Enak banget!”

“Habiskan dong kalau enak”, kataku sambil terus tersenyum kepadanya.

“Kamu sendiri kenapa? Lagi-lagi ngga mau makan ya?”, sambil memanyunkan bibirnya.

“Hehehe. Kamu dulu ah. Aku belum terlalu lapar. Nanti ya.” Belum sayang. Belum sekarang. Pelan-pelan dia menyantap masakanku dengan anggun. Senang sekali melihatnya!

Sesudah dia menghabiskan makanannya, kubawa ia ke halaman belakang dimana langit jadi pemandangan yang sangat indah!

“Ini tempat favorit aku di rumah. Kadang-kadang kalau sedang malas melakukan apa-apa, aku bisa duduk diam disini sampai pagi, lho!”

“Sendirian?”

“Iyalah sendirian. Namanya juga mencari ketenangan.”
“Malam ini aku temani ya?”
Aku tersenyum menatapnya, “Justru malam ini aku perlu ada kamu disini.”

Kami berjalan ke tengah halaman dan duduk di ayunan kecil yang tidak pernah kumengerti kenapa dibiarkan ada di situ. Sebagai pemanis, kata yang lain. “Tunggu sebentar, ya!”

Saat aku kembali dengan dua gelas minuman merah itu, dia sedang mengayun pelan-pelan sambil bersenandung lagu Flightless Bird. “Hm… ada wine session juga rupanya!”

Kusodorkan gelas padanya sambil mengambil tempat kembali di sisinya. Berdua kami menyesap anggur merah yang jarang sekali ada di negara ini. Mahal sekali! Sesekali mengobrol, tapi lebih banyak waktu berlalu dalam diam. Kami hanya saling bertatap mata, tersenyum, lalu pura-pura melihat ke arah langit sambil berpegangan tangan. Romantis sekali malam ini.

Malam terasa sangat panjang! Menit demi menit pun berlalu, dan akhirnya jam 12 malam sebentar lagi!

Aku memeluknya erat dan dia pun seperti biasa, memasrahkan dirinya padaku. Jam kunoku berdentang 12 kali, pertanda pergantian hari. “Selamat ulang tahun sayang…”, bisikku di telinganya sambil tetap memeluknya erat.

“Terima kasih, ya sayang,” jawabnya sambil melingkarkan kedua lengannya di pinggangku.

Inilah saatnya!

Kucium mesra lehernya, dan kutancapkan taringku disana! Dia kaget dan meronta. Terlambat sayang… sudah terlalu lama aku menunggu hingga kini saatnya akhirnya tiba. Darah perempuan cantik baik hati di hari ulang tahunnya adalah sesuatu yang paling manis yang bisa kami hisap. Terima kasih sudah menemaniku belakangan ini ya sayang. Maaf, kita tidak jadi menonton film tentang vampire tampanmu itu. Tapi semoga kau puas, kau mendapatkan satu sedang memelukmu malam ini! Hanya saja, aku memang tidak bisa mencintaimu, selamanya.

Matanya menutup pelan-pelan setelah tubuhnya lelah bergelinjang. Kusesap manisnya hingga habis. Segar, manis, sempurna!

Malam menggelap menunggu pagi datang merayap. Menemaniku terbang melayang dengan setetes darah yang masih basah di taringku.

 

 


3 comments on “Novana … November

  1. sisusahtidur
    September 26, 2010

    *tepuk tangan meriah*

    i like it!

  2. ray rizaldy
    October 3, 2010

    sughoooiiiii…
    daku sampai ngiler pengen ngisep darah juga
    darah itu manis jendral!!🙂

  3. neng fey
    October 4, 2010

    jiaaaah pampir persi nata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 24, 2010 by in hasil keisengan.

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: