If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

Family Portrait

Dua hari ini, saya benci ketika malam tiba, dan suami saya sibuk dengan apa yang dikerjakannya atau justru seperti sekarang dia sudah tertidur duluan dan saya masih saya sekali belum mengantuk. Sepi membuat pikiran saya melayang dan membayangkan hal hal buruk yang seharusnya sama sekali ga saya pikirkan. Kesendirian membuat saya menangis dan tidak bisa berhenti sampai lelah sendiri.

Kemarin saya pulang ke rumah ibu saya. Kangen juga rasanya tidak pulang ke rumah lebih dari dua minggu, padahal dekat sekali. Saya pulang sendiri, masih menghindari keributan kalau mengajak suami saya. Biarkan saja begini dulu. Saya datang murni karena ingin bertemu ibu dan adik-adik saya yang hari itu ada semua di rumah.

Mama saya di luar dugaan sangat ramah, dan seperti biasa seperti waktu saya masih tinggal di rumah dan belum menikah. Saya makan chilly buatannya, mengobrol basa basi, memberi make up palette yang saya bawa buat mama… everything turned out really well.

Sisa hari itu lebih banyak saya habiskan bersama adik saya yang paling kecil. My Miharbaby. Bercanda bersama dia, menemani siangnya dia, mengobrol, jalan jajan, makan mie ayam… Saya sangat sayang pada anak kecil dan polos itu sebenarbenarnya, dan hari itu dia membuat saya sangat senang dan terhibur!

Tapi itu sebelum tiba tiba ibu saya menghampiri saya saat saya dan si adik sedang santai di kamar mama, dan tiba-tiba mengutarakan niatnya untuk cerai dari ayah saya.

Sudah tidak ada bedanya lagi antara cerai atau tidak. Sudah sama sekali tidak terasa sebagai suami istri. Sudah mati rasa. Takut nanti kalau tua sendirian dan sang ayah sibuk dengan keluarga satunya… dan segala macam hal yang mungkin memberatkannya selama ini…

Saya cuma bilang bahwa kalau memang itu jalan terbaik menurutnya, mari dibicarakan saja nanti saat ayah saya pulang bulan depan. Jujur, dalam hati saya berpikir bahwa mungkin memang ini adalah jalan terbaik buat mereka berdua sejak dulu kala. Mama saya memang mungkin sudah terlalu lama merasa hampa dan merindukan sosok seseorang yang bisa berada penuh hanya buat dirinya. Mungkin ini memang yang terbaik…

Tapi itu sebelum saya pulang dan berpikir dua kali.

Saya selalu bilang bahwa jangan pernah menjadikan anak sebagai alasan yang memberatkan buat mempertahankan sebuah pernikahan yang tidak bahagia. Karena belum tentu si anak akan bahagia dalam keluarga yang kedua orang tuanya sudah tidak saling mencinta. Ya, saya memang pernah bilang demikian… dan saya menyesal sepenuhnya.

Saya lihat adik terkecil saya, yang masih baru akan 10 tahun bulan September ini. Dia yang super polos dan tidak seperti anak kecil lainnya seusianya. Dia yang cuek dan selalu bercanda. Dia yang paling suka saat keluarganya berkumpul bersama sekalipun di rumah saja dan tidak kemanamana saat ayah kami pulang. Dia yang ga senang saya menikah karena dia merasa bahwa ada anggota keluarganya yang hilang. Dia yang hanya ngambek kalau ga dikasih jajan atau ga boleh main gameboy terlalu lama. Dia yang sama sekali saya rasa ga kenal kata cerai dalam kamusnya. Dia yang sering mengambek kalau mama saya pakai bros yang dia tahu diberi oleh lelaki teman chat mama. Dia yang selalu kangen papa kami.

Saya tahu mungkin tidak adil buat ibu saya kalau saya minta dia bertahan beberapa tahun lagi saja, sampai si adik cukup dewasa dan mengerti apa arti cerai, dan sama sekali tidak akan menyalahkan dirinya atas apapun yang mungkin terjadi. Saya sendiri mungkin tidak akan kuat menahan beban dan kesepian bila saya jadi ibu saya. Ya, saya mengerti. Pada satu titik saya merasa bahwa saya menikah adalah salah satu trigger dirinya mengambil keputusan ini. Karena saya meninggalkannya… memulai kehidupan baru saya. Apa kabar kalau nanti semua anaknya satu persatu pergi dan dia tinggal sendiri tanpa sang suami yang harusnya bisa selalu menemani?

Ya… saya tahu bebannya. Saya tahu tidak adil rasanya meminta dia buat bertahan lebih lama lagi.

Tapi lalu adik saya bagaimana? Nanti kalau Lebaran dan ga ada kumpul keluarga seperti biasa, apa dia ga akan sedih sekali? Nanti kalau liburan dan kita ga bisa jalan jalan bersama seperti biasanya, apa dia ga akan kecewa? Nanti kalau mama dan papanya sudah ga bisa bersama lagi apa dia ga akan merasa kehilangan? Apa dia mampu menanggung semuanya di usianya sekarang? Apa yang bisa dikatakan kepadanya yang bisa membuatnya merasa lebih baik? Baginya ayahnya memang tidak pernah pulang karena bekerja di luar kota. Toh kadang kadang tetap pulang dan menghabiskan waktu bersama. Toh ayahnya rajin kirim pulsa. Toh ayahnya suka menelponnya walau kadang dia malas buat bicara lama lama… Buat dia ga ada yang aneh dengan demikian. Tapi kalau tiba tiba semua berubah, apa yang bisa dikatakan padanya yang bisa membuatnya merasa baik baik saja?

Sejak semalam, sama sekali saya tidak bisa berhenti menangis memikirkan semuanya. Saya sama sekali tidak peduli lagi pada mama saya yang masih belum bisa menerima pernikahan saya dengan suami saya. Saya sama sekali ga peduli lagi dengan betapa saya sedang sedikit pusing dengan hidup saya sendiri. Saya sama sekali ga bisa berhenti memikirkan ibu dan adik adik saya. Dua adik saya yang lain sudah mengerti dan sudah berdamai atau masih terus bergelut dengan sakit hati mereka, sebagaimana juga saya. Tidak bisakah adik kecil saya terbebas dari semua sedih dan sakit itu? Paling tidak dia saja… Paling tidak berusaha buat dia… Adilkah kalau saya minta begitu?

Tapi itu hanya kemungkinan terburuk yang ga boleh terlalu lama dipikirkan. Semoga masih ada jalan lainnya. Semoga hati kedua orang tua saya dibukakan. Semoga adik adik saya dijaga selalu olehmu, Tuhan. Pada siapa lagi saya bisa menitipkan mereka kalau bukan padaMu? Tidak usah terlalu pedulikan saya juga tidak apa… tapi tolong jangan buat mereka menangis. Saya tahu saya tidak bisa apa apa saat ini… Maka saya serahkan semua ke tanganMu. Tolong ulurkan ia buat buka jalan yang terbaik buat ibu, ayah dan adik-adik saya, juga saya jika memang memungkinkan. Aku selalu percaya pada jalanMu. Aku selalu tahu apapun yang terjadi pasti ada alasannya dan buat yang terbaik. Tapi tolong kali ini pertimbangkan adik kecilku, Tuhan… Jangan biarkan dia menangis sedih dan kecewa.

Keluarga saya memang tidak sempurna. Tapi tanpa saya sadari saya sangat mencintai mereka semua sepenuh hati saya. Bahkan saat bertengkar dan ribut. Saat liburan yang jadi ga menyenangkan karena ada saja keluhan keluhan. Saat menonton bersama di ruang tamu… Saya tahu kami tidak utuh, Tuhan. Saya tahu mungkin kami ini retak sana sini. Tapi tidak apa, ya Tuhan… saya mau mereka tetap ada dan satu dalam hidup saya. Saya janji tidak akan mengeluh lagi tentang mereka.

Saya tidak bisa apa apa…

Hanya bisa berdoa…

Memohon padaMu Tuhan, supaya Kau mau ada.

7 comments on “Family Portrait

  1. mirma yudha
    May 31, 2010

    setelah baca ini jadi merasa sedih😦
    sabar ya mbaaa..

    Hehehe… aku juga sedih pas nulisnya😀 Makasih say…

  2. de asmara
    June 1, 2010

    ahhh, ternyata permasalahn tiap keluarga kurang lebih sama saja ya… keluarga teman2 kantor, keluarga teman2 maya, bahkan keluarga saya sendiri. Kamu nggak sendirian, sayang.

    Ayo kita terus berdoa agar keputusan apapun yg kelak diambil, adalah yg paling sedikit menimbulkan luka. Meski secara ‘egois’, menurut saya sebaiknya bundamu menunggu bbrp tahun lagi agar si bungsu sudah cukup stabil dan lebih dewasa dalam memandang hidup.

    Semoga… rasanya itu mulai dipertimbangkannya🙂

  3. yendoel
    June 2, 2010

    natz, every problem has expiry date. semoga semua masalah segera berlalu yah. dan semoga yg terbaiklah yang terjadi di keluargamu. turut bantu doa dari jauh

    Amien… moga2 cepet basi😀

  4. Latree
    June 8, 2010

    sabar Nat, semoga tuhan berikan jalan yang terbaik untuk semua…

    Amien.. makasih bude🙂

  5. senny
    June 8, 2010

    baca posting lo, gue jadi bersyukur dengan keadaan orang tua gue, at least mereka tetap bertahan dan ga cerai😉

    U keep it that way🙂

  6. Tyka Ndutyke
    June 28, 2010

    diakhir sebuah perjalanan yg telah dijalani dan diusahakan dengan segenap hati & kemampuan untuk membuatnya mjd yg terbaik yg bisa, Alloh menjanjikan yang terbaik.

    dan mungkin perpisahan orang tua jeng natazya adalah yg terbaik.

    turut berdoa supaya si bungsu bs diberi ketabahan & kemudahan oleh Alloh untuk menjalani hidupnya pasca perpisahan ini.

    🙂 Thanks ya…

  7. Pingback: Tahun 2010 Saya… « If its Not So Important To U, Well It Is For Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 31, 2010 by in Family, keluarga, Marriage Life.

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: