If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

Bukan Keadaan yang Memainkan Kita

Oleh, Puji Hastuti


Seperti Kartini yang berjuang dalam gelap gulita lingkungan sekitarnya. Tekatnya yang kokoh membuat kini aku yang juga seorang perempuan sama seperti dirinya memiliki keinginan yang kuat agar juga bisa mengubah dunia, untuk kaumku yang lebih baik.

Perempuan perkasa label ini yang telah cukup lama disematkan kepadaku. Seingatku aku telah menyandang predikat ini sejak aku kelas 2 SMP. Sesungguhnya aku tidak suka dengan predikat yang diberikan oleh teman-temanku tercinta ini. Tapi apa daya, aku anggap  hal ini merupakan sebuah bentuk perhatian mereka kepadaku. Bukannya tanpa alasan mereka memberikan gelar kehormatan ini. Aku juga memiliki andil dalam hal ini. Perilaku ku memang sedikit seperti anak laki-laki. Aku sama sekali tidak suka bersolek atau memakai pernak-pernik kecantikan apapun. Aku pun sangat benci dengan warna yang bercirikan perempuan yakni pink.

Pada saat dibangku SMA kelas 2 aku memutuskan untuk berangkat kesekolah naik sepeda. Padahal jarak sekolah dengan rumahku jauh. Aku kurang bisa memperkirakan jaraknya. Tapi, kalau di tempuh dengan motor bisa 45 menit. Aku biasa ditemani oleh dua orang teman laki-laki ku. Mereka adalah Ridho dan Bayu. Itupun tidak setiap hari, karena mereka yang biasanya berangkat kesekolah dengan mengendarai motor hanya setiap hari jumat berangkat kesekolah naik sepeda. Teman setiaku setiap pagi adalah barisan sepeda ontel yang mengangkut karung beras.

Hal ini aku lakukan bukanya tanpa alasan. Mungkin aku tidak akan berperilaku seperti seorang laki-laki ataupun memilih berangkat ke sekolah naik sepeda jika aku adalah akan seorang juragan yang mungkin segala kebutuhan dengan gampang tercukupi. Aku bisa dengan mudah membeli baju-baju feminim yang mahal ataupun perlengkapan kecantikan yang biasa dipakai oleh teman-temanku. Aku tentunya akan lebih memilih untuk naik motor ketimbang harus bercucuran keringat mengendarai sepeda. Namum, apa daya. Aku hanyalah anak seorang satpam yang memiliki gaji tidak seberapa. Bahkan selalu kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, aku tidak mau menyerah dengan keadaan ini. Aku harus menjadi seorang perempuan yang maju. Sehingga aku harus berusaha dari sekarang, aku harus banyak menyucurkan keringat bahkan darah dari sekarang untuk menciptakan tawa bahagia bagi kedua orangtuaku  yang telah berpayah-payah untuk membiayai hidupku.

Sikapku yang tomboy telah membuatku untuk hidup irit. Biasanya para perempuan kan suka jajan ataupun belanja, namun aku tidak. Apalagi aku berangkat kesekolah dengan mengendarai sepeda, semakin utuhlah uang jajanku yang seharusnya juga terpotong untuk ongkos naik angkot ke sekolah. Biasanya uang tabunganku aku gunakan untuk membeli perlengkapan sekolah ataupun benda-benda yang aku rasa perlu.

Namun, aku berfikir bahwa aku tidak bisa selalu mengandalkan uang tabunganku. Mengingat tambah banyak kebutuhanku. Kadang kala uang jajanku habis seketika. Bahkan sampai tidak ada yang tersisa untuk ditabung. Hah…..ini yang aku tidak suka. Aku berfikir apa yang bisa aku lakukan untuk mengakali uangku supaya tidak cepat habis. Terpikirlah sebuah ide saat aku mengikuti sebuah seminar Entrepreneurship yang diadakan oleh salah satu instansi.

Saat itulah aku sangat berambisi untuk menjadi seorang pengusaha. Aku berfikir jika seorang pengusaha adalah profesi yang mulia. Bukan hanya berfikir untuk menolong diri sendiri ataupun keluarga, namun disini juga dituntut untuk menolong banyak orang lain. Pengusaha adalah sebuah profesi yang memungkinkan kita untuk menyumbang lebih kepada yang membutuhkan. Tentunya sesuai dengan yang kita lihat sekarang bahwa pengusaha tentunya akan lebih gampang menyumbang dengan jumlah yang relatif besar dibandingkan dengan pegawai.

Aku ingin jagi pengusaha. Saat ini aku ingin menjadi pebisnis. Namun, bisnis apa? Bisnis apa yang cocok untuk anak SMA seperti aku? Modal? Bagaimana dengan modalnya. Apakah uang yang aku punya cukup untuk menjadi modalnya. Bingung tujuh keliling aku dibuatnya. Namun, aku menikmati kebingungan ini, hingga muncul suatu ide untuk berbisnis PULSA ELEKTRIK. Dengan modal 300ribu aku pun mempunyai chip sendiri untuk menjual pulsa. Konsumen pulsaku adalah teman-teman SMA ku serta beberapa tetangga sekitar rumah. Lumayan untuk seorang pelajar seperti ku, aku hitung-hitung sebulan aku bisa mengantongi untung bersih 100ribu per-bulan.

Semakin sibuknya tugas sekolah aku pun semakin kualahan untuk menjalani bisnis ini. Aku pun teringat akan seminar Entrepreneurship yang aku ikuti, usahakan selalu ada peningkatan dalam setiap bisnis yang anda jalani walaupun sekecil apapun itu. Aku mencoba mengajak teman-teman terdekatku untuk ikut berbisnis. Aku membagi tugas kepada mereka untuk lebih memudahkanku dalam pengoprasionalan bisnisku. Hal ini sangat membantuku, aku semakin mudah dan ada nilai kepuasan tersendiri ketika aku memberikan gaji kepada mereka. Walaupun rata-rata penghasilan orang tua teman-temanku lebih tinggi daripada penghasilan orangtuaku, namun aku bisa menggaji mereka. Aku sangat senang ketika membuat mereka bahagia menerima gaji mereka perbulan. Walaupun gaji yang aku berikan tidak seberapa tapi gurat-gurat senyum bahagia tergambar dari pancaran wajah mereka. Belum lagi aku bisa menyumbang lebih untuk pembangunan mesjid SMA. Bahagianya aku.

Mungkin, tidak hanya kebahagiaan saja yang menghiasi pengalamanku berbisnis pulsa. Aku juga mengalami beberapa hal yang membuat aku sedih. Seperti banyaknya teman-teman yang seenaknya saja meminta pulsa sedangkan enggan untuk lekas membayar. Jadilah modalku tersendat. Aku cukup mengalami kerugian dalam hal ini. Sampai usaha pulsaku aku tutup karena hal ini. Banyaknya orang-orang yang tidak membayar pulsa kepadaku bukanlah satu-satunya alasan aku menutup usaha pulsaku. Selain sebentar lagi aku sudah meninggalkan sekolah ini, uang pulsa yang tersisa didompetku juga aku gunakan untuk membeli formulir masuk sebuah perguruan tinggi negeri di Depok. Tanpa diduga-duga aku adalah salah satu orang yang beruntung untuk masuk menjadi salah satu mahasiswa di perguruan tinggi negeri itu. Universitas Indonesia adalah Perguruan Tinggi Negri tempat aku menimba ilmu sekarang.

Menjadi tukang pulsa adalah bisnis pertamaku dan menjadi tonggak awal untuk bisnis-bisnisku yang selanjutnya. Aku sempat menjadi penjual tiket bedah kampus Universitas Indonesia sewaktu SMA. Lumayan untungnya, aku hitung 200ribu telah aku kantongi dari bisnis penjualan tiket ini.

Menjadi tukang pulsa dan penjual tiket bedah kampus merupakan jalan emas yang menghantarkan aku ke Kampus Biru ini. Aku mendapat Biaya Operasional Pendidikan (BOP) berkeadilan untuk membayar biaya persemester yang berarti aku hanya membayar 200ribu per-semester. Syukurku, pada Mu yang telah membukakan jalan emas ini. Mungkin aku tidak akan mendapatkan kenikmatan seperti ini jika aku tidak pernah berfikir untuk menjadi pengusaha. Aku tidak akan banyak membantu orang dan tidak akan mampu berinfak banya jikalau aku tidak menjadi tukang pulsa pada waktu itu. Hal ini mungkin yang membukakan pintu nikmat-Nya mengalir deras kepadaku.

Kini aku sedang menjalankan usaha batik dan beberapa pakaian muslimah. Walaupun bisnisku belum berjalan dengan baik, aku sudah berani untuk menggaji beberapa temanku untuk menjadi pegawaiku. Aku yakin, dengan hal ini setidaknya aku sudah dapat membantu mereka. Keuntungan yang aku dapatkan tidak seberapa tapi cukuplah bagiku. Omsetku per-Minggu adalah 150ribu. Bagiku untung memang penting dalam menjalankan suatu usaha. Namun, tidak menjadi satu-satunya hal yang penting. Karena hal yang penting bagi seorang pengusaha adalah sejauh mana keberadaanya bisa berarti untuk banyak orang. Aku memiliki mimpi untuk menggaji satu juta karyawan. Serta aku yakin akan mendapatkan satu juta karyawanku dengan bantuan doa keluargaku dan empat orang karyawan yang sekarang aku miliki.

Tidak hanya pasrah pada keadaan yang ada. Namun, kita harus bisa mencoba ikut bermain degan keadaan yang telah di ciptakan Sang Khalik untuk kita. Aku hanyalah perempuan biasa yang mengawali langkah dari kayuhan sepeda yang berpacu dengan speda ontel dipagi hari. Aku adalah seorang perempuan yang bercucuran keringat dan bau matahari disaat teman-teman sebayaku wangi bermandikan semerbak parfum. Aku hanyalah seorang anak perempuan dari seorang laki-laki yang berprofesi sebagai satpam. Aku hanyalah perempuan yang ingin sekali tidak ingin dipermaikan oleh keadaan. Aku adalah wanita kuat yang mempunyai mimpi untuk mengubah dunia. Menjadikan dunia ini indah bagi semua umat manusia.

Aku, kamu, dan kita semua adalah perempuan-perempuan tangguh yang bisa mengubah dunia…

Puan

Oleh puji

Adalah kau sumber kehidupan

Kau lembut dan penyayang

Kau perhiasan dunia

Puan

Pancaran mata sumber kekuatan

Kelembutan dan keperkasaan menyatu dalam sosok mu

Puan

Belaianmu melesatkan roket kesuksesan itu

Matahari di ladang kebekuan

Lentera digelapnya kehidupan

Puan

Jangan lagi relakan dirimu terinjak

Begitu mulianya dirimu

Puan

Sadarkan lah dirimu akan kemulyaan itu

Mulyakan dirimu sehingga mereka pun akan memulyakan mu

Puan

Semangat untuk mengejar bintang mu!!!

Untuk kita perempuan-perempuan terhebat yang dimiliki oleh dunia ini……


4 comments on “Bukan Keadaan yang Memainkan Kita

  1. indarpuri
    May 2, 2010

    like this….hope you dream come true puji !

    Amien…

  2. ossmed
    May 2, 2010

    semangatttt!!! like thiss

    Makasih🙂

  3. dian
    May 10, 2010

    semangat!!
    kita bisa asal kita percaya😉

    Indeed!😀

  4. mbapuji
    May 20, 2010

    yapssss^^…percaya.percaya..percaya

    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 1, 2010 by in Feels and Thoughts, Women's Issue and tagged , , .

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: