If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

Bisik Bisik Tetangga

Bisik bisik tetangga… kini mulai terdengar di telingaaaaa…


Well, saya cuma hafal sampai situ ajah sih liriknya. Bukannya ga cinta sama musik yang Indonesia banget ini, tapi emang ga suka. That’s it. Ingat lagu ini juga karena salah seorang tetangga memainkannya keras-keras sambil cuci motor di pagi hari. Kadang berselingan dengan jeritannya Nike Ardilla, atau juga Melayu jaman dulu si Exist tea… pada masih inget ga? Saya merasa dipaksa buat hapal lama-lama!😆

Kalau cuma sebegitu sih, saya merasa ga masalah yah… terserah loe deh mau puter apa! Kalau sudah menyalakan PC juga saya pasti putar itu playlist saya sendiri yang sangat menyenangkan karena banyak sekali lagu Glee di dalamnya dan harus kencang supaya ga teredam suara ST 12 dari rumah depan. Hal yang begitu sih masih bisa ditoleransi yah… Tapi ada beberapa hal yang membuat saya menjadi merasa haram buat berdekatan dengan tetangga.

Dulu, saya berpikir bahwa orang yang suka sibuk ngomongin kalau ada orang lain yang punya barang baru dan iri dan segala macam hanyalah tante-tante yang hobinya arisan, pakai perhiasan bareng tokonya, dan menyeret suami jadi koruptor karena banyak mintanya. Mereka mungkin sekali akan bergosip tentang salah seorang yang mereka kenal yang baru beli mobil baru lah, pakai perhiasan dan berlian baru lah, dan segala macamnya. Entah kemudian mereka ikut melakukannya karna ga mau kalah atau apalah. Slama ini begitu yang saya kira.

Sampai saya tinggal di lingkungan ini, yang padahal kebanyakannya adalah orang susah, dan punya tingkah laku tercela yang sama. Ga sama sekali dengan maksud merendahkan, saya  memang bertetangga dengan bermacam orang yang dulu profesinya sama sekali ga kelihatan oleh saya. Ada pemulung, ada pedagang lotek pinggir jalan, dan banyak kuli bangungan dan bahkan Office Girl di radio saya kemarin. Saya tinggal di Jln Buah Batu yang langsung menyambung dengan Jln Karapitan, dalam sebuah gang yang pendek dan ga sampai 10 rumah yang ada disitu. Rumahnya pun kecil-kecil. Alhamdulillah rumah yang saya tempati nampaknya yang paling layak huni. Nah! Dimulai dari situ. Buat saya rumah saya sih ga terlalu besar, cukuplah buat pasangan muda kaya kami, dan mungkin nanti dengan 1 anak bayi (AMIEN…) Rumah dengan 3 kamar yang 1 kamarnya jadi gudang, dengan 1 ruangan luas yang jadi ruang tamu, ruang kerja dan ruang makan sekaligus, 1 kamar mandi besar dan jemuran di atap. Normal kan? Gede darimananya?

Tapi ya… memang kalau orang susah, pola pikirnya beda ya… Ga jarang ada orang yang iseng sekali ngajak saya atau suami ngobrol dan belakangannya bertanya, “Ngapain sih  baru berdua aja kok tinggal di rumahnya gede-gede amat? Mending nanti pindah aja ke kontrakan situ tuh di belakang jauh lebih murah…“. Mending itu kata mereka, lho. Karena kontrakan yang dimaksud adalah kalau bisa dikatakan rumah dengan 1 ruangan di bawah dan 1 ruangan di atas yang kecilnya ga kira-kira.

Ga cuma sampai disitu aja usilnya tetangga-tetangga saya. Mereka juga suka bertanya kenapa saya dan suami ga pernah keluar rumah dan “bekerja”. Suka ditanya saya kerja dimana, suami kerja dimana, dan suka heran kenapa kita ga pernah bangun pagi (umumnya habis Subuh suami saya justru baru tidur dan bangun siang, istrinya ga pernah sudi bangun di bawah jam 7 sekalipun habis Subuhan ya tidur lagi aja… lha wong tidur aja udah lewat dari jam 12 malam kok). Sampai akhirnya ada satu orang yang super kurang ajar bertanya, “Ini yang biayain orang tuanya ya neng?”. Pengen nampar. Kalau saja bukan ibu-ibu tua… Mereka juga suka bergosip tentang kami yang di rumah terus dan penasaran apa saja yang kami lakukan. Sumpahnya, dulu hampir setiap orang yang lewat di depan rumah kami SELALU MENENGOK ke dalam seakan penasaran ada apa di dalam sini! Anak tetangga samping rumah yang berbagi listrik tadinya sama saya pernah melongok di jendela yang memang langsung di depan rumahnya (karena tadinya ini adalah satu rumah) ke dalam rumah kami dan langsung bertatap mata dengan suami saya yang memang lagi di depan PC, dan berteriak ke arah rumah, “Ada di rumah da lagi main komputer!“. Orang tuanya langsung ribut dan memanggil si anak ke dalam rumah. Betapa gobloknya. Mereka pikir kami ga bisa lihat mereka dari jendela ini ya?

Saya pernah mencoba buat ngobrol dan mendekat pada ibu-ibu disini dan mengobrol. Tapi ya bagaimana lagi, ya. Kami memang lain dunia dan ga punya satupun subjek yang nyambung buat dibicarakan. Mana mereka ga toleransi pada saya, ngobrol pakai bahasa Sunda! Padahal kalau saya ngomong pakai Bahasa Sunda yang keluar adalah bahasa yang kasar, bukan dengan sengaja tapi karna memang cuma itu yang saya bisa. Nanti dianggap ga sopan juga… Males kan? Ga cuma itu… udah mah ga nyambung, eh mereka suka NGOMONGIN ORANG LAIN!!! Damn… Saya kenal juga ngga sama orang yang diomongin, ngapain diajak ikutan ngomongin? Akhirnya saya menyingkir begitu saja… toh kata Mario Teguh juga ga usah terlalu dekatlah dengan orang yang ga bawa manfaat bagi kita. Diajarin bisnisan sama saya juga mereka ga bisa. Dan merasa sudah terlalu sibuk dengan kerjaannya, padahal kebanyakan ibu-ibu disini ya cuma ngegosip sambil nyuapin anak aja!

Ya sudahlah… urusan mereka… Tapi ternyata mereka punya hobi kaya tante tante kaya yang saya bicarakan di atas juga! Saat saya pindah rumah, jelas banyak sekali barang baru yang kami beli yang memang perlu menurut kami. U know what, tiap kami habis beli barang baru seperti kulkas, TV kecil, lemari, dan terakhir lemari piring, para tetangga bahkan dari dalam rumah mengintip dan melihat kami dengan pandangan yang aneh seakan membeli barang baru adalah dosa! Udah gila! Karena juga rumah saya ada di depan rumah tetangga lain yang kompornya di taruh di luar mendempet tembok belakang saya dan suka bikin rumah saya baru dengan kompor minyaknya, kadang-kadang gosipan mereka pun kedengeran oleh kami! Pada suatu hari masih saja ada kalimat seperti, “Nya, si eta meuli bla bla bla”, yang saya ga bisa tulis dengan baik karena saya ga bisa bahasa Sunda dan saya ga dengerin lebih lanjut. Menggelikan. Padahal orang mau beli barang baru kaya apapun ya urusan sendiri, kan? Sama seperti kami yang baru menikah mau tinggal di rumah yang menurut orang terlalu besar buat kami pun, emang apa urusannya dengan mereka? Kami membayar sendiri semuanya dan membiayai rumah tangga kami berdua tanpa bantuan siapa-siapa, sekalipun mereka ga pernah lihat kami “kerja”. Masih ada sedikit hutang malah kalau mau jujur karna dulu waktu awal menikah kami benar-benar kesulitan dengan semuanya sendiri, tapi toh makin sedikit dan insya Allah bulan depan beres dan melanjutkan hidup yang benar-benar mandiri. Ah… tetangga… kalian itu tau apa?

Jadi sekarang saya ga bertetangga. Malas ketemu ibu ibu ajaib itu. Suami saya sih masih ada “teman” nya disini, dekat dengan salah seorang yang punya kios di samping masjid. Itu juga jarang… Mendingan dia kerja di depan komputernya, yang kalau kata anak-anak kecil disini “main komputer melulu”. Oh ya, komputer juga barang langka disini.

Saya ga akan selamanya tinggal di lingkungan ini. Buat tahun-tahun pertama pernikahan kami sih ini cukup menyenangkan. Dengan harga yang terjangkau (buat kami) dan lokasi yang dekat kemana-mana, cukup nyaman lah.. Tapi kalau sudah punya anak nanti, saya sama sekali ga akan membiarkan anak saya lebih dari 1 tahun tinggal disini. Rasanya ga mau kalau anak saya punya lingkungan pertama yang seperti ini. Sama sekali ga bagus buat perkembangan anak!

Sekali lagi, mari gunakan prinsip ini :


MIND YOUR VERY OWN BUSINESS!

5 comments on “Bisik Bisik Tetangga

  1. christin
    April 30, 2010

    iya ya sekarang gak papa deh non ditahan2 dulu ya.. nanti carilah rumah dengan lingkungan yang lebih baik buat anakmu🙂

    yang sabar ya?😀

    Aku lelaaaaahhh😥

  2. echa
    April 30, 2010

    Hahaha!!!
    Emang begitu kehidupan kelas bawah ceu, suka mau tau aja.
    Bayangkan, gw pernah ditanya gajinya berapa sama pembantu gw, dan menurut mereka PNS itu keren.
    Kalo ada laki gw, dia juga tanya kerjanya dimana, bagian apa, manager bukan?

    Gw sih menerapkan strategi pura2 ga denger atau jawab “mau tau aja atuh!”

    Gw pengennya sih pindah hiks hiks

  3. de asmara
    April 30, 2010

    prinsip nyokap gue sama tetangga2 model gitu “terlalu jauh jangan, terlalu deket jangan”

    karena itungannya bukan komplek, dan masih banyak pula yg pola pikirnya primitif, daerah rumah gue juga rada2 gitu tuh, meski ga separah kamu. secepatnya lah cari tempat yg lebih ‘sehat’ buat surga kecilmu ya…

    Pengen pindah hiks hiks hiks

  4. ndutyke
    April 30, 2010

    Wah wah wah. Sungguh sangat bertolak belakang dgn kondisiku dan suami skrg. Ga lama setelah menikah, kami pindah ke rmh kontrakan yg situasi kehidupan pertetangga’annya beda bgt ama kompleks tpt tinggalku sblm merit dimana semua tetangga saling mengenal & byk yg pny anak seusia dgn-ku. Udah kyk sodara deh. Nah di rumah kontrakanku skrg, udah lewat 2 thn nih tinggal disini, tampangnya tetangga sebelah kananku tuh kayak apa, sekalipun aku ga pernah liat. Nama tetangga kanan-kiri siapa, aku ga tau dan herannya jg ga ada niatan cari tau. Ckckck… Kebalikan buanget sama kondisi-mu ya jeng, hehehe. Tp ah ga asik ah hidup bertetangga model begini =p walo enak jg sih, bebas gosip, hihihi…

    Could we trade live????

  5. Pingback: Tetangga Masa Gitu? Tetangga Yang Baik Adalah Rejeki. | If its Not So Important To U, Well It Is For Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 30, 2010 by in curcol misah misuh, Feels and Thoughts, Marriage Life and tagged , , , .

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: