If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

antara bersyukur dan belum puas

Hampir sebulan saya magang di sebuah SD di bilangan Dago sana, mengenal satu persatu anak anak yang sedang berkembang memasuki masa remaja mereka pelan pelan. Mengenali diri sendiri dan merengkuhnya sepenuhnya.

Ada beberapa anak yang menarik perhatian saya dari 41 murid di kelas 5 yang saya tangani. Beberapa di antara jadi perhatian saya tentunya karena merupakan incaran buat diberi konseling di akhir program magang ini. Anak anak ini adalah mereka dengan nilai yang sangat jelek dan jauh sekali di bawah rata-rata kelas, juga ada diantaranya yang memperparah keadaan dengan kemampuan penyesuaian sosial yang buruk. Penyebabnya jelas macam macam, yang jadi lebih terbuka diadakan home visit.

Tapi ada juga yang jadi perhatian saya bukan karena nilainya yang rendah ataupun ketidakmampuannya melakukan penyesuaian sosial dengan lingkungan yang buruk. Anak yang satu ini jadi “teman sebangku” saya pada hari pertama saya memasuki kelas tersebut. Dilihat lihat anak ini pintar juga. Rajin menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru pada saat gurunya sedang menjelaskan sambil mengetest pengetahuan muridnya. Pada saat ulangan, anak ini agak berisik tiap selesai mengerjakan satu soal yang lebih sering dilakukan secara dikte dengan sedikit pamer bahwa dia tahu apa jawaban dari soal yang baru saja diselesaikannya padahal sebagian besar kelas masih mengerjakan. Pada saat memeriksa ulangan dengan ditukar pada teman meja sebelah, anak ini sibuk memeriksa ulangannya sendiri sudah ada yang salah atau belum, sekaligus juga sibuk bertanyatanya pada teman yang lain sudah salah berapa. Belakangan saya ketahui bahwa yang dia tanya adalah orang yang jadi saingannya jadi juara kelas.

Oh… rupanya dia juara kelas. Wajar dong kalau pandai? Seharusnya sih. Tapi ketika di cek pada guru kelas, ternyata yang dikatakan pandai menurut ukuran kelas itu jauh di bawah rata-rata pandai pada kelas sebelumnya. Pernah tidak ada yang bertanya lebih baik yang mana, pintar di antara yang bodoh atau bodoh diantara yang pintar? Anak ini juga jadi salah satu perhatian saya. Karena berdasarkan test seharusnya dia bisa mencapai lebih tinggi dari yang dicapainya sekarang. Sungguh sayang kalau berhenti jadi under-achiever seperti sekarang. Yang menyedihkan adalah ternyata anak ini hanya sampai sebegitu saja, karena dia sudah merasa puas.

Dia sudah merasa cukup puas menjadi lebih baik dari teman teman sekelasnya, sehingga dia tidak merasa perlu buat berusaha untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya. Buat apa? Toh sekarang saja sudah jadi yang pertama?

Dipikir-pikir, dalam kehidupan sehari-hari juga ga jarang yah. Menemukan seseorang atau menyadari diri sendiri yang sudah merasa puas dengan sesuatu dan berhenti sampai disitu, walau sebetulnya masih bisa lebih lagi.

Lho? Kan memang ga boleh ga pernah puas?

Hm… entah kenapa sejak mengenal si anak itu, beberapa hari kemarin saya sempat berpikir banyak soal tidak pernah puas ini. Entah kenapa juga pada akhirnya saya merasa bahwa seseorang memang seharusnyalah buat tidak pernah puas dalam melakukan apa saja yang baik buat dirinya. Tidak pernah puas, yang dibarengi dengan rasa bersyukur. Yang satu itu harus ada juga tidak boleh ketinggalan.

Karena tidak pernah merasa puas, akan mendorong seseorang buat tetap berusaha, dan tidak berhenti begitu saja. Adanya bersyukur menghentikan seorang dari mengeluh dan berkeluh kesah akan apa yang sudah didapat ataupun baru sebegitu saja didapat.

*update : ada sedikit mislead kayanya yah🙂 saya ga sedang mau menitikberatkan pada si anak kok… i was talking about us, people in general.. ataukah ga mengakui bahwa kadang terlewati garis tipis antara bersyukur dan belum puas itu sendiri? ya tidak apa apa sih…🙂 but then again… its not about the kid i was writing it🙂

16 comments on “antara bersyukur dan belum puas

  1. Huang
    May 1, 2009

    touching story ^^

  2. JAUHDIMATA
    May 1, 2009

    Saya beum puas jeng😀
    hehehehe

  3. .lala
    May 1, 2009

    bukan tidak pernah puas, tapi memaksimalkan potensi.

    aduuhhh.. kangen ma lu..
    td malem mau sms, eeehhh.. bisi keur pacaran.. hihihihi…

    kumaha? kumaha? kumaha?…

  4. Menik
    May 1, 2009

    manusia selalu terlahir dengan rasa kurang puas yg tak berbatas.. apa kabar neng ?🙂

  5. ray rizaldy
    May 1, 2009

    mungkin gedenya jadi sadomasokis tuh.😛

  6. daokt
    May 1, 2009

    postingan bagus deh…..jangan lupa monitor terus di blog …ya mbaaak….
    makasiiiih…

  7. christin
    May 2, 2009

    iya betul. tetep harus berambisi meraih sesuatu yg lebih tinggi tapi jangan lupa jg bersyukur.
    hidup itu indah kalo kita bisa nikmati. tul gak neng? :p

  8. Novri
    May 2, 2009

    Yg namax manusia, kapan puasx?

  9. Novri
    May 2, 2009

    Bersyukur…

  10. latree
    May 2, 2009

    tapi kadang susah ngukurnya…

  11. enggar
    May 2, 2009

    Setuju sama Lala, memaksimalkan potensi. Banyak anak-anak yang IQ nya tinggi tapi EQ nya rendah. Salah satunya, karena umur mereka yang belum matang untuk anak seusianya. Solusinya mungkin mengenalkan mereka pada sebuah tanggung jawab, semisal jadikan dia ketua kelas🙂.

  12. ubadbmarko
    May 3, 2009

    Madu gula manis rasanya
    rindu juga lama ga jumpa
    Kok, jadi guru, gimana siarannya ?

  13. masnoe®
    May 3, 2009

    lama tak udud salith . . . . mari kita lebih banyak untuk bersyukur salam kenal mbak

  14. devilkazuma
    May 3, 2009

    saia dulu begitu. pas sd. selalu merasa puas klo dah jd nomer satu di kelas, tapi kemudian sewaktu masuk smp, lgs ngedrop, karena ternyata ada banyak yg lebih unggul dari saia. *smp-nya dulu termasuk smp unggulan*
    nah, karena waktu itu sama skali ga ada yg memberikan saia semangat, alhasil, saia langsung ngedrop, trus berpikir bahwa saia ini ternyata bodo. smoga aja anak tersebut tidak seperti saia, melihat ada yg lebih tinggi tetep mau bersaing, bukan lgs ngedrop.

  15. natazya
    May 4, 2009

    @huang : its not a story and its not supposed to be touchy🙂

    @jauhdimata : saya juga belum

    @lala : kamana waeeeeeee??????

    @bunbun : always… sini sini aja bun hehe

    @kribo : sok tahuh :p

    @daokt : tengkyu🙂

    @christin : yeap!!! dem rite!!! ^^

    @novri : hahahha argumen yang paling mudah ya… karna manusia hehe

    @mbakyulat : yang ngukur harusnya emang diri sendiri🙂

    @enggar : heheheh iya buuuu😀

    @ubad : wah… udah resign dua bulan :p lama ga mampir ya?😉

    @masnoe : sip🙂

    @kazuma : hehehhe wajar ko karna kadang liat ke atas itu silau🙂

  16. naki
    May 5, 2009

    wahh uda sebulan aja ya nat magangnya , gimana uda mulai betah kan😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 1, 2009 by in Feels and Thoughts and tagged , , .

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: