If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

Perempuan dalam Film

Sudah nonton The Duchess belum? Itu lho… film terbarunya Kiera Nightley dan Ralph Fiennes yang diambil dari kisah nyata seorang Georgiana Cavendish, Duchess of Devonshire. Awalnya kalau cuma lihat posternya sih seperti sebuah cerita kerajaan yang manis dengan banyak mimpi-mimpi indah di dalamnya.

Ternyata saya menghabiskan 110 menit yang berujung pada sebuah kekecewaan dan kekesalan!

Hm… saya ga mau banyak cerita soal film ini karena saya ga terlalu suka, tapi kehidupan yang dijalani oleh Georgiana sama sekali tidak berpihak pada dirinya, dan pastinya jauh dari itu yang namanya adil! Kenapa? Karena dia “cuma” seorang istri dari seorang Duke of Devonshire yang arogan dan memandang istrinya sebagai benda miliknya yang harus menjaga “nama baiknya” di hadapan masyarakat.

Percuma rasanya kehebatan yang dimiliki Georgiana yang jago mendisain baju-baju yang dipakainya sendiri dan jadi trendsetter pada masanya, kepandaiannya dalam politik, dan segala kehebatannya dalam menulis naskah teater yang diambil dari kehidupannya sendiri, karena pada akhirnya dia tidak bisa sepenuhnya menjalani hidupnya sesuai dengan apa inginnya.

Status sebagai Duchess mengikatnya dan membuatnya harus rela menerima ketidakadilan yang dilakukan suami jahatnya kepada dia. Serumah dengan istri kedua suaminya dan anak-anaknya, padahal seharusnya perempuan itu jadi sahabatnya. Memang dia punya alasan untuk itu, tapi bukankah seharusnya Georgiana juga punya pilihan buat pergi? Tapi ini tidak… dan itu sangat mengesalkan buat saya yang lahir jauh bertahun-tahun sesudahnya.

Kemudian lihat satu film juga (ceritanya beberapa minggu ini pulang dari sekolah langsung rajin nonton kalau sedang bosan tidur siang) yang diambil secara acak waktu kemarin seperti biasa “kunjungan” ke Vertex. Judulnya The Women.

Saya suka karena Meg Ryan yang main di film ini. Entah kenapa kalau buat saya Meg Ryan berkorelasi dengan komedi romantis yang manis (sekalipun film terakhirnya The Deal ga begitu ok) jadi rasanya film yang satu ini juga seharusnya adalah film yang manis, apalagi karena perempuan yang jadi inti ceritanya.

Dan sekalipun belakangan saya baca di website film di luar sana yang bilang kalau ini hanyalah film remake yang jauh kalah bagus dari film sebelumnya, buat saya ga penting. Yang penting adalah ceritanya “megang” banget! nyahahaha masih suka geli sendiri kalau menggunakan kata “megang” :p

Bercerita tentang Mary Haines, perempuan yang entah kenapa look messy dan ga terawat padahal orang kaya jelas, sebagai penulis best selling novel dan suami yang ga kalah suksesnya. Mary yang merasa hidupnya baik-baik saja jadi kacau setelah tahu bahwa suaminya selingkuh dengan seorang perempuan sales parfum bernama Crystal Allen yang super seksi dan jauh lebih muda dari dirinya.

Yang saya suka adalah bagaimana di sini diperlihatkan kekuatan persahabatan antara perempuan, dimana ketiga sahabat setia Mary (Sylvia, Edie dan Alex) ripuh sendiri, mulai dari cara memikirkan bagaimana memberi tahu pada Mary tentang suaminya yang berselingkuh, berada di sisi Mary saat perpisahan terjadi, sampai beramai-ramai datang “melabrak” Crystal dengan sangat galaknya! Ah… girls… sampai usia berapapun rupanya “melabrak” perempuan perusak hubungan sahabat akan tetap jadi sesuatu yang musti :D

Mary adalah perempuan hari ini, yang memilih membebaskan dirinya sendiri. Yang tidak mau menerima begitu saja sang suami yang sudah menyakiti. Sekalipun sang ibu, si perempuan masa lalu, bilang semustinya pura-pura tidak tahu saja apa yang terjadi dan berlakulah seperti biasa sebagai seorang istri, Mary menolak mentah-mentah. Which is good for me, karena buat apa menipu diri sendiri dan makan hati sendiri? Ga ada gunanya sama sekali. Memperjuangkan diri sendiri tentunya sangat layak buat dilakukan bukan?

Berpisahlah dengan si suami. Tapi kisah tidak berhenti, karena sang sakit hati masih terasa. Juga seorang putri yang belum mengerti. Ditambah lagi masalah dengan Sylvia sang sahabat yang mempublikasikan kisahnya tanpa seijinnya. Tapi memang persahabatan di antara perempuan tidak ada yang dangkal dan hanya di permukaan. Pada satu titik itu rasa saling membutuhkan yang menang, dan tangisan penyesalan buat waktu yang sempat hilang saat bermusuhan jadi awal berbaikan. Manis sekali. Saya jadi kangen sahabat saya di Bekasi sana :( Sylvia juga membantu Mary memperbaiki hubungannya dengan putrinya.

Mary tidak diam dan kalah dengan sakit hati. Dia berusaha menjadi dirinya sendiri yang selama ini belum diikuti kata hatinya. Membuka butik sendiri dengan pakaian rancangan sendiri, kecil-kecilan tapi diiringi keseriusan akhirnya berbuah kesuksesan. Dan sang suami? Ah… laki-laki seringnya begitu. Pada akhirnya mereka pasti tahu siapa yang benar-benar ada buat mereka dan harusnya dampingi hidup mereka. Dia datang sendiri dan meminta maaf. Mary? Perempuan punya itu, hati yang begitu besar. Tidak serta merta menerima kembali… tapi mampu buat memaafkan dan memberi kesempatan buat tumbuhkan lagi kepercayaan. HEBAT!

Oh ya, di film WOMEN ini ga ada sama sekali muka laki-laki yang muncul lho! Keren lah!

Jadi anda mau jadi perempuan yang mana? Hidup seperti Duchess Georgiana yang terlihat bahagia padahal memendam kebebasan dan keinginannya dalam-dalam, atau seperti Mary, perempuan tangguh yang tidak hancur dengan ujian yang datang, dan menjadikannya satu turning point buat jadi lebih baik lagi setelah lebih mengenali diri sendiri dan memberi kesempatan untuk mengeksistensikan diri? Tanpa lupa punya kelembutan yang besar dengan kemampuan memaafkan dan memberikan kesempatan kedua. Karena kesempatan bukan cuma sekali, tapi dibuat sendiri!

Gals, be Smart and Beautiful wud u? ;)

2 comments on “Perempuan dalam Film

  1. Tigis
    April 21, 2009

    Yg jelas gue belon nonton dua2xnya dan ga tau mau jd perempuan yg mana krn jwban gue kyknya bakal : “gue hanya pengen jd laki2x…” heheh:mrgreen:

    OOT, posisi perempuan dlm pilem (dan dunia entertainment pd umumnya) gue liat smakin lama jd smakin rendah. Kebanyakan hanya jd obyek seksual. Apakah modernisasi memang memaklumi dan bahkan mensyaratkannya? ngga tau jg.

  2. Ade
    April 23, 2009

    belum nonton dua2nya dan segera menambahkan di waiting list DVD yang harus dipinjam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 20, 2009 by in muvee, Women's Issue and tagged , , , .

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: