If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

Di Sini Kedamaian Sudah Tidak Ada Lagi

Memusuhi mama

Itulah tema yang kira kira saat ini sedang ada di rumah kami. Atau justru sebaliknya ya? Mama yang memusuhi kami? Tidak bisa bilang dengan pasti… tapi ya demikianlah yang terjadi.

Dimulainya sejak kapan? Kurang bisa bilang dengan pasti. Dalam kehidupan sebuah keluarga tentunya banyak sekali yang bisa terjadi. Nah… buat yang satu ini ga bisa bilang dengan pasti awalnya darimana. Karena akhirnya pun mungkin tidak punya nama.

Tapi mungkin sejak papa menikah siri dengan perempuan Palembang bernama Rowiyantini Mochtar yang melahirkan seorang adik tiri bagi kami bernama Lenient. Itu kira kira sepuluh tahun yang lalu. Sudah lama memang… tapi rasa sakit yang ditinggalkannya masih ada. Bukan pada saya. Bukan pada si Rain nampaknya, karena kami sudah bisa terima dan mengerti adanya. Tapi rupanya pada mama…

Lalu bagaimana? Mungkin dilanjutkan dengan satu fase berikutnya. Fase kecanduan internetnya mama yang dimulai kira kira 2 tahun lalu. Dimana mama dibilang keren oleh teman kami yang ga mengerti, bahwa mama gaul itu hanyalah permulaan dari sebuah kegilaan panjang yang masih kami nantikan masanya berakhir.

Papa kemarin pulang setelah beberapa bulan dia tidak pulang juga, dan akhirnya mama marah marah. Tanpa coba mengerti sama sekali bahwa memang mungkin sedang sangat sibuknya dan toh jika ada libur yang panjang dia pasti akan pulang. Maka pulanglah, dan kecelakaanlah seperti yang sudah saya ceritakan.

Sesudah dinyatakan tidak ada sakit apa apa, papa pulang tanpa menginap di RS semalampun. Tapi papa jadi lebih banyak diam. Mungkin karena lelah. Mungkin karena pusing dan linglung sisa kecelakaan kemarin. Saya dan adik adik juga agak bingung mau gimana karena memang entah sudah sejak kapan kami ga begitu bisa seakrab dulu lagi dengannya.

Jalan jalanlah kami keluar seperti biasa tiap papa pulang. Ke BSM mau nonton Monster VS Alien supaya Arbi senang. Semua kecuali Bryan yang sedang tugas kelompok. Senang senang niatnya. Tapi dari awal berangkat saja sudah tidak nyaman. Mama ga mau ikut, harus dipaksa dulu. Menunggu lama… baru berangkat. Sampai di sana memang agak percuma mama ikut, bukannya ikut berputar putar menemani si Arbi yang main di Kota Fantasi, eh langsung duduk di food court begitu sampai, ternyata bawa laptop! Langsung berniat online hotspotan disana. Tapi memang dasar ga diredhoi. Ga nyalalah itu si koneksi sama sekali. Tapi suasana terlanjur tidak nyaman karena mama duduk menghadap ke laptopnya, dan papa yang duduk di depannya. Diam. DIAM.

Papa diam sampai pulang. Kami bingung. Ga nyaman. Selalu begini. Lalu hari Jumat berlalulah dengan sia sia. Hari Saptu juga sama. Padahal ada papa, tapi mama sibuk sendiri di kamar sepanjang hari. Paginya pergi sama Epan, padahal mobil sedang di bengkel, naik taksi, cuma buat cari koneksi internet baru buat di rumah sejak si Quasar mati dan ga mau dipakai lagi. Kami pergi. Sudah berhari hari kami di rumah saja, wajar dong kalau pergi? Toh mama dan papa seharusnya saling memiliki? Tapi ternyata tidak. Kami pulang dan papa duduk di kursi memejamkan mata. Mama di atas, main handphone, fesbukan, chatting. Bahkan buat mengingatkan minum obat pun kami, bukan dia.

Mungkin itu tidak masalah. Kalau dia tidak menelpon si Rain dan memaki kenapa pulang kemalaman, keluyuran aja, ga bener bergaulnya, padahal baru jam 8 malam dan jam 9 pun dia sudah sampai lagi di rumah. Mungkin akan tidak apa apa kalau saja dia mau dalam sehari menyempatkan diri turun ke bawah menengok keadaan, menemani papa, bertemu pacar saya yang datang mau ketemu orang tua pacarnya, bukan cuma seharian seakan dipaku di atas kasur ga turun turun dan main suruh suruh adik adik seharian.

Saya tahu dia ibu. Tapi yang terjadi hari Minggu seharusnya bukan sesuatu yang akan dilakukan seorang ibu, atau mungkin ibu yang baik. Dia seharian di atas, di kamarnya. Turun cari cari makanan, naik lagi. Main handphone kembali, chatting, telpon2an dengan teman teman yang nampaknya cuma sedang rebut cari info musti pakai provider internet apa.

Turun pada jam makan siang, bukan mau menemani papa makan karena katanya sudah kenyang, tapi langsung bertanya, di Bandung FastNet ada ga? Kalo speedy katanya harus kumpulin 30 orang dulu di Margahayu dan segala macam lagi rebut soal internet. Tidak satupun hal lain kau tanyakan atau kau niat pedulikan. Kami sudah mulai malas. Semaumulah. Padahal baru kira kira 30 menitan yang lalu papa bertanya, mama marah marah terus ya? Mama itu sekarang chatting terus ya? Mama bergaul sama siapa sih sekarang? Kok kayanya makin ga bener aja gaulnya… makin gampang marah marah… Hello… U’ll see dad.

Dan ternyata benar. Arbi pulang makan siang lalu mau main lagi keluar bawa mainan. Kau maki maki karena katamu setiap bawa mainan keluar jarang dibawa pulang. Lalu dia ngambek sebagaimana anak seusianya kalau dilarang larang. Aku saja hanya naik dan melihat keadaan Arbi lalu tinggalkan, biarkan dia mengambek sampai capek sendiri, toh ga akan selamanya. Tapi kau naik, cubiti dan tampari adikku itu sambil kau remet mulutnya! Kau sudah gila ya? Cuma karena dia mengambek begitu? Kau itu kan ibu!

Rain tidak tahan lagi. Minta Arbi sabar, bilang diemin aja mamanya… udah jangan nangis lagi… emang suka kaya orang gila kadang kadang… eh kau kumat! Kau lempar itu tas berisi entah berapa banyak buku ke mukanya yang merusak gagang kacamatanya, kau tampar dan teriak teriak di depan balkon. Dia juga berteriak. Mungkin tidak sopan. Tapi dia benar. Kau egois. Merasa paling benar sendiri. Kau mengamuk. Menyumpah nyumpah. Keluar nama binatang.

Aku bisa apa? Naik ke atas dan dapati kedua adik lagi berpelukan dan bertangisan… aku hanya bisa ikut peluk mereka berdua. Papa datang. Dia pun mungkin bingung sekarang harus bagaimana. Akhirnya cuma bisa meminta kami buat sabar seperti biasanya. Lalu dia coba buat mengajakmu bicara. Percuma rupanya hasilnya sama. Kau malah membentak suamimu, sampai dia bilang memangnya saya kacung kamu diajak ngomong malah begitu? Sekalipun tanpa menaikkan nada suara, bisa terdengar bagaimana dia kecewa. Kau malah makin menggila. Kau bilang percuma punya anak seperti kami. Ga perempuan ga laki laki. Semua ga ada gunanya. Ga bisa diharapkan. Ga ada yang membanggakan. Dan melebar. Kami dibilang salah pergaulan. Yang perempuan ga pada bisa milih pacar. Lihat aja nanti kalo udah kawin pasti bakal lebih menderita daripada gw!!! Kau tau? Kamu paling BENCI bila kau sudah mengeluarkan sumpah serapahmu itu. Tapi kami percaya, bahkan Tuhan pasti tau yang mana ibu yang sumpahnya perlu didengar mana yang tidak.

Lalu kau kunci pintu kamar setelah kau buang semua isi lemari si Arbi yang kebingungan dan menangis, kukunci saja dia di kamarku, supaya tidak terkontaminasi otaknya dengan perilakumu. Kasihan. Masih kecil. Kau mau semua anaknya terganggu jiwanya sepertimu? Aku, Rain dan Bryan sudah, bahkan Arbi kini ikut sakit. Itu maumu? Kami sama sepertimu?

Kau memang belum pernah bisa sadar juga, betapa kau sering menyakiti kamu. Betapa kau tidak mempedulikan kami. Waktu papa tanya apa saja kerjamu di rumah, kau pikir aku bisa jawab? Tidak. Karena yang kulihat kau lebih sibuk dengan duniamu sendiri. Kau pernah apa? Membereskan rumah kan kita punya si bibi, memasak kau sangat jarang. Lain lain ada Rain, ada kau. Kau?

Kau tidak sadar betapa kau sakiti hati Rain dan aku setelah ku tahu, saat kau bilang lagi dan lagi kecewa karena sudah mahal mahal menyekolahkanku dan ga berkembang, ga jadi apa apa, ga mau melebarkan sayap, pilih pacar yang begitu. Biar aja nanti waktu papa pulang dia bawa si Vei kerumah tuh biar si papa liat punya pacar kok begitu!!! Dan bilang pada Rain, kalau kamu mah gapapa pacaran aja, da kamu mah nantinya emang ga akan jadi apa apa… tapi si Mba Tasya kan ngga, dia mah pinter seharusnya bisa jadi apa saja.

Sebetulnya apa maksudmu? Apa yang kau tahu sehingga bisa menilai dan memberi label pada kami sedemikian rupa? Kau juga tidak mengenal kami kan? Apa hakmu bilang begitu pada Rain dan merendahkannya, dengan membawa bawa namaku, yang bahkan aku sendiri tidak pernah ingin jadi apa apa selain apa yang aku ingin. Apa hakmu bilang pacarku begitu tanpa pernah bilang langsung di depan muka kami? Kenapa kau selalu begitu? Bahkan kami, aku dan si lelaki kecilku yang kau hina melulu, dan Rain dengan pacarnya yang kau bilang Batam kampungan, akan tunjukkan padamu kelak dan kau boleh lihat, kami pasti bisa dan kami tidak seperti apa yang kau tunjukkan, ataupun kau sumpahkan. Kami tidak mau jadi sepertimu. Kami akan lebih baik. Dan jika Naudzubillah min dzalik kami jadi sepertimu, apakah kau tidak berpikir bahwa itu karena sumpahmu? Kami sakit, asal kau tahu, dengan semua kata katamu yang terlalu.

Kami belum melihat mukamu lagi karena sejak kemarin kau kunci dirimu di dalam kamarmu itu. Aku tidak begitu peduli, tapi kasihan Arbi asal kau tahu. Entah apa yang kau pikirkan saat siang ini kau bahkan tidak jemput dia di sekolah dan malah sibuk buat cari koneksi internet yang bisa kau pakai nanti malam.

Aku kadang tidak mengerti, setan macam mana yang merasukimu jika sedang begini…

Ah sudahlah… sudah terlalu panjang. Tak ada habisnya. Dan kau yang mungkin baca, yang pernah bilang saya cari simpati menulis begini begini. Salah. Saya ga bahkan butuh dikomentari. Saya cuma ingin tuang isi hati, karena saya ga pernah bisa tahan simpan sendiri. Ga suka. Jadi begini. Sampai nanti.

Information

This entry was posted on April 13, 2009 by in Feels and Thoughts.

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: