If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

Belajar Buat Menghormati Yang Beda, Bisakah?

Pernah dengar tentang inferioritas? Perasaan kurang yang dimiliki seseorang yang memiliki sebuah kekurangan dalam dirinya yang tidak bisa diterimanya, entah karena tidak mau atau dipaksa tidak bisa, dan sibuk berkompensasi seumur hidupnya supaya yang terlihat bukan kelemahan yang tidak disukainya?

Mari kuceritakan sebuah kisah tentang seseorang yang dilahirkan berbeda. Tidak seperti mereka yang menyebut diri mereka sendiri normal. Dia yang dilahirkan jauh lebih awal dan mengalami hambatan dalam perkembangannya. Salahnya? Oh bukan… dia kan tidak pernah meminta demikian.

Mari kuceritakan tentang mereka, orang orang disekelilingnya yang membuatnya membenci dunia. Sejak kecil secara usia dia diejek dan dihina, ditinggalkan dalam permainan, dikeluarkan dari tim olahraga, dianggap tidak bisa apa apa.

Dan kebencian mulai tumbuh. Pelan pelan… berkatarsis dalam bentuk keisengan yang merugikan, yang baginya pembalasan.

Lalu dia mulai dewasa. Dewasa. Bukan besar. Karena dia masih terlihat kecil, seakan terperangkap dalam ruangan yang memampat.

Bukan lagi teman yang memandangnya sebelah mata. Bahkan orang terdekat di sekelilingnya yang mulai terlihat memandangnya beda. Mereka yang seharusnya disebut keluarga. Mereka yang seharusnya jadi yang paling bisa dipercaya. Menyisihkannya. Tidak percaya pada kemampuannya. Meninggalkannya. Menyakitinya dengan hanya melihat dia sebagaimana yang terlihat dan tidak coba buat mengenalnya. Mereka tidak peduli, karena di mata mereka dia bukan apa apa.

Sebagaimana pada saat sebuah harapan tumbuh dan datang baginya, lagi lagi gagal karena prejudice yang sama baginya.

Lalu penyesalan datang. Penyesalan lahir ke dunia sebagai dirinya. Penyesalan menjadi sebagaimana adanya. Penyesalan karena dia adalah dia.

Maka salahkah bila dia membenci mereka? Membenci dunia. Menjaga jarak dengan siapa saja yang mungkin akan melukainya. Memendam ambisi besar bahwa kelak dia akan tunjukkan pada mereka semua, dan membalikkan keadaan merendahkan mereka. Mendendam pada dunia yang selalu berpola sama. Menolaknya.

Itu hanya kisah tentang dia. Masih banyak lagi yang serupa tapi tak sama, dengan dunia yang masih sama hanya memandang sebelah mata saking malasnya. Tidak semua orang punya kemampuan menerima dirinya dengan sebaik baiknya. Semua konsep yang berhubungan dengan diri atau selfnya tidak dengan seketika terbentuk begitu saja. Dunia juga punya andil di dalamnya. Karena tidak semua manusia lahir dengan hati sekeras baja dan mampu menghadapi apa saja. Sadarkah bahwa kadang kitalah yang turut berperan dalam membentuk seseorang di sekitar kita? Ah, bahkan keluarga saya sendiri selalu bilang, orang yang kecil itu culas! Licik! Tanpa pernah berpikir bahwa mungkin mereka jadi culas dan licik karena orang menciptakannya demikian. Inginnya demikian. Padahal tidak semua juga seperti itu. Stereotyping yang pukul rata. Lalu salah siapa?

Bagaimana bisa seseorang tidak belajar buat mengerti? Bagaimana seseorang tidak mau belajar buat memahami? Bagaimana seseorang bisa begitu dibutakan dengan apa yang dilihat tanpa mau lihat sekali lagi?

Mungkin karena sama juga dengan yang dipandangnya, mereka juga manusia. Dan memang hanya manusia yang penuh dengan cela.

Lalu dia yang mereka yang merasa beda padahal tidak perlu demikian adanya bagaimana?

Oh, mereka melanjutkan hidupnya. Pastinya. Mungkin menghentikannya bila sudah lelah akannya. Mungkin cukup beruntung buat menemukan arti dalam hidupnya yang akhirnya membuatnya mengerti kenapa semua musti terjadi sedemikian. Mungkin juga masih mencari cari, apa ujung dari sebuah cerita yang begini.

Setiap orang pastinya hidup dalam dramanya sendiri. Semua, tanpa terkecuali. Drama yang hadirkan peran peran yang berbeda di dalamnya. Tokoh antagonis, protagonist, dan tokoh yang signifikan maupun tidak. Semoga tiap tiapnya sebagai sutradara dalam peran yang dimainkan mampu buat ciptakan akhir yang bahagia. Buat saya, tidak perlu seperti dalam dongeng, cukup seperti film independent yang tidak pernah kelewat batas dalam suatu ujung cerita.

17 comments on “Belajar Buat Menghormati Yang Beda, Bisakah?

  1. Wempi
    March 12, 2009

    bersyukur dengan ciptaan allah swt, apapun itu.

  2. KiMi
    March 12, 2009

    Yah, memang terkadang orang2 menuntut kita untuk tampil tegar. Sempurna. Tapi, mereka lupa. Mereka lah yang membentuk kita.

    Jadi, wajar ia membenci sekelilingnya. Atau bahkan membenci dunia.

  3. christin
    March 12, 2009

    this is me, nat. this is me. and yes i hate the world but i try to live with it. those pains, those scars. they remain.

  4. Aki
    March 12, 2009

    Ya Ta, betul banget….
    Semoga kita selalu bisa belajar untuk menghormati. Baik yang sama. Maupun juga yang beda..

  5. ray rizaldy
    March 12, 2009

    kok tau sih daku punya sifat itu?

  6. Andre
    March 13, 2009

    hmm..menarik, memang masih susah sekali untuk menghargai yang beda..meskipun saya sendiri tahu hal itu, namun terkadang masih saja ada kesombongan diri yang sebenarnya tak ada gunanya buat saya..wew..

  7. natazya
    March 13, 2009

    @wempi : suda wuda cuda😀

    @kimkim : yes dear, psikolog bicara? :p

    @christin : ah dear… i can feel u *hugs*

    @aki : bener banget!!!

    @ray : yang mane?? :p

    @andre : manusiawi.. tenang saja…

  8. smaragdina
    March 13, 2009

    dunia boleh benci tapi my o my…i love myself the most dan itu membuat drama lain dalam kehidupan. narsisme, kata orang pinter…dia lebih baik dibanding minder. ahahhaa…eniwe nat, congrats on ur graduation. wuahhh eyke ketinggalan nih😦

  9. carra
    March 13, 2009

    orang yg kecil itu culas dan licik??? wew!! dalil dari mana ituh…???😆

    apa hubungan ukuran dan kelicikan???😕 kaga ngerti…

  10. joe
    March 13, 2009

    harus bisa, sebab memang dunia dibangun atas dasar perbedaan, seperti adanya siang dan malam, api dan air, panas dan dingin. Perbedaan membuat dunia menjadi indah, seperti lagu juga tercipta karena perbedaan tinggi rendahnya nada …

  11. natazya
    March 13, 2009

    @hanhan : iyah darleng eike akhirnya lulus😀 tenang… pan emang tuaan gw :p

    @bu carra : kangen ih mamiiiiiiiiiiihhhhh!!!! huhuhuhu iyah da di kluarga gw mreka itu punya prejudice seperti itu… jangan tanya padaku darimana, eike ta tau :p

    @joe : Amen😉

  12. warm
    March 15, 2009

    jadi inget pride and prejudice..
    dogma dan brainwash atau entahlah,
    sering nutupin mata hati, kalo dunia ini luas dan terlampau banyak pernak pernik yang seharusnya dipahami dan dimengerti,
    dan beruntunglah orang yang memandangnya dengan jiwa yang lapang,
    seperti ente, mungkin🙂

    Amien om… moga moga eike beneran bisa demikian😀

  13. Tigis
    March 15, 2009

    bisa jadi bahan disertasi psikologi S2 nih. Atau jgn2x lagi dlm planning ya Nat🙂

    btw, koq gue jd inget postingan elo yg dulu banget. Kalo ga salah lo pernah nulis posting tentang itik ya…

    thesis dulu thesis😀 insya Allah Git.. doakan yah😀
    iya… gw pernah nulis tentang itik waktu itu hehehe ternyata emang gw concern ama yang beginian
    :p

  14. nenyok
    March 16, 2009

    Salam
    Anjing mengonggong kafilah tetap berlalu *eh nyambung ga Non🙂

    nyambung… nyambung…😀

  15. zee
    March 17, 2009

    Kalo anak saya nanti ternyata berbeda, saya pasti akan tetap sayang apa adanya pada dia. Setiap manusia dilahirkan unik, jd sudah pasti tidak boleh disamaratakan…

  16. ray rizaldy
    March 17, 2009

    yang itu tuh.. hehe

  17. Aspihani
    March 28, 2009

    Gw juga ada punya teman sipat kyak itu munafik deh gw pda bingung nih.tp biarlah ntar salah kalu di lawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 12, 2009 by in Feels and Thoughts, PsikoThing, yayiyayiyayi and tagged , , , , , .

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: