If its Not So Important To U, Well It Is For Me

some things are better left written

Masih soal IRI

Minggu lalu ada seorang teman yang menghubungi saya lewat sms dan mengajak buat bertemu, karena katanya dia sangat butuh teman buat sharing dan sedang banyak masalah yang rasanya perlu buat diceritakan. Teman lama yang baru saja menikah beberapa bulan lalu dan terkejut waktu saya datang ke pesta pernikahannya bersama dengan pasangan saya yang katanya tidak cocok dengan saya.


Sebetulnya saya agak malas buat menanggapi seseorang yang mungkin akan datang dengan penuh keluh kesah. Terdengar sangat tidak seperti “teman”? Ya, mungkin. Tapi kadang dalam satu titik dimana kita sendiri sedang punya satu entah masalah, entah tujuan yang belum tercapai juga, ganjalan, keluhan, dan sebagainya, ada kalanya sulit buat terlalu peduli pada urusan orang lain. Bagaimanapun juga, teman saya terdengar agak putus asa dengan menghubungi saya entah berapa kali dalam sehari, mana bisa saya pura pura menutup mata dan telinga? Rupanya kualitas sebagai seorang “teman” masih ada juga mengalahkan keegoisan.


Mulailah kami bercerita-cerita. Satu kabar yang cukup mengejutkan buat saya adalah ternyata baru bulan lalu waktu Idul Fitri dia keguguran anak pertamanya. Karena kecapekan katanya. Bertanya tanya dulu bagaimana kabar saya… dan entah darimana datangnya keluarlah satu pertanyaan darinya, “Cha.. loe kan kuliah di Psikologi… tau dong berarti gimana caranya biar bisa ngendaliin diri… Gimana ya caranya bangkit dari keterpurukan?” sambil menatap penuh harap langsung ke mata saya.


Saya tidak punya bakat alami sebagai seorang psikolog rasanya. Kadang kalau ditembak seperti itu oleh orang yang dekat, dimana objektivitas juga sering menghilang begitu saja, sulit juga buat langsung merangkai kata yang sesuai. Dan saya belum tau apa yang dimaksudnya dengan keterpurukan, karena memang dia tidak bilang, juga tampak tidak mau ditanya.


Akhirnya hal paling standard yang sedang saya coba terapkan buat diri sendiri sepanjang waktulah yang saya katakan. Sesuatu tentang bersyukur, jangan dikuasai oleh perasaan, dan melihat ke bawah jangan kemana mana lagi.


Dia diam saja. Tiba tiba bilang, “Iya sih… tau gw juga… kadang susah yah… apalagi ngeliat temen kita udah jadi apa dan kita masih gini gini aja kayanya kesel banget kadang kadang! Lagi banyak iri sama orang euy jadinya…”


Lucu, saat dia bilang begitu saya ingin tertawa. Tapi jangan pernah tertawa di depan orang yang sedang menceritakan masalahnya pada kita! Itu kode etik yang penting! Jadi saya tahan sebisa mungkin dan cuma tersenyum sambil menggenggam tangannya. Kenapa saya mau tertawa?


Baru beberapa hari yang lalu saya yang mungkin sedang berada juga di bawah pengaruh hormonal bulanan yang kadang sangat merepotkan, menangis nangis pada pasangan saya dengan penuh kesedihan kenapa saya masih begini gini saja dan belum jadi apa apa padahal teman teman saya satu persatu sudah mulai maju dan menemukan jalannya masing masing. Sahabat terbaik saya baru saja mendapat pekerjaan yang sudah dinanti nantinya. Bahkan saya pun iri pada si teman yang sedang ada di depan saya saat itu, bercerita bahwa dia iri pada orang lain, di saat saya iri pada dirinya yang sudah bisa menikah dan memiliki kehidupannya berdua pasangannya sendiri! Lucu rasanya iri pada seseorang yang juga sedang dipenuhi rasa iri.


Mengobrol dan mendengarkan curhat dari teman saya itu, mau tak mau membuat saya berpikir bahwa manusia, pada satu titik tertentu akan merasa iri pada orang lain. Sudah pernah terpikir sebelumnya, tapi sekarang tambah yakin! Setulus apapun… sebaik apapun… seikhlas apapun… manusia biasa ya bisa iri juga. Saya bisa. Teman saya bisa. Sahabat saya juga.


Tapi selain lagi lagi soal si iri, juga teringatkan kembali, bahwa tiap orang sebagaimanapun, pasti punya masalahnya sendiri sendiri. Teman saya yang merasa belum maju juga dan setelah m enikah mengalami kesulitan keuangan yang akhirnya membuatnya stress dan keguguran. Padahal saya iri karena dia sudah menikah lebih dulu dari saya. Sahabat saya yang sekalipun sudah mendapatkan pekerjaan dan sedang aktif sekali di kehidupan sosialnya, satu malam menelpon saya menangis nangis merasa kehidupannya sedang sangat kosong dan sendirian. Padahal saya iri pada dia yang sudah bekerja dan banyak teman di sekelilingnya.


Tidak ada yang sempurna. Semuanya punya masalahnya sendiri sendiri. Tapi kadang mungkin entah kenapa, masingmasing merasa jadi yang paling susah di dunia. Ah. Ga perlu menyalahkan siapa siapa. Lagi lagi, cuma manusia. Semuanya ada pada bagaimana cara memandang dan menyikapi. Tiap tiap punya caranya sendiri, dan konsekuensi yang dijalani. Kalau kata dia yang saya cinta, sabar dan jangan dijadikan beban, jalani sambil usaha dan doa. Ah. Saya masih musti belajar banyak rasanya. Tapi pasti bisa. Jangan bilang tidak kan?

5 comments on “Masih soal IRI

  1. pashatama
    January 1, 2009

    iya pasti bisa kok🙂 jangan bilang tidak.
    rumput tetangga memang selalu lebih hijau. kita sering lupa kalo setiap orang punya path nya sendiri2, tidak pernah ada yang lebih indah dari hidup kita sendiri (seharusnya). so what kalau journey kita menuju hidup mappan, sejahtera etc etc lebih panjang dari yang lain….

  2. warm
    January 2, 2009

    hmm calon psikolog yg bijak kaw
    salut non!

  3. lala
    January 3, 2009

    alah… Untung konsultasi eike gak di posting… Maap atuh yah bsedih” soal hal usang itu k dirimu yg jg sdg sgt riweuh.. Hehe.. Punten ah..

  4. naki
    January 8, 2009

    iya ya , kita cenderung merasa kita itu orang paling malang sedunia , padahal orang2 di sekitar kita juga berpikiran sama …

    nice reading nat , thanx🙂

  5. Tigis
    February 21, 2009

    gue kyknya ga bisa komen yg membangun jg Nat. Gue sendiri sering (bukan jarang) ngrasa iri kalo ngeliat org laen memiliki sesuatu yg lebih dr gue. Justru sesuatu yg di kehidupan gue kerasa kurang banget. Kadang muncul kesan kalo dgn sesuatu itu sbetulnya uda cukup utk membuat gue bahagia. Meskipun mgkin justru sesuatu yg gue tidak miliki itu bagi org tersebut dirasa ga begitu penting barangkali.

    Eniwei, gue cuman bisa bilang ke elo dan yg pasti ke gue sendiri, bahwa jgn putus harap ama kurnia Yang Maha Kuasa. Klise ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 31, 2008 by in PsikoThing, Uncategorized.

i Wrote About:

RSS To Train My Rusty English

  • REVENGE
    It just that since I subscribed to a pay TV, and now resigning from my latest radio job, and pretty much working from home, I watch TV for about 4-6 hours a day. I cut it down from 6-8 hours a day, that's when I decided that Im going to Dubai next year with my business :DBut there's a huge different from Indonesian local TV and cables, indeed! I do […]
  • The Trilogy Time
    Aloha!Oh my, its been forever since I wrote in this blog :p I was gonna let this one abandoned anyway :lol: But then again, in order to smoothered my rusty English, gonna start practicing it here again :DSo, how have you been? Me? Well.. Kinda busy with this business I've been joining for almost 3 years now. Quit the announcing job for some reason. And […]

My First Baby

Follow Me? ;)

%d bloggers like this: