Karna Cuma Kami Yang Tau Rasanya

Uh uh uh

Pacar saya lagi sakit. Sedih kalau si pacar lagi sakit teh. Suka jadi mati gaya. Plus makin terlihat seperti anak kecil yang sumpah terpapar ke-fragile-an nya :p Tapi dia marah kalau disebut “penyakitan” dan bisa sampai BT pada pacarnya yang baik hati ini! Hm… rasanya sih ada hubungannya dengan trauma masa lalunya yang besar sekali dan berhubungan dengan self-image-esteem-confidence nya!

Saya lagi siaran yang sudah tidak dinikmati seperti dulu tapi mau tak mau dan berusaha menyamannyamankan diri sebisanya sambil mempergunakan fasilitas kantor sebesarbesarnya sambil kangen pada si pacar siang ini.

Mungkin karna saya ga ada kerjaan, kurang ada yang jadi beban pikiran selain gimana caranya mendapatkan pekerjaan… Atau mungkin karna sedang senang karna ada seorang teman kerja kita berdua yang memang bisa dibilang masih ababil bilang waktu chatting di YM tadi


“Suka sirik ih liat mba tasya ma veinya… Asa manis pisan… lucu aja ngeliatnya jadi seneng… Gimana sih biar bisa begitu”


And so on…

Ke GR an critanya :p Ya ya kami memang masih sangat sebentar berhubungan dan masih juga pacaran, masih nunggu waktu kapan impian kami berdua buat benar benar bersatu jadi nyata. Tapi rasanya senang kalau ada orang yang juga bisa lihat kami memang bahagia dan ikut senang melihat kami.

yayi-kondangan

Kenapa?

Karena selama ini banyaknya orang melihat dengan pandangan tidak percaya. Sambil ketawa. Sambil ngomongin yang jelek jelek. Sambil sedikit heran. Sambil sambil yang rasanya ga bermuatan dukungan sama sekali.

Makanya ketika ada yang bisa lihat bahwa kami memang bahagia berdua, dengan semua usaha yang dijalankan dan penulian telinga dari anggapan anggapan miring orang orang, patut rasanya kalau saya jadi senang :D

Aaaaaaahhh KANGEN PACAR!!!!

Cepat sembuh ya sayang :*


Untukmu… Karenamu…

Malam sudah kian bergulir dan hari ini sudah akan berlalu lagi. Berlalu, seperti waktu yang sudah terjalani olehku dan olehmu. Perjalanan panjang yang penuh liku, dan sungguh kadang sakit terantuk yang berbatu… tapi kita sama sama tau, bahwa di ujung jalannya ada satu yang dituju.

Aku mengenalmu tidak cukup lama. Baru satu tahun lebih lebih sedikit. Satu tahun sebagai seseorang yang kau panggil pasanganmu. Baru sebentar, tapi terasa sudah sekian lama. Apakah aku mengenalmu di kehidupanku terdahulu? Aku kurang tau… tidak bisa ingat mungkin. Tapi bahkan kadang hal hal yang teralami bagai Dejavu! Jadi pasti bukan baru sesebentar itu aku tau dirimu.

Kau itu bagai sebuah lampu. Lampu yang menerangi jalan di hadapanku yang tadinya entah kenapa bagaikan tertutup kelabu, entah debu, dan membuatku harus puas hanya tergugu. Tapi sekarang jalannya sudah terang. Bukan berarti kau pintu kemana sajaku yang bisa singkatkan perjalanan jadi tidak perlu penuh liku. Kau bantu buat pandu arahku. Itu cukup bagiku.

Tapi tidak hanya itu. Kau bagaikan kutub negatifku. Milikku. Karena aku kutub negatifmu. Dua kutub negatif yangbersatu akan jadi positif lagi. Itulah aku dan kamu. Dengan nista dan cela masing masing yang bersatu, kita bisa tampilkan cuma yang terbaik dari masing masing satu. Ketenanganmu hadapi emosiku. Usahaku redakan amarahmu. Betapa kubangga bahwa kita tidak pernah berhenti berusaha! Tidak menyala ketika yang lain berapi api. Kau bisa jadi air yang redamkan apiku, dan kadang jadi api yang aku redamkanmu. Selalu begitu. Pengulangan yang menyebalkan? Ah… tidak juga…

Kau tak termengerti. Demikian aku. Bagaikan temukan satu hitam diantara ribuan putih, buat temani diri yang juga tidak putih. Biar tidak berbeda sendiri. Dan sekalipun beda maka tidak apa apa, aku tau aku akan aman bersamamu yang juga beda. Orang lain boleh tidak mengerti dan tidak akan pernah pahami, tapi seperti katamu, memang mereka bisa apa? Kita tetap pada jalannya, jalan yang kau katakan kini lurus dihadapan.

Perjalanan ini baru dimulai, namun kadang terasa sudah sedemikian jauh. Sudah cukup dalam, namun kadang masih terlihat lagi yang di permukaan. Bagaikan cahaya, cukup kenal buat terus berbinar.

Dan kala bicara soal harapan, soal masa depan, ada goretan kecewa yang menjegal. Maaf, yang itu aku tak kuasa tahan. Harusnya sudah sampai di tujuan, tapi ternyata masih di titian. Aku lupa kau juga masih disini, jadi baru sampai dimanapun tidak apa, karena aku tidak sendiri. Bukan ini yang patut dicermati, tapi si proses yang harus dihargai.

Pendewasaan yang memukau.

Di sini kata sesal tidak punya tempat. Ragu sudah mampat. Takut lama lama harus binasa. Dan harap jadi juara. Percaya rajai jiwa.

Tetap, takkan kujanjikan apa apa selain tetap akan berjalan disisimu bergandengan tangan sebagaimana biasa. Jangan lelah dan marah padaku yang kadang mudah menyerah, tapi buatlah biar tidak mau kalah.

Hay sayang,

benar ini cinta yang kupunya.

yayi

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 329 other followers