Selamat Tinggal…

Tidak ada kata lagi yang mampu buat terucap

tidak ada emosi lagi yang rasanya belum terungkap

tidak ada guna lagi segala upaya sekalipun sampai lengkap

tidakkah kau dengar tangisan

rintihan

harapan

hingga cacian

memintamu jangan pergi

memintamu tetap disini

memintamu buat selalu iringi?

Read the rest of this entry »

Maaf…

Saya benci dirinya. Saya benci dia yang selalu bicara seenaknya. Saya benci dia yang membuat saya merasa tidak berharga. Saya benci kata katanya yang menyakiti hati. Saya benci pada dirinya yang tidak pernah puas. Saya benci dirinya yang membuat saya merasa tidak berguna. Saya benci padanya yang selalu membalikkan satu kata dari saya jadi sejuta racun yang membuat saya makin membencinya. Saya benci padanya yang selalu bisa mengeluarkan hal yang jelek dari diri saya. Saya benci dirinya yang seegois itu tapi mengatakan bahwa saya yang egois. Saya benci dirinya yang menuntut saya tapi mengatakan bahwa dia tidak pernah mengharapkan apa apa dari saya. Saya benci dirinya yang menyalahkan orang yang meninggalkannya padahal makin kesini saya makin mengerti kenapa semuanya terjadi padanya. Saya benci padanya yang merasa paling susah di dunia. Saya benci padanya yang selalu mengatakan salah pada pilihan saya. Saya benci padanya yang menyumpahi saya. Saya benci padanya yang tidak pernah mendengarkan saya. Saya benci padanya yang membuat saya menangis kemarin, besok, dan hari ini. Saya benci padanya karena saya merasa berdosa saat membencinya, yang punya titel tiga huruf paling besar di dunia saya, I, B dan U

.

Apakah Saya Orang Baik ???

Hari ini setelah selesai rapat panjang dengan hasil menyedihkan dimana akhirnya penyiar benar benar tidak lagi dapat jatah komputer buat dipakai, saya memutuskan buat langsung pulang karena agak malas berlama lama entah kenapa tidak seperti biasanya. Moodnya sedang jelek. Mungkin teringat skripsi yang teronggok enggan tersentuh begitu saja. Mungkin teringat rumah yang sebegitu berantakannya sebegitu saya sampai nanti. Mungkin karena sedang ingat pada dirinya yang tidak juga bisa memberi kabar kecuali lewat dunia maya karena yang akupun tau sebabnya, tapi yah… tetap saja.

Waktu ditanya kenapa saya pulang cepat sekali, dengan mudahnya bilang “Mau beberes rumah nih! Kan merangkap PRT juga”, ternyata disahuti “Yah… sekarang sama nyokap disuruh suruh, bentar lagi ma laki deh kalo dah nikah”. Weits… iseng saja saya bilang “Engga dong! Ntar mah laki gw yang jaga rumah! Dia aja yang beberes!”

Biasa… tidak ada yang istimewa dan bermakna.

Jadi tidak biasa waktu tiba tiba bos kami yang urun bicara *seperti biasanya hobi menyambar begitu saja* “Ah maneh mah mana mungkin ngagawekeun salaki….” dan berbicara beberapa kalimat lagi yang saya lupa apa, tapi lanjutannya itu… “Da laki mah nu penting tanggung jawab! Yang lainnya bonus kalo kata orang mah. Tapi da kalo kata saya mah proses.”

Langkah yang sudah hampir mantap menuju keluar kantor jadi terhenti di depan ruang kerja pak GM saya.

“Iya da selama ini yang sama kamu kan belum tanggung jawab. Yang penting mah tanggung jawab sama pilihannya. Tanggung jawab sama kamu karena dia sudah milih kamu. Nah… yang lain lainnya nanti berjalan sesuai proses. Pengalaman say amah begitu dan saya memang yakin begitu”, dengan wajah 39 tahunnya yang kadang saya lihat kebapakkan.

“Yah… ya… marilah! Cowo bertanggung jawab datanglah”, saya cuma menyahut asal sambil tertawa, karena mereka tidak ada yang tahu saya sedang bersama siapa sekarang toh.

Satu kalimat pamungkas sebelum pulang yang menohok hati tiba…

“Nanti juga ada, da orang baik pasti dapet yang baik. Kamu orang baik kan Tasya?”, dengan senyum yang sama seperti dulu waktu saya menghadap ke kantornya karena cuti siaran beberapa kali setelah berakhirnya hubungan dengan seseorang yang jelasnya tidak punya tanggung jawab dan menangis dengan kata kata yang keluar dari mulut yang sama, “Kamu orang yang unik. Kamu pasti bisa bertahan sebagaimana selama ini kamu menjalani hidup kamu. Kamu terlalu berharga. Jangan biarkan yang begini menganggu kamu.”

Saya tidak menangis tadi sore.

Tapi jadi terdiam dan bertanya sendiri. Ya Robbi… apakah saya orang baik? Dan teringat pada banyak dosa yang hari ini saja… yang kemarin… yang kemarin lagi… seminggu ini…. sebulan ini… selama ini….

Robbi, baik yang bagaimana yang bisa dibilang baik buat mendapatkan seseorang yang juga baik dan bisa bertanggung jawab atas pilihannya yaitu saya, seperti yang dibilang oleh Pak Tata?

Apakah saya sudah cukup baik? Ataukah karena saya bukan orang baik maka sampai sekarang saya tidak dapat orang yang baik? Apakah saya layak dapat yang baik? Baik itu seperti apa? Baik yang bagaimana?

Dan teringat pada seseorang yang saat ini sedang entah apa yang belakangan mengisi hidup saya dan niatnya katanya buat seterusnya. Hey kamu, apakah kamu orang baik? Apakah kamu kelak akan bertanggung jawab? Bertanggung jawab pada pilihanmu? Bertanggung jawab padaku?

Belum bisa jawab…

Baiklah.

Satu PeeR lagi dari hari ini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 329 other followers