Ceritanya adik saya yang ketiga sedang sangat bahagia karena dia lulus SMP dengan nilai yang sangat memuaskan. Bayangkan saja, masa NEM nya 38.9 dari nilai total 40! Wow! Matematikanya pun dapat 10! Dulu kakaknya ini aja paling gede cuma nilai Biologi aja waktu SMA.. itu juga cuma 9.4! Ini adiknya lebih gila lagi!
Bangga itu jelas. Saya sebagai kakak bangga. Mama saya sebagai orang tua bangga. Tapi yang lebih lucu adalah selanjutnya, ketika si adik ga terima kebanggaannya dikatakan milik siapa siapa lainnya, karena memang dia yang berusaha sendiri buat keberhasilannya.
Awalnya adalah mama saya yang bilang di status facebooknya, “Selamat ya sayang. Ga percuma kan mama galak ke kamu”. Adik saya yang kedua sewot dan berkata, “Ya percuma lah. Mama bisanya marah marah doang. Bentak bentak. Ngebantuin apa apa juga ngga. Ini mah hasil dia sendiri. Sama sekali ga ada urusan sama mama”.
Geli juga saya jadinya. Karena memang beberapa saat sebelumnya sempat ada beberapa tragedi di mana mama saya sama sekali tidak mau datang ke pertemuan orang tua dan guru di sekolah adik saya karena malas, dan si adik sampai dengan kesal bilang, “Mama jadi orang tua tanggung jawab sedikit dong! Ini kaya ga punya orang tua aja!”. Kaget juga saya… bisa bisanya dia bilang begitu. Tapi yah… ga bisa sepenuhnya disalahkan juga sih.
Terlepas dari kasus internal keluarga saya. Ini juga terjadi di beberapa anak yang saya dan rekan tangani di proses konseling di SD Coblong kemarin. Kebanyakan (hampir semua malah) orang tua tidak sadar sama sekali bahwa apa yang mereka beri dan lakukan, atau tidak lakukan pada anak, sangat menentukan perkembangan dan prestasi si anak itu sendiri. Kalau anak dapat hasil jelek dimarahi, tapi kalau yang beruntung dan bagus dibanggabanggakan ke orang lain dengan embel2 dirinya yang punya andil.
Ada yang tidak peduli sama sekali. Ada yang ga bahkan pernah tahu bahwa nilai si anak super jelek sekali. Ada yang cuma bisa memarahi anak terus dan terus, tanpa pernah terpikir buat bisa memarahi diri sendiri.
Perkembangan dan keberhasilan seorang anak di sekolah, faktanya dipengaruhi oleh tiga faktor yang saling berhubungan. Diri sendiri, sekolah, dan orang tua. Satu faktor saja timpang, maka hasilnya juga tidak maksimal. Terbukti dari 6 anak yang kami tangani, keenamnya punya masalah di lingkungan keluarganya.
Mungkin justru bagi kebanyakan orang ada satu paradigma masuk ga masuk akal yang berkembang. Diamkan saja anak, nanti juga bisa belajar sendiri. Saya juga dulu didiamkan dan saya berkembang sendiri. Paling tidak orang tua dari anak yang kami tangani kemarin ada yang mencetuskan kalimat ngawur tersebut.
Ga semua anak diberkahi kemampuan buat bisa mengembangkan diri sendiri. Dan ga langsung di awal kehidupan anak bisa melakukannya. Ada waktu yang akan dibutuhkan. Kenapa tidak justru berpikir justru dulu punya hasil yang tidak maksimal karena segalanya dikembangkan dan dipelajari sendiri, dan tidak mengulang pola yang sama supaya hasilnya jadi lebih baik lagi?
Yeah well… parenting style kan memang beda beda. Sayang ga semua orang belajar tentangnya. Lagi dan lagi saya bersyukur karena saya kuliah di Psikologi sekalipun termasuk yang kelamaan. Ilmu saya berguna sekali buat saya, ga seperti yang orang anggap jadi ga ada gunanya sama sekali cuma karena sekarang saya memilih ga mau jadi HRD di perusahaan manapun :p

Makanya jangan… jangan merasa bangga dan merasa punya andil, kalau memang tidak sama sekali
*menyindir para orang tua dengan pola neglection yang suka seenaknya… nope… mama saya sih ga beginibegini amat :p







