IM VALUEING MYSELF GOOD

Jadi ceritanya kemarin kemarin saya sempat daftar ke salah satu sekolah bagus di Bandung. Sebenarnya saya daftar jadi pendamping buat ABK, karena itu sesuai sekali dengan ilmu yang saya punya. Tapi ternyata saya terpanggil kembali diprospek sebagai guru agama. Hahaha nona yang sial ini beginigini juga lumayan jagoan kok ilmu agamanya. Secara ajah lulusan pesantren skalipun cuma tiga tahun. Tapi skali lagi juga, ilmu ga ada gunanya ya kalo ga diamalkan… nah… di kasus saya, ilmu agama ini kurang pengalamannya :p jadi waktu terpanggil buat diprospek jadi guru agama, ya saya pikir kenapa ngga juga toh? ;)

Tes demi tes saya lalui rasanya dengan sangat oke. Gusti nu agung sumpah ini bukan mau sombong atau apa. Tapi hal hal yang berhubungan sama sekolah ini masih termasuk bidangnya saya, and I am good at what im doing when it comes to my thing! Im a woman with competency for heaven sake! Bahkan saya sudah terpanggil ke wawancara akhir yang sudah akan hampir pasti diterima.

Lalu kenapa ga jadi? Kenapa masih “menganggur” begini?

Karena kata dia minimum salary yang saya minta terlalu tinggi. WTF? Terlalu tinggi? Kau mengharapkan saya minta berapa memang? I know… gaji guru katanya emang ga ada yang terlalu tinggi ya? But hell, whatever! Saya ga mau lebih rendah dari yang saya minta. Dia kan sekolah bagusan yang satu anaknya pun SPP bulanannya 650 ribu. Masa menggaji guru dengan layak saja ga mampu?

So I think I’ll just past.  And I dont regret it like at all.

Saya tahu betapa orang di jaman sekarang katanya akan melakukan apapun buat dapat pekerjaan. Saya juga kok. Makanya saya magang di sekolahan yang jauh di ujung bumi dan home visit ke ujung bumi yang lebih jauh lagi juga. Tapi saya ga mau kalau dihargai dengan rendah. Sama sekali bukan karena apa apa. Tapi karena saya menghargai diri sendiri. Dan percayalah, kalau kau tahu nominalnya, kau pasti akan anggap itu juga masuk akal sekali buat saya.

Ya, well. ROBBI yang berencana toh? Tepat pada waktu dimana saya berpikir bahwa buat meneruskan perjalanan jadi konselor sekolah mungkin akan jauh lebih menyenangkan, setelah sebuah presentasi yang bisa dikatakan berhasil dengan mulus dan menarik :) Jadi skarang saya mau meneruskan magang di itu Biro yang sedang saya gabung di dalamnya sekarang. Im gonna get paid then. Karna saya kan sudah lewat masa pelatihan. They surely can use me, karena sekali lagi, dengan jumlah orang yang baru sedikit sekali di biro tersebut, they’re eventually gonna need someone with a good communication skill like me ;) Ga setuju? Ah… I know me. So u better just zip it up.

Dan ibuku sayang… just because I dont do it, doesnt meant I cant. Saya ga mau dan ga minat buat melakukan hal hal yang saya memang ga suka, dan itu sama sekali ga ada hubungannya sama ga mampu. Belum percayakah kau bahwa kau itu punya empat anak yang orang tua manapun akan merasa beruntung memilikinya? We’re all good, mum. And we know just what it is  best for us. So u better just pray for us, and give it one hell of support!

Ding ding ding ding

Si nona “pengangguran” yang abis misah misuh disini mau membabu… Menunggu minggu depan mau ke PRJ sama sepupu yang pastinya akan membiayai semuamuanya. Menunggu bulan depan ada proyek dari satu bimbel di Bandung yang mau pakai si Biro yang si nona mau gabung di dalamnya. Oh ya! Baru dapat kabar Saptu ini diundang jadi pembicara di SD Unggulan NASYWA ;) So excited! Ah… mau mengeluhkan apa lagi sih?

moa

BANGGA OH BANGGA

Ceritanya adik saya yang ketiga sedang sangat bahagia karena dia lulus SMP dengan nilai yang sangat memuaskan. Bayangkan saja, masa NEM nya 38.9 dari nilai total 40! Wow! Matematikanya pun dapat 10! Dulu kakaknya ini aja paling gede cuma nilai Biologi aja waktu SMA.. itu juga cuma 9.4! Ini adiknya lebih gila lagi!

Bangga itu jelas. Saya sebagai kakak bangga. Mama saya sebagai orang tua bangga. Tapi yang lebih lucu adalah selanjutnya, ketika si adik ga terima kebanggaannya dikatakan milik siapa siapa lainnya, karena memang dia yang berusaha sendiri buat keberhasilannya.

Awalnya adalah mama saya yang bilang di status facebooknya, “Selamat ya sayang. Ga percuma kan mama galak ke kamu”. Adik saya yang kedua sewot dan berkata, “Ya percuma lah. Mama bisanya marah marah doang. Bentak bentak. Ngebantuin apa apa juga ngga. Ini mah hasil dia sendiri. Sama sekali ga ada urusan sama mama”.

Geli juga saya jadinya. Karena memang beberapa saat sebelumnya sempat ada beberapa tragedi di mana mama saya sama sekali tidak mau datang ke pertemuan orang tua dan guru di sekolah adik saya karena malas, dan si adik sampai dengan kesal bilang, “Mama jadi orang tua tanggung jawab sedikit dong! Ini kaya ga punya orang tua aja!”. Kaget juga saya… bisa bisanya dia bilang begitu. Tapi yah… ga bisa sepenuhnya disalahkan juga sih.

Terlepas dari kasus internal keluarga saya. Ini juga terjadi di beberapa anak yang saya dan rekan tangani di proses konseling di SD Coblong kemarin. Kebanyakan (hampir semua malah) orang tua tidak sadar sama sekali bahwa apa yang mereka beri dan lakukan, atau tidak lakukan pada anak, sangat menentukan perkembangan dan prestasi si anak itu sendiri. Kalau anak dapat hasil jelek dimarahi, tapi kalau yang beruntung dan bagus dibanggabanggakan ke orang lain dengan embel2 dirinya yang punya andil.

Ada yang tidak peduli sama sekali. Ada yang ga bahkan pernah tahu bahwa nilai si anak super jelek sekali. Ada yang cuma bisa memarahi anak terus dan terus, tanpa pernah terpikir buat bisa memarahi diri sendiri.

Perkembangan dan keberhasilan seorang anak di sekolah, faktanya dipengaruhi oleh tiga faktor yang saling berhubungan. Diri sendiri, sekolah, dan orang tua. Satu faktor saja timpang, maka hasilnya juga tidak maksimal. Terbukti dari 6 anak yang kami tangani, keenamnya punya masalah di lingkungan keluarganya.

Mungkin justru bagi kebanyakan orang ada satu paradigma masuk ga masuk akal yang berkembang. Diamkan saja anak, nanti juga bisa belajar sendiri. Saya juga dulu didiamkan dan saya berkembang sendiri. Paling tidak orang tua dari anak yang kami tangani kemarin ada yang mencetuskan kalimat ngawur tersebut.

Ga semua anak diberkahi kemampuan buat bisa mengembangkan diri sendiri. Dan ga langsung di awal kehidupan anak bisa melakukannya. Ada waktu yang akan dibutuhkan. Kenapa tidak justru berpikir justru dulu punya hasil yang tidak maksimal karena segalanya dikembangkan dan dipelajari sendiri, dan tidak mengulang pola yang sama supaya hasilnya jadi lebih baik lagi?

Yeah well… parenting style kan memang beda beda. Sayang ga semua orang belajar tentangnya. Lagi dan lagi saya bersyukur karena saya kuliah di Psikologi sekalipun termasuk yang kelamaan. Ilmu saya berguna sekali buat saya, ga seperti yang orang anggap jadi ga ada gunanya sama sekali cuma karena sekarang saya memilih ga mau jadi HRD di perusahaan manapun :p


Makanya jangan… jangan merasa bangga dan merasa punya andil, kalau memang tidak sama sekali :D *menyindir para orang tua dengan pola neglection yang suka seenaknya… nope… mama saya sih ga beginibegini amat :p

moa

PERSONA

Kenapa kadang seseorang bertindak tidak sesuai dengan apa yang sebetulnya ingin dilakukannya, tetapi mempertimbangkan reaksi yang akan muncul dari orang lain yang dihadapi maka akhirnya keputusan akhirnya adalah memang yang tidak sesuai dengan dirinya itulah yang harus ditampilkannya dan membiasakan diri dengannya?

Tidak jarang mengenal orang yang bisa menampilkan perilaku yang sangat berbeda di lingkungan yang berbeda dimana ia berada. Jangan. Jangan lihat orang lain dulu. Lihat diri sendiri. Diakui atau tidak tapi diri sendiri pasti tahu betapa dalam satu hari saja berapa kali kita mengganti topeng dalam menghadapi lawan yang berbeda di hadapan.

Kenapa topeng? Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 329 other followers