Apa kabar Navazku sayang?
Ah… Ibun sedang rindu sekali padamu! Banyak sekali hal yang ingin Ibun bagi dan ceritakan pada Navaz… Ingin tahu apa kira-kira pendapat Navaz kalau dengar cerita Ibun!
Tapi hari ini, surat ini Ibun buat untuk Navaz, supaya kelak Navaz bacakan kencang-kencang buat Ibun kalaulah Ibun mulai lupa segala hal yang Ibun rasa dan pikir saat ini.
Tolong ingatkan Ibun kelak ya sayang, kalau Navaz adalah sebagaimana namamu, karunia Ilahi buat Ibun. Tegur Ibun saat Ibun mulai lupa dan memperlakukan Navaz bukan sebagai karunia terbaik, tapi seseorang yang tersia sia. Jangan sampai Ibun berteriak, memukul, atau bahkan menyakiti Navaz dengan kata kata jahat.
Ingatkan Ibun untuk selalu memberi contoh yang baik pada Navaz. Mulai dari hal hal kecil seperti belajar bersama tiap malam, memasak sederhana, membesihkan rumah, berbicara sopan pada orang lain, mengucap maaf, terima kasih dan tolong, dan bukannya mengharapkan Navaz mampu mempelajari semuanya sendiri, karena sesuai aliran Behaviorisme yang Ibun percayai, Ibun lah yang harus bantu membentuk Navaz kelak!
Bantu Ibun supaya tidak lupa buat selalu mendukung Navaz, apapun yang Navaz jalani dan lakukan. Jangan sampai Ibun mengecilkan apapun yang Navaz pilih, dan semoga ingat sekalipun Ibun tidak suka, Ibun hanya harus mendoakan, dan membiarkan Navaz yang belajar dari apapun yang akan terjadi kelak. Ingatkan Ibun untuk selalu bangga pada Navaz.
Ingatkan Ibun untuk bersyukur akan kehidupan seperti apapun yang nanti Ibun sudah, sedang dan akan miliki. Jangan sampai Ibun mengajari Navaz buat mengeluh, dan terutama ingatkan Ibun untuk tidak menitipkan harapan kehidupan Ibun yang tidak terpenuhi kepada Navaz. Bukan tugas Navaz untuk mewujudkan semuanya.
Berbaktilah karena memang itu adalah sesuatu yang wajib bagi Navaz. Jangan sampai Ibun yang menuntut Navaz dan menyesali apapun yang sudah Ibun berikan pada Navaz karena kecewa bahwa Navaz tidak jadi seperti yang Ibun inginkan. Karena semua yang Ibun lakukan adalah kewajiban Ibun, karena cinta, dan tidak ada satupun yang bersifat hutang sehingga musti tertagih.
Paling penting, tolong bantu Ibun buat ingat, NAVAZ ADALAH PRIBADI YANG BERDIRI SENDIRI. Navaz BUKAN Ibun, sekalipun Navaz pernah menumpang 9 bulan lebih di dalam perut Ibun. Ingatkan Ibun untuk ikut coba melihat segala sesuatu dari mata pikiran Navaz, dan tidak melulu merasa Ibun yang paling benar dan pasti benar. Bantu Ibun buat sadar, hidup yang Ibun kendalikan hanya yang milik Ibun sendiri, bukan berarti milik Navaz pun harus berjalan sesuai dengan apa yang Ibun mau…
Jangan lupa ya sayang… tolong ingatkan Ibun… karena Ibun mencatatnya dalam hati, tapi mungkin suatu hari nanti hati Ibun sedikit tertutup entah oleh apa, terbutakan hingga lupa…
Betapa rindunya Ibun ingin berjumpa Navaz! Sebentar lagi saat tiba waktunya, kau cepat hadir ya, calon anakku!
