Setan Sedang Menang Di Dalam Sini

Saya masih tidak ada waktu buat posting dan berjalanjalan di blogosphere karena bahkan si flash sekarang ini sedang dipakai si adik. Tapi emosi yang meluap ini memaksa minta disalurkan… Jadi ya mau gimana…

Sebetulnya, jarang sekali saya dipenuhi perasaan benci dan marah yang sehebat ini. Biasanya saya cuma bertengkar sama mama saya atau pacar saja, dan semarahmarahnya tidak akan pernah bertahan lama. Tapi saya takut yang ini akan jadi benci yang mengendap dan mengakar.

Saya benci pada mereka yang dulunya rekan kerja saya di satu radio yang dulu sempat sangat saya suka dan berubah format dengan gilanya dan saya putuskan buat tinggalkan. Dulu orang orang di sana hampir jadi keluarga buat saya. Tidak pernah terlalu dekat atau bagaimana juga, tapi karena mereka tempat bicara tiap harinya saya, ya mau tidak mau jadi demikian. Tapi seorang yang saya anggap kakak pun hengkang setelah menikah. Lalu saya keluar. Tidak ada yang bersisa? Masih.. karena si pacar ikutan bekerja bareng mereka.

Awalnya lancar lancar saja. Masuk akal. Tapi kemudian makin kesini makin terlihat agak kurang ajar. Belum dibayar dengan layak sama sekali karena katanya masih di awal sih itu masih tidak apa apa. Tapi kemudian banyak perbedaan pendapat yang umumnya ditolak mentah mentah. Masih bisa diterima. Kadang juga berbicara di belakang, padahal katanya sama sama memiliki si perusahaan kecil tersebut. Tapi tidak terbuka. Apa apaan?

Awalnya masih bisa buat menahan diri. Masih coba buat jalani. Masih menyabarnyabarkan diri. Karena berpikir bahwa memang ini untuk sebuah tujuan yang mungkin pasti. Kemudian ada job dari luar yang ternyata katanya lewat perusahaan sehingga fee yang diterima sangat tidak masuk akal dan tidak sebanding dengan apa yang dikerjakan, karena yang lain juga berebut minta bagian, padahal dia yang mengerjakan hampir semuanya! Masih ada juga si perbedaan pendapat dan perbedaan pola pikir, yang akhirnya hanya menimbulkan kekesalan dan sakit hati yang masih dan lagi lagi masih coba ditahan sekalipun kadang mulai nampak keluar itu si kekesalan. Tapi masih membuat sesuatu. Masih membantu. Masih menunggu buat suatu penghargaan sesederhana sebuah pujian atas hasil, karena yang berbentuk materi belum bisa diberi, yang pada akhirnya tidak ada sama sekali.

Sampai tiba tiba didatangi. Dibilang katanya kalau berbeda dengan orang satunya yang punya pendapat lain, ya lebih memilih dia saja. Oke. Tidak mengerti? Dengan kata lain DIBUANG. TIDAK DIBUTUHKAN LAGI. DIMINTA DENGAN HALUS BUAT TIDAK DATANG LAGI.

Baiklah. Mungkin itu buat yang terbaik. Tapi tetap saja dia merasa sangat digunakan beberapa bulan terakhir, dan sia sia saja semua yang dilakukan tanpa diberi imbalan yang pantas karena merasa bahwa akan ada hasil di depannya bagi semua ini. Karena dia dianggap beda maka dia disisihkan. Tanpa bayaran apa apa. Tanpa terima kasih atas apa yang sudah pernah dilakukan. Tanpa apa apa.

Wajar tidak kalau dia marah? Wajar tidak kalau dia kesal dan menyumpah nyumpah? Wajar tidak kalau bahkan sayapun ikut kecewa karena mereka yang dulu saya kenal baik dan dianggap keluarga kedua ternyata begini polahnya?

Apa yang saya lakukan? Memangnya salah kalau saya coba hibur si pacar supaya sabar… belajar ikhlas… bahwa yang berbuat seenaknya pasti dapat balasan. Memangnya salah kalau saya bilang bahwa dia bakal lebih baik dari mereka semua, when they all going down deep. Kau tahu… Masa mereka yang marah? Mereka yang bilang kami yang berdosa berpegang pada keyakinan yang jahat yang dibalas, bahwa kami yang berharap mereka dapat balasan malah membuat mereka semakin bersemangat buat maju dan mendoakan kami dimaafkan. Tuhan…  betapa manusia mu seharusnya lahir dengan kaca di depan muka, atau kau selipkan di dalam hati. Supaya lihat tingkah laku sendiri! Dan dengan bangganya dia bilang “True men never hits woman and kids”. Ouch ouch ouch. Offensive sekali! Saya MARAH! Saya yang dari kemarin mengingatkan si pacar supaya sabar dan ikhlas dan nanti pasti terlihat dan yang jahat pasti dapat balasan dan segala macam… sekarang saya tidak bisa. SAYA CUMA MARAH! DAN DIPENUHI KEBENCIAN! Padahal sumpah saya jarang sekali membenci hingga begini.


Tuhan maafkan saya. Saya akan membuang mereka sama sekali dari hidup saya. Saya tidak suka berhubungan dengan orang yang tidak memikirkan perasaan orang lain dan tetap merasa paling benar. Saya tidak mau. Saya menolak buat berkata balasan apa apa, saya hentikan mulai sekarang. Biarlah semua doa disimpan di dalam hati. Biarlah saya bikin janji dengan Tuhan yang menciptakan saya ini. Biarlah saya lupakan mereka, yang sumpah membuat saya sendiri sakit hati sekali, padahal dulu saya menaruh kepercayaan pada mereka. Saya benci Tuhan. Maafkan saya…

Dan saat ini saat airmata ini mengalir sendiri tidak mau berhenti, semoga si kekesalan dan kemarahan terhapus karenanya. Bukan buat mereka, tapi buat saya sendiri. Supaya tidak mati ini saya punya hati. Kalian boleh bilang apapun, tapi saya percaya kami lebih baik dari kalian. Kalian boleh merasa sesukses apapun mungkin nantinya, tapi saya titipkan semua pada Tuhan. Tuhan tahu betapa kami sakit hati karena kalian. Dia sakit. Saya ikut sakit. Bila saya musti memilih, biarlah hilang beberapa jumlah orang yang dulu pernah saya sebut teman dalam kehidupan, karena saya tidak mau peduli lagi.


Tuhan selalu paling tahu di atas sana apa yang terjadi.


Si Verdy

Jadi begini ceritanya…

Si Verdy sedang kesal sekali dengan rekan rekan kerjanya yang menurut dia sangat mengganggu. Mulai dari yang kecil kecil sampai jadi bukit dan ga ketahan lagi.

Jadi ceritanya dia ikutan gabung di satu perusahaan kecil yang bergerak di bidang web magazine dan segala hal yang berhubungan dengan web dan graphic designs.

Awalnya kalau menurut saya perusahaan ini sangat dodol sekali, karena dia ga punya orang yang mengerti tentang dunia web yang sebenarnya. Yang mereka punya cuma programer yang semuanya kopi paste dari buku. Isi kepalanya ya cuma buku. Pengalaman nol sama sekali. Website yang mereka bikin pun setelah beberapa bulan ga mengalami peningkatan sama sekali dan ga bahkan nongol di google! Ceritanya mulai sedikit berubah setelah si verdy ini gabung di sana. Saya sendiri ga mengerti gimana membahasakannya karena saya pribadi tolol mati soal yang beginian, tapi paling tidak sekarang sudah mulai jadi urutan atas di search enginenya si gugel ituh. Tampilan pun banyak berubah. Ada beberapa sistem dan apalah yang juga dirubah dan kalau menurut divisi lain pun jadi sangat mempermudah.

Tapi ceritanya si Verdy ini bekerja dalam satu tim, dan dia punya satu ketua tim. Padahal tadinya katanya ini ga pakai hierarki apalah. Sama sama memiliki si perusahaan inilah. Ternyata tetap begitu.

Lain ceritanya kalau yang jadi pemimpin adalah orang yang lebih. Lebih pintar, oke. Lebih bijaksana, oke. Lebih praktis, oke. Tapi kalau lebihnya lebih goblok kan susah. Lebih keras kepala pula! Yang paling parah adalah lebih sok tahu!

Kemarin ini dan masih belum finish juga sampai sekarang, ada satu proyek yang masuk ke perusahaan yang nominalnya sekian juta. Yang aneh adalah ceritanya buat mengerjakan proyek ini ada satu team yang katanya ikut mengerjakan. Terdiri dari 3 orang. Si verdy kebetulan terpilih jadi project leadernya atau semacam itulah. Yang aneh itu karena pada akhirnya dia yang mengerjakan semuamuanya! Dua orang lainnya cuma nebeng nama saja jadinya. Yang super aneh adalah, team yang mengerjakan ini cuma akan dapat 20 persen dari bayaran yang diberi oleh klien dengan alasan 60 persennya jatuhnya ke perusahaan dan 10 persen ke marketing team! Gila kali dia? Smentara ini ga ada hubungannya sama sekali dengan si perusahaan! Smentara ga ada yang berbuat apa apa selain si verdy! Dan dari 20 persen itu dia cuma dapat 50 persennya, sisanya buat dua lainnya yang bahkan pantatnya ga pernah kelihatan dalam pengerjaan proyek ini.

Sudah begitu si klien banyak minta. Ya itu memang hak dia, tapi kalau yang mengerjakan merasakan ketidakadilan karena dianya cuma mendapat bagian yang sama sekali ga bisa dibilang layak ya gimana? Dan orang lain, termasuk yang katanya pimpinan di perusaah itu, makin lama makin menunjukkan karakteristik yang sama dengan orang lain yang ada di sana jauh lebih lama sebelum si verdy. Sok tahu tapi tidak bisa berbuat apa apa! Banyak bicara dan kadang terlalu sok bijaksana tapi sama sekali tidak pada tempatnya. GA TEPAT dengan kata halusnya mah. Cuma bisa tanya tanya sudah selesai apa belum, karena butuh uangnya, tanpa tanya pengerjaannya suka sampai mana. Tanpa ada sedikitpun penghargaan atas apa yang dikerjakan. Seenaknya sekali? Sementara si verdy yang mengerjakan semuanya?

Dan kabarnya akan ada beberapa job lagi yang menanti, yang masih sama mau dibilang mengatasnamakan perusahaan dan pastinya si verdy yang akan banyak mengerjakan, tapi sangat sedikit kebagian!

Betapa tahi nya ketidakadilan dan kebrengsekan di depan mata. Wih… gagal sudah semua upaya buat sabar dan ikhlas. Si verdy itu bukan orang goblok! Dia bisa bikin apa apa yang jauh lebih bagus daripada yang lainnya di perusahaan itu bisa. Kalau terus begini, hay verdy, sebagai calon istrimu, aku memintamu dengan sedikit paksa buat berhenti saja. Karena selain tak ada guna, capek juga mendengarmu mengeluh dan memaki yang begitugitu lagi tanpa kunjung ada perubahan yang berarti. Sudahlah. Selesaikan yang satu ini, lalu angkat kaki.

Kita cari yang lain lagi… Yang lebih sedikit memaki, Yang lebih sedikit makan hati. Yang lebih bisa masuk ke hati… dan dompet. Jangan lagi lagi!

moa

MARA MARA MARA

Memangnya kenapa dengan maki maki? Kalau memang yang dimaki layak buat ga cuma diberi ya kenapa ngga? Jangan suruh saya buat tahan maki maki kalau memang yang disekeliling semuanya mengantri minta diberi! Manusia itu butuh katarsis. Anggap saja memakimaki katarsisnya saya. Ga suka? Suruh siapa?

Apa salahnya kalau saya ga suka liat berita yang isinya orang orang goblok yang padahal pintar tapi ga belajar tentang cara bicara kepada dan tentang manusia? Salah siapa kalau muak pada ketololan orang di atas sana yang baru akan bergerak kalau sudah ada pihak lain yang ikut campur dan menuding penuh menyalahkan karena memang penuh berlumur kenistaan dan kesalahan? Memang kenapa kalau saya jadi mau memakimaki sekelompok orang goblok yang berkumpul dan katanya bekerja di satu rumah di jalan Kelinci yang semua bahkan pemimpinnya yang kadang penuh kata bijaksana tapi sering juga penuh omong kosong yang ga ada hubungannya berbuat seenak pantatnya? Salah siapa kalau saya muak dan mengutukngutuk mereka yang seenaknya saja melimpahkan tanggung jawab pada pacar saya yang ga bahkan diberi reward yang sepadan dengan apa yang dilakukannya? Jangan protes juga kalau saya bahkan kadang kesal pada pacar yang juga mengeluhkan hal yang lagi dan lagi sama karena orang orang dungu tersebut pada saya dan membuat saya menggantungkan impian yang memang sudah tertunda di jemuran tetangga! Untung sekali saya sudah tidak perlu bekerja bersama mereka sekarang atau akan penuh dengan caci maki dan sumpah serapah tiap hari yang tanpa perlu dari mereka saya sudah punya banyak! Memang kenapa kalau saya muak berada di rumah yang aura negatifnya memenuhi hingga ke ujung atapnya?

Dan hey kamu yang bilang pada saya jadi perempuan ga boleh memakimaki dan ga boleh ngomong kasar, sini penismu saya pinjam tiap saya mau makimaki dan bikin lega ini hati! Kau toh kadang tidak butuh juga sebenarbenarnya dan kalau mau coba buat ngaca!

moa

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 329 other followers