Beberapa hari belakangan kemarin, saya sempat beberapa kali menerima telpon dari seorang teman yang awalnya teman blogger, teman bisnis, dan sekarang sudah saya anggap salah satu adik saya. Sempat kaget, karena begitu telpon diangkat, yang terdengar di ujung sana langsung suara termehek-meheknya yang membuat saya ga bisa menangkap sama sekali apa yang dia katakan.
Sbetulnya, dia ini jarang cerita macam-macam pada saya kecuali curhat tentang bisnis yang sedang kami jalankan sekarang ini. Kalaupun ada beberapa cerita-cerita lainnya, saya ga pernah tahu apa dan gimana sebetulnya dan saya ga pernah mau memaksa siapapun buat curhat sama saya tentunya. Jadi waktu dia bilang “ga kuat… ga tahan…” sampai mau iris-iris tangan, saya panik dan bingung!
Ditanya apakah karena keluarga, ternyata bukan. Padahal tadinya saya PeDe mungkin tentang ini, karena beberapa kali sempat membaca ada sesuatu di hubungannya dengan keluarga. Tapi bukan, lho. Apakah masalah skripsi, karena dia sempat berkalikali curhat tentang skripsi yang ga sudah sudah dan membuatnya pusing? Masih bukan… Apakah tentang teman? Atau tentang bisnis yang merasa direpotkan oleh anak cucunya yang maunya disuapi saja? Eh, masih bukan juga…
Tiba tiba dia bilang, “Ini soal cowo, mba…”
Oalah… ternyata memang soal cowo! Tadinya mau tanya juga, tapi karena dia sendiri ga pernah cerita pada saya soal cowo, jadi ya biar ga usah ditanyakan saja. Lalu, cowo itu kenapa dan ngapain dia kok dia bisa jadi sestres itu?
Si cowo rupanya sebetulnya sudah dua bulanan putus dengannya, tapi mereka masih dekat seperti dulu waktu pacaran, dan tiba-tiba si cowo ingin menyudahi semuanya dang a mau dekat lagi dengan dirinya. Ketika dikonfirmasi kemudian, rupanya dia balik dengan mantan pacarnya dan mau menikah! Karena katanya kalau dengan dia sama orang tua saja ga disetujui, bagaimana mau punya masa depan.
Beberapa fase dilewatinya rasanya selama menelpon dan bercerita pada saya beberapa hari terakhir. Mulai dari sakit hati dan sedih sampai hari-hari terasa begitu suram dan cuma bisa diisi dengan menangis dan ga mengisi perut dengan makanan apapun selama beberapa hari lamanya. Dilanjutkan dengan fase mencari alasan kenapa begini dan kenapa begitu. Kemudian masuk ke menyalahkan. Semua adalah salah si lelaki! Kenapa dia ga berjuang, kenapa dia begitu saja mau menikah dengan mantan pacarnya yang padahal dulu ga pernah mau mempertahankan dia, kenapa dan kenapa lainnya yang semuanya berjawaban “Karena salah dia!”. Sampai akhirnya mengutuk dan menyumpah. Mengharapkan hal buruk yang terjadi pada si lelaki. Mengharapkan kelak pernikahannya ga akan bahagia, dan lain sebagainya.
Terakhir dia masih di tahap itu. Ga papa kok, sayang… Take your time. Tapi semoga ga terlalu lama buat sampai ke satu tahap terakhir yang harus kamu lewati kalau memang kamu mau hidupmu berjalan lagi tanpa tersangkut di kisah yang satu ini sampai kapanpun. Tahap pemahaman. Tahap ikhlas. Tahap dimana kamu akhirnya menyadari bahwa semua ini memang terjadi karena alasan yang mungkin kamu akhirnya paham kenapa, atau kamu sadar bahwa mungkin kamu hanya belum tahu, dan nanti kamu pasti tahu.
Take it from someone who’s been there, done all the phase, and arrived save and sound to the new phase of another story. The better one, or maybe the best one
Ketika kemudian seorang BFF yang gantian ambil tempat buat cerita ini itu tentang dirinya yang masih terperangkap pada trauma Marissa masa lalu dengan seorang lelaki yang ga akan pernah saya anggap layak buat dirinya, dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi hubungannya dengan pasangan-pasangan sesudah si lelaki goblok itu, saya cuma bisa berpikir tentang satu hal:
Sebagian perempuan, mau sehebat dan sepintar dan setangguh gimana juga, once in a while, kalau sudah menyangkut seorang lelaki, kalah juga…
The good news is, saat semua tahapnya sudah terlalui, yang ada hanya seorang perempuan super tangguh yang sudah bisa menghadapi apapun dan siapapun yang datang nantinya, karna dia sudah pernah merasa yang paling buruk terjadi padanya

Jangan ngambek kalo ga setuju… just CMIIW
