Buku Hadiah. “Kepada, Lelakiku”. Dari Perempuan, Buat Lelakinya.

Sudah bisa dipesan sekarang! Tepat di ulang tahun pernikahan kami :)


My first baby: “Kepada, Lelakiku”



……Karena tidak selamanya segala yang tersembunyi di dalam hati, tersangkut di ujung lidah, berlari-lari di pojok kepala, bisa dengan mudah terucapkan dengan bantuan pita suara sebagai kata-kata.
Sebagai perempuan, apalagi istri, kadang ada saja hal yang akhirnya hanya bisa lagi dan lagi terpendam. Padahal betapa ingin buat diungkapkan. Betapa ingin buat dipahami.
Maka tertulislah lembar demi lembar surat cinta dari seorang perempuan, seorang istri, bagi sang lelaki, sang suami. Tentang harapan, tentang kecewa, tentang cemburu, tentang percaya, tentang impian masa depan, tentang komitmen. Ah ya, pastinya semuanya tentang CINTA.
Bacalah, dan mungkin akan Anda temukan kata-kata yang selama ini ingin diungkap. Atau akan menemukan kata-kata yang perempuanmu ingin ungkap. Tandai, beri garis bawah, dan beri pada pasangan, buat mewakilimu ungkapkan segalanya!
Karena pada akhirnya, komunikasi yang lancar, adalah kunci sebuah hubungan yang berhasil……

 

Jangan khawatir… ini bukan hanya cerita tentang seorang istri yang hanya kepada seorang suami. Walau memang demikian. Tapi pada akhirnya, semua masalah pernikahan umumnya sama, hanya sikonnya saja yang mungkin kadang beda :) Mungkin ini tentangmu, tentang dia, tentang mereka.

 

Baca saja, dan temukan dirimu di dalamnya :)


Buku Ini sudah bisa dipesan sekarang via web www.leutikaprio.com, atau inbox Fb Leutika Prio atau FB nyonya :D dengan sujek PESAN BUKU. Harga cuma Rp 26.700 ajaaa ;)

Untuk pembelian minimal Rp 90.000,- (Maksudnya pleus buku terbitan Leutika lainnya hehe tapi kalo mau borong buku ini juga boleeehhhh :p) GRATIS ONGKIR seluruh Indonesia lho! Pesen dan baca yaa :D

Tentang Perempuan Tentang Lelakinya

Beberapa hari belakangan kemarin, saya sempat beberapa kali menerima telpon dari seorang teman yang awalnya teman blogger, teman bisnis, dan sekarang sudah saya anggap salah satu adik saya. Sempat kaget, karena begitu telpon diangkat, yang terdengar di ujung sana langsung suara termehek-meheknya yang membuat saya ga bisa menangkap sama sekali apa yang dia katakan.

Sbetulnya, dia ini jarang cerita macam-macam pada saya kecuali curhat tentang bisnis yang sedang kami jalankan sekarang ini. Kalaupun ada beberapa cerita-cerita lainnya, saya ga pernah tahu apa dan gimana sebetulnya dan saya ga pernah mau memaksa siapapun buat curhat sama saya tentunya. Jadi waktu dia bilang “ga kuat… ga tahan…” sampai mau iris-iris tangan, saya panik dan bingung!

Ditanya apakah karena keluarga, ternyata bukan. Padahal tadinya saya PeDe mungkin tentang ini, karena beberapa kali sempat membaca ada sesuatu di hubungannya dengan keluarga. Tapi bukan, lho. Apakah masalah skripsi, karena dia sempat berkalikali curhat tentang skripsi yang ga sudah sudah dan membuatnya pusing? Masih bukan… Apakah tentang teman? Atau tentang bisnis yang merasa direpotkan oleh anak cucunya yang maunya disuapi saja? Eh, masih bukan juga…

Tiba tiba dia bilang, “Ini soal cowo, mba…

Oalah… ternyata memang soal cowo! Tadinya mau tanya juga, tapi karena dia sendiri ga pernah cerita pada saya soal cowo, jadi ya biar ga usah ditanyakan saja. Lalu, cowo itu kenapa dan ngapain dia kok dia bisa jadi sestres itu?

Si cowo rupanya sebetulnya sudah dua bulanan putus dengannya, tapi mereka masih dekat seperti dulu waktu pacaran, dan tiba-tiba si cowo ingin menyudahi semuanya dang a mau dekat lagi dengan dirinya. Ketika dikonfirmasi kemudian, rupanya dia balik dengan mantan pacarnya dan mau menikah! Karena katanya kalau dengan dia sama orang tua saja ga disetujui, bagaimana mau punya masa depan.

Beberapa fase dilewatinya rasanya selama menelpon dan bercerita pada saya beberapa hari terakhir. Mulai dari sakit hati dan sedih sampai hari-hari terasa begitu suram dan cuma bisa diisi dengan menangis dan ga mengisi perut dengan makanan apapun selama beberapa hari lamanya. Dilanjutkan dengan fase mencari alasan kenapa begini dan kenapa begitu. Kemudian masuk ke menyalahkan. Semua adalah salah si lelaki! Kenapa dia ga berjuang, kenapa dia begitu saja mau menikah dengan mantan pacarnya yang padahal dulu  ga pernah mau mempertahankan dia, kenapa dan kenapa lainnya yang semuanya berjawaban “Karena salah dia!”. Sampai akhirnya mengutuk dan menyumpah. Mengharapkan hal buruk yang terjadi pada si lelaki. Mengharapkan kelak pernikahannya ga akan bahagia, dan lain sebagainya.

Terakhir dia masih di tahap itu. Ga papa kok, sayang… Take your time. Tapi semoga ga terlalu lama buat sampai ke satu tahap terakhir yang harus kamu lewati kalau memang kamu mau hidupmu berjalan lagi tanpa tersangkut di kisah yang satu ini sampai kapanpun. Tahap pemahaman. Tahap ikhlas. Tahap dimana kamu akhirnya menyadari bahwa semua ini memang terjadi karena alasan yang mungkin kamu akhirnya paham kenapa, atau kamu sadar bahwa mungkin kamu hanya belum tahu, dan nanti kamu pasti tahu.

Take it from someone who’s been there, done all the phase, and arrived save and sound to the new phase of another story. The better one, or  maybe the best one :D

Ketika kemudian seorang BFF yang gantian ambil tempat buat cerita ini itu tentang dirinya yang masih terperangkap pada trauma Marissa masa lalu dengan seorang lelaki yang ga akan pernah saya anggap layak buat dirinya, dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi hubungannya dengan pasangan-pasangan sesudah si lelaki goblok itu, saya cuma bisa berpikir tentang satu hal:

Sebagian perempuan, mau sehebat dan sepintar dan setangguh gimana juga, once in a while, kalau sudah menyangkut seorang lelaki, kalah juga…

The good news is, saat semua tahapnya sudah terlalui, yang ada hanya seorang perempuan super tangguh yang sudah bisa menghadapi apapun dan siapapun yang datang nantinya, karna dia sudah pernah merasa yang paling buruk terjadi padanya :mrgreen:

Jangan ngambek kalo ga setuju… just CMIIW :D

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 329 other followers