Are you a Team Player?

Ini lagi lucu lho… Beberapa hari ini kok ya ada aja yang lagi curhat sama saya tentang keadaan di kantornya yang rasanya umum terjadi di banyak kantor juga. In a bad way.

Jadi tentang betapa sulitnya buat ngeblend dengan orang lain di kantornya. Betapa sulitnya buat dimengerti katanya, padahal sudah berusaha sebisanya. Bukan di dia aja sebetulnya ruginya, tapi di kantor itu sendiri bukannya akan jadi sulit maju kalo individu-individunya ga punya sense of teammates yang bagus? Team worknya ya dijamin ke laut aja jalan-jalan dia di sana.

Teman saya yang ngomong ini saya kenal banget orangnya. She’s smart. She’s one of a kind. Asik, pinter, jago lah di bidangnya! Sayang banget kalo orang kaya dia ga bisa gabung dengan rekan kerjanya dan akhirnya ga jadi apa-apa.
Cerita dia ini jadi mengingatkan banget saya sama American Idol *lagi* pada saat group round. Menurut saya pribadi nih, suara setiap orang yang bisa mencapai babak grup itu masing-masing juara banget! Beda-beda type pula! Tapi disitulah susahnya. Mereka bagus sebagai individu. Bayangkan, orang yang bagus-bagus dan berbeda warna musik dan suara, dipaksa buat gabung membentuk satu grup dan membentuk harmonisasi yang indah kalau mau lolos ke grup selanjutnya DALAM SEMALAM!

Yeap. Banyak banget orang-orang bersuara bagus yang jadi ga bersinar pada babak ini. Suara ga nyambung sama grupnya. Makanya ga heran kalau jadi banyak yang putus asa dan bahkan menggagalkan mereka menuju babak selanjutnya.

Tapi ada lho, yang justru menunjukkan sekali kecanggihan dan kekerenan mereka saat tergabung di satu grup yang mengerti bagaimana menyatukan perbedaan yang ada jadi sesuatu yang sumpah keren abis!
Are you a one man player or a team player?

Ada yang bilang sama saya, masalah pemain solo atau pemain tim adalah bawaan yang ga bisa dipaksakan buat jadi sebaliknya. Oke. Dipaksakan mungkin emang ga akan bagus jadinya. Tapi dikompromikan harusnya bisa dong? HARUS. Segala hal harus bisa dikompromikan, kecuali kepercayaan pada Tuhan. Itu aja yang ga bisa.

Di kantor teman saya, dia ini adalah orang yang ingin sekali jadi team player di sana. Sayang sekali, kayanya anggota team yang lainnya ga terlalu welcome deh. Akhirnya dia memutuskan buat jadi one man player. Tapi hasilnya ga maksimal sama sekali. Karna dia bekerja di sebuah divisi yang seharusnya masing-masing anggotanya saling dukung. Yang rugi siapa jadinya? Kantornya jelas… wong tetep musti ngegaji :p

Tapi dia sendiri jadi depresi. Depresi karna kok yang lain sepertinya menikmati jadi pemain solo ya? Kasian juga denger ceritanya yang kayanya rempong bener rasanya hehehe. Padahal kalau buat saya pribadi mungkin ga masalah. Saya memang punya kecenderungan cacat sosial yang bikin saya jadi agak susah buat berhubungan dengan orang lain. Makanya saya cuma punya sedikit sahabat dekat yang bertahan hingga sekarang dalam kehidupan. Sisanya, teman perifer. Tapi saya menghargai keberadaan mereka semua, dan selalu berusaha buat menyatu tergantung situasi. Tapi serius deh, saya ga pernah sama sekali merasa memaksakan diri ingin diterima, ingin menyatu yada yada. Mind my own business aja :)

Saya masih suka heran kenapa orang suka sedih banget kalo ga diterima masuk di satu grup, atau justru heran sama orang yang ga bisa sama sekali menerima buat jadi bagian dari grup. Padahal kan sekali lagi, mustinya sih bisa aja ada kompromi. Tergantung kebutuhan aja… Kalo mau usaha pasti bisa sih. Mau maju ga? Sebelum jadi professional yang emang bisa melakukan segala sesuatunya sendirian dan ga butuh orang lain, kayanya mending belajar jadi pemain tim deeehhh…. dan mau menerima anggota tim lainnya pastinya ;)

Alhamdulillah saya ga terlalu peduli ama masalah kantor2an karna saya ga merasa ngantor. Saya siaran. Orang di radio kadang nyatu, kadang ngga. Saya sendiri mungkin yang ga terlalu banyak meluangkan waktu buat mereka. Tapi saya berusaha buat jadi bagian dari keluarga besar kok. Because I am. Tapi prioritas saya memang bukan di radio. Tapi di bisnis saya yang saya sedang bangun sendiri, bersama anak cucu di bisnis yang pastinya butuh banget kerjasama team, dan sama sekali ga bisa jadi pemain solo. Semua sadar betapa saling membutuhkannya satu sama lain. And that’s what make this a blessing for me :)

But then again, mendengarkan curhat orang paid off. Skarang si teman punya team baru kok, yang pastinya bakal menerima dirinya sebagai pemain di dalam bisnis besar yang sedang dirintis. She’s in the group now! Welcome ya say… You’re gonna be great and appreciated here, take my words!

Butuh diterima juga sebagai team dan dihargai sesuai dengan apa yang dikerjakan? Disini, Insya Allah dapet :)

Just So Updated

Aduh… sudah cukup lama juga ya saya ga mengisi apa apa di blog ini? Sayang sekali… turun banget kali yah semua ranking ranking annya? hahaha like i care! :p Ga kok… saya ga peduli…

Hari ini semuanya berbatik di kantor. Saya juga… kenapa? Mengikuti trend? Ngga juga.. sebagai orang yang pernah ikut ribut mencaci negara tetangga karena mencuri apa saja pusaka Indonesia, rasanya udah sewajarnya ya? Lagipula hari ini adalah hari terakhir di kantor dalam arti sebenarnya. Jadi gapapa kan tampil manis? :D

Sudah Oktober lagi dan saya memutuskan buat keluar dari pekerjaan yang bisa membuat saya gila dan stres, justru karena tidak melakukan apa apa. Weekend pun saya tinggalkan. Lepas hubungan skalian. Sudah. Slanjutnya? Well… saya sih masih menunggu itu radio yang katanya mau cepat mengeluarkan jadwal… sambil coba2 daftar di radio lain lagi…

Ga bisa terikat… apa saya maunya yang nyaman aja? Ah nggak juga… saya mau yang kehatian… ga minta terlalu banyak kan? Saya mau kerja keras? Tapi buat kerja kepaksa… itu aja… ada banget lho bedanya!

Oriflame saya juga Alhamdulillah makin kesini makin memperlihatkan hasilnya, dan itu cukup memuaskan :) masih akan terus berusaha buat berkembang tentunya! Ga mungkin dong berhenti begitu saja…

Impian di depan mata yang sebentar lagi akan kami jelang juga sudah menanti. Sudah terlalu banyak air mata yang tumpah dan usaha yang dikerahkan buat sampai kesana, maka kami tidak boleh gagal! Insya Allah Amien…

Mau jadi sales door to door ah :lol: anything for the big money, eh?

Haduh… sbetulnya saya ini mau cerita apa? Ga tau juga… pengen update blog aja hehehe

Masih Syawallan nih! Maaf lahir batin smuanya! :D

Dua Dunia… Aku Boleh Di Tengah Saja?

Siang ini saya sedang berada di tengah ruangan berisi 3 orang di dalam kantor semi rumah yang baru akan setelah Lebaran beralih fungsi jadi kantor sepenuhnya ini. Mungkin nanti saya akan dapat ruangan sendiri ;) Tapi saat ini yah begini…

Semua orang sedang sibuk sendiri sendiri dan saya sendiri masih tidak tahu apa yang harus saya lakukan lagi. Pekerjaan yang seharusnya saya lakukan belum akan bisa diselesaikan jika yang lain belum merampungkan apa yang memang seharusnya mereka bereskan. Ah… posisi yang bisa dibilang enak ga enak. Santai ga santai. Sibuk ga sibuk. Ngantuk.

Di luar sana sahabat saya sedang dating berkunjung. Suaminya memang jadi Direktur Operasional disini. Mau bagaimanapun juga, kakaknyalah Direktur Utama disini. Jadi dia punya banyak kuasa buat bisa keluar masuk disini. Jadi disinilah dia siang ini. Mau jalan jalan bersama sang kakak. Munggahan sebelum bulan puasa katanya. Baiklah. Nikmatilah.

Kemarin-kemarin dia juga sempat datang. Masih sama juga dengan saat ini. Dia duduk di hadapan salah satu computer yang memang ditujukan buat digunakan oleh anggota keluarga, dan berfacebook ria. Hal yang rada jarang dilakukannya katanya, karena di rumah tidak ada internetnya, dan dia terlalu sibuk dengan kedua anaknya buat sempat ke warnet.

Lalu kadang dia duduk disisi saya di hadapan computer saya, dengan saya dan jemari yang sibuk bergerak kerjakan ini itu dan apapun dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore dan umumnya lebih. Dia bercerita tentang hidup seharihari. Mengajak bergosip tentang apa saja. Kadang sambil memangku si anak kedua yang terlampau lucu sementara mata saya tetap menatap pada monitor sekalipun kita saling mengobrol dan tertawatawa.

Lalu kadang saya lihat dia meminta sesuatu pada suaminya sambil senyum senyum manis ala seorang istri *entah kenapa kalau kau perhatikan, hanya para istri yang tahu bagaimana senyum seperti ini pada suami* sambil bilang pada saya “ya iyalah… kan laki kerjanya nyari duit… istri ngabisin duitnya” dan dengan cengir dengan senangnya :D

Saya kadang iri. Saya iri dengan dirinya yang sudah tahu sekali tempatnya di dunia sebagai seorang istri yang memang harus ada di bawah suami. Mengurus anak saja. Yang cari duit ya suami. Toh anak anak terawat dengan sangat baik dan pintar semuanya jadinya. Mau apa lagi? Kodratnya perempuan yang sebenarnya toh memang demikian kan katanya?

Katanya… lalu bagaimana dengan perempuan bekerja di luar sana? Ya. Mereka memang berkeluarga. Tapi pagi hingga sore dan ga jarang malam juga, sama sekali tidak bisa berada di rumah karena sibuknya berkarir untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan tidak sayang pada keluarga rasanya. Tapi keadaan yang memaksa, begitu kata mereka.

Saya dimana? Tidak tahu juga. Sebagai anak pertama dari keluarga menengah yang biasa biasa saja dan punya tiga adik yang masih kecil dengan orang tua yang sudah menua dan hampir tidak bisa lagi dan tidak tega diharapkan bekerja. Akan menikah dengan seorang lelaki yang juga dari keluarga menengah, tapi untungnya tidak ada adik masih kecil yang perlu buat dihidupi. Nah, kira kira yang demikian kau pikir akan ada dimana?

anaknanawindyMendengarkan jeritan lucu keponakan saya. Anak si sahabat. Juga menatap si sahabat yang sibuk tertawa tawa dan sebentar lagi akan pergi dengan kakaknya berjalanjalan munggahan di siang hari ini. Saya? Bekerja. Menahan ngantuk. Puasa hari pertama pun musti ada disini sekalipun karena Saptu jatuhnya jadi setengah hari. Betapa nyatanya yang namanya dua dunia.

Saya tidak mau selamanya ada di dunia saya. Tapi saya juga tidak mau total berada dalam dunia yang seperti sahabat saya. Saya mau mandiri tapi juga mau bisa bersandar. Saya mau santai tapi juga mau aktualisasi diri. Saya mau ada di tengah tengah. Di dunia yang saat ini sedang saya ciptakan sendiri pelan pelan tapi saya yakin pasti. Tapi buat sementara saya masih ada disini. Di dunia sebelah sini. Yang bersebrangan jauh dengan dunia yang seperti milik sahabat saya. Dan saya baik baik saja. Ini tidak apa apa. Karena yang begini memang jalan saya. Karena yang begini juga tidak akan buat selamanya. Saya akan merubahnya.

Sesuatu yang kita pilih, mungkin bukan yang terbaik. Tapi menjalani pilihan, adalah hal yang pasti baik.




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 329 other followers