Disini saja, di mana rumput juga sama hijaunya

Selamat malam, Bebo

Malam ini kita isi dengan banyak sekali tertawa. American Idol memang selalu tontonan yang menyenangkan, ya ;)

Kemudian kau dan aku kembali sibuk sendiri melakukan pekerjaan kita masing-masing. Well, mungkin lebih tepatnya dibilang bersantai dengan cara masing-masing ya :lol: Aku yang lupa begitu saja pada tugas rumah tangga ya ya… keliatan kok setrikaannya numpuk… Sbulan lebih tiap habis cuci main lipat :lol: as i said… tinggal nunggu moodnya aja kok sebetulnya. Kau yang begitu menikmati entah balap mobilmu, entah imaginary football team mu di PSP. Menunggu aku mengantuk dan tidur kembali, barulah kau memulai bekerja lagi, seperti malam-malam sebelumnya.

Sehari-hari memang hanya selalu begini-gini saja. Umumnya bangun siang, sekalipun aku lebih pagi *sedikit*, masak, makan siang bareng, nonton DVD sambil makan dan satu dua jam stelahnya, atau kadang aku pergi mengurus bisnisku, kau sibuk dengan orderan klienmu, sampai sore hari saat aku sudah pulang dan kau sudah jenuh, cuddling di sore hari sampai magrib, mandikadang, menunggu makan malam, nonton lagi, aku berbalas sms dengan calon partner, kau chat dengan klien, aku tidur, kau bekerja, kau tidur, aku bangun duluan… Rutinitas yang ga selalu rutin.

Lalu kata orang itu aneh. Kata mereka ga produktif. Lalu ditanya, “apa kau puas dengan hidupmu sekarang?”

Terpikirlah tentang iri. Ingat pada seorang sahabat yang sudah menikah sejak lulus SMA dan sekarang bahagia dikelilingi suami dan tiga orang malaikat ciliknya. Terbayang seorang sahabat kuliah yang sejak menikah oleh orang tuanya diberi hadiah rumah pribadi ga perlu cicil sama sekali dan mobil, tidak sama sekali perlu pusing pindah kontrakan stelah satu tahun tinggal di rumah yang rasanya belum terlalu nyaman. Seorang lagi sahabat dari SMA yang bekerja di sesuai bidangnya, yang sebetulnya sama denganku, bergaji besar dan berencana ke luar negeri.

Wah… Hal-hal yang sama sekali belum kita miliki, padahal kita ingini. Aku, paling tidak.

……………………..

Kelanjutan surat bisa dibaca di buku ini

Sudah bisa dipesan di http://www.leutikaprio.com

atau PM ke inbox FB Leutika Prio atau inbox FB saya ;)

Atau email ke leutikaprio@hotmail.com atau maddy_taz@yahoo.com :)

 

A book you’re most likely gonna enjoy reading it *kata yang nulis :lol:


Dear BF… Love U All!!!

Sudah seminggu sahabat saya Mega menikah. Saya belum dengar kabar apa apa lagi dari dia selain satu smsnya yang bilang betapa excitednya dia dapat lingerie dari saya dengan warna merah menyala dan bulu bulu lucunya :D Saya senang kalau dia senang dengan apa yang saya kasih buat saya, yang sebetulnya saya sendiri ingin punya tapi merasa sungguh belum waktunya :p

Prosesi nikahannya lamban banget! Ini adalah kata kata yang dikeluarkan oleh seseorang yang sama sekali ga mengerti apa gunanya itu upacara adat yang sedemikian banyaknya. Sumpah, dalam bayangan saya tentang pernikahan impian saya, ga satupun upacara adat masuk di dalamnya. Nyengsereuh atau apapun itu, satu upacara yang dilakukan orang Sunda yang katanya sama dengan pengetahuan pranikah, garingnya bukan main! Mana leled pula! Plus buat saya yang tulen orang Indonesia tanpa mengaku masuk salah satu suku, dan tidak bisa berbahasa daerah manapun dengan benar, cara si pembawa acara bicara yang juga dengan bahasa Sunda lemes bikin sama sekali acara ga bisa saya mengerti! Jangankan saya deh… yang mau nikah aja ga ngerti kadang si orang itu ngomong apa :p

What a waste of time and of course, waste of money!

Tapi ya sudahlah suka suka saja. Kata Mega sih semua itu mau ayah ibunya katanya, karena Mega dan Agam sama sama anak terakhir jadi mereka oke oke saja. Saya cukup bersyukur bahwa terakhir kali dikonfirmasi pada orang tua saya, mereka sama menganggap ga penting sama sekali itu segala adat adatan! So we’re not gonna use it on my wedding! Yeay! *duh duh jadi pengen kawin buru buru :p

Lalu tibalah si harinya. Ga kalah ribetnya dengan segala adat sebelumnya. Lamma dan ribet. Ya ya ya. Terserah dengan semua itu makna ya khidmat ya apalah. I just dont get any of that, at all.

Tapi satu yang saya dapat rasakan hari itu.

IRI. Ya. Tiga huruf besar besar yang memenuhi diri saya dengan sempurna. Sebetulnya tidak apa jika ada seorang sahabat yang menikah… justru semustinya turut ikut sangat berbahagia. Tapi saya tidak bisa sepenuhnya bahagia.

Dengan Isyana, sahabat saya dari SMA yang sekarang sudah punya dua anak yang sangat lucu *dan untungnya paling dekat dengan tante Tasyanya dibanding tante tante lainnya*. Dengan Nita yang bulan November nanti juga mau menikah. Dengan Nancy yang sekalipun suaminya di Jerman sana tapi paling tidak dia sudah menikah. Dengan… Dengan semua teman yang rasanya sudah sangat puguh langkah itunya.

Bukan berarti saya tidak.. tapi rasanya saat ini sekalipun si lelaki kecil bilang harus percaya bahwa pasti akan jadi tahun ini (AMIEN…) tapi masih belum terlihat dengan benar benar jelas. Dan itu membuat saya sangat sedih… SANGAT.

Bikin iri… sangat iri. Dan biasanya kalau sudah begini saya jaga jarak dengan teman teman saya karena sama merasa kami bagaimanapun sudah jadi beda, paling tidak sampai saya juga sama sudah menikah sperti mereka. Sebagaimana kami (Mega juga tadinya sama) tidak terlalu dekat lagi dengan Nana karena kami merasa bahwa dia pasti punya kesibukannya sendiri sebagai seorang mama dan mulai tidak butuh kami lagi. Merasa tersisihkan. Tapi ternyata mungkin saya yang menyisihkan?

Karena besoknya waktu saya sms an dengan Nana tentang keluarnya saya dari siaran dan segala macam lainnya, sms balasannya cukup panjang dan isinya begini kira kira

“…klo ngomongin soal iri…gw jg iri tz m lo..lo skr menyandang S.psi yg shrsny bs jg gw sandang saat ini..tp it dia..hdp itu plhan..dn lakukan hl terbaik d jln yg dh lo plh..krn mnsia g prnh bs puas..mdh2an rs iri kt ini, bs mbw dmpak positif…blablabla…gw sng lo sms gw, gw g mw kt lost contact, kmrn2 ni gw ngrs sdih aj g ad yg kc kbr k gw..gw pgn kt ttp bs curhat2an..ttp bs sling support…gw doain smua yg tbaik buat loe”

Yes. Sms nya sangat panjang memang. 4 kali sms itungannya. Dan saya menangis sesudah membacanya. Menangis karena hati saya mendadak hangat, dan hangatnya menjalar ke mata, membuat si air mata tergenang dan akhirnya menetes jatuh pelan pelan. Saya lihat sesuatu yang beda.

Semua orang dalam kadarnya sendiri sendiri punya kesepiannya, punya irinya, punya rasa sendirinya, punya semua tepat sama seperti yang mungkin tiap orang lain juga rasakan, dengan derajat yang berbeda tiap tiap orangnya.

I’ll be a better bestfriend, Na.. and Mega. I’ll be there, despite all of my envy to you. I am a bestfriend indeed! That’s what I’ll become. For all of you.

Ya… mungkin saya memang pernah bilang bahwa kadang susah menjadi single saat orang di sekeliling kita tidak, tapi mungkin si kesusahan bisa berkurang dengan mengingat bahwa bahkan mereka juga punya kesusahan yang sama, dengan sebab yang berbeda, dan beban yang sama saja.

I N V U

Manusia itu mahluk yang kompleks. Rasanya itu satu kenyataan yang paling nyata dan ga mungkin akan berubah. Jangankan bicara soal banyak manusia yang sudah sangat pasti berbeda satu sama lainnya, coba saja melongok ke dalam diri. Ah… betapa banyak substansi rasa yang bercampur aduk di dalamnya, yang disukai dan dibenci, yang disadari dan yang direpresi, semua ada di dalam sana.

Siapa juga yang tidak akan berusaha jadi orang baik di dunia ini dan mencoba menyucikan hati? Tapi kadang usaha saja tidak cukup buat bisa membendung rasa rasa lain yang ada? Kecewa, sakit, benci, marah, dendam, atau mungkin… iri?

Entah dapat darimana tapi saya termasuk orang yang percaya, mau tidak mau – suka tidak suka, kadang orang akan merasa ada di atas setelah melihat ada orang lain yang lebih di bawah. Dan yang ada di bawah tidak perlu buat liat ke atas sering sering, karena cuma akan mendapati rasa silau yang menyakitkan mata.

Tidak. Saya sama sekali bukan orang yang suka melihat ke atas buat menjadi termotivasi atau apalah. Saya orang yang merasa terpuruk saat merasa orang orang semua sudah di atas dan saya masih di sini sini juga. Saya tidak bisa…

Dan hari ini, pagi pagi sekali, ada sebuah kabar gembira dari seorang sahabat. Sudah punya sesuatu buat ditempel di belakang namanya yang asli cuma satu kata. Dia yang sedang berbahagia.

Saya juga jadi bahagia mendengarnya. Tapi sedikit. Tapi sesaat. Lebih banyaknya adalah … saya tidak bisa. Entah kenapa di sisi itu saya sedang ada di sudut dimana saya tidak bisa ikut bahagia dengan kebahagiaan orang lain. Saya merasa tertinggal dan jadi takut dan sendiri. Rasanya tidak bisa dibandingkan dengan kebahagiaan yang saya sendiri sangat cukup punya dan mungkin dia tidak punya yang saya punya! Iri selalu ada. Sekuat apapun dia berusaha buat ditekan. Sekuat apapun dihindari. Seberusaha bagaimanapun dianggap tidak ada dan tidak mau buat disadari. Ada tuh. Disitu.

Mungkin memang begitu adanya? Ada satu sisi kelam yang tidak bisa dihindari selalu ada. Saya bukannya orang paling malang sedunia padahal. Enak saja! Saya juga bahagia. Dan mungkin ada orang lain yang juga tidak mampu berbahagia dengan kebahagiaan saya. Setiap tiap pasti sudah punya porsinya… tinggal disadari saja.

Tapi ya sudahlah. Mungkin tidak apa apa. Mungkin saya cukup hindari sedikit buat sementara. Manusia sekali lagi, kompleks. Saya, mahluk sosial yang kadang memilih buat anti-sosial. Jadi buat sekarang biar begini saja. Dan biarkan saja saya agak berdamai dengan diri sendiri sementara saja.

 

 


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 330 other followers