Suka sepet terima Broadcast Message? Iya kalo isinya cuma, “TC”, atau “Teskon”, atau “.”, kaya orang bego. Pleus hoax yang ga bahkan diverifikasi kebenarannya. Cih. Sebel bok! Tapi kadang, ada beberapa broadcast mesej yang isinya bagus, buat saya. Tapi dijamin, sebagus apapun broadcast mesejnya, akan ada aja orang yang bilang itu menyebalkan karena mau gimana juga intinya adalah SPAMMING! Makanya, saya ga mau spam. Biasanya kalo isinya makna di share di Facebook. Yang ini agak panjang, jadi mau di share disini.
SEBUAH KISAH NYATA.
BERDOALAH YANG BAIK-BAIK BUNDA SAYANG.
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Seorang bocah mungil sedang asyik bermain-main tanah. Sementara sang ibu sedang menyiapkan jamuan makan yang diadakan sang ayah.
Belum lagi datang para tamu menyantap makanan, tiba-tiba kedua tangan bocah yang mungil itu menggenggam debu. Ia masuk ke dalam rumah dan menaburkan debu itu diatas makanan yang tersaji.
Tatkala sang ibu masuk dan melihatnya, sontak beliau marah dan berkata, “idzhab ja’alakallahu imaaman lilharamain,” Pergi kamu…! Biar kamu jadi imam di Haramain…!”
Dan Subhanallah, kini anak itu telah dewasa dan telah menjadi imam di masjidil Haram…! Tahukah kalian, siapa anak kecil yang di doakan ibunya saat marah itu…?
Beliau adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais, Imam Masjidil Haram yang nada tartilnya menjadi favorit kebanyakan kaum muslimin di seluruh dunia.
Subhanallah ..
****
Ini adalah sebuah kisah bagi para ibu , calon ibu, ataupun orang tua… hendaklah selalu mendoakan kebaikan untuk putra-putrinya.
Bahkan meskipun ia dalam kondisi yang kesal /marah. Karena salah satu doa yang tak terhalang adalah doa orang tua untuk anak-anaknya. Sekaligus menjadi peringatan bagi kita agar menjaga lisan dan tidak mendoakan keburukan bagi anak-anaknya. Meski dalam kondisi marah sekalipun . ..
“Janganlah kalian mendoakan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu.
Jangan pula mendoakan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana Allah mengabulkan doa kalian…” (HR. Abu Dawud)
Katanya, hubungan ibu dengan anak perempuannya itu umumnya memburuk saat si anak memasuki masa remaja. Dua kemungkinan sih. Either makin dekat seperti sahabat, atau teman berantem. Kalau saya, masuknya teman berantem. Tapi sebagaimana banyak text book bilang, hubungan ibu dan anak perempuan itu memburuk karena peran lelaki. Dan semuanya memang karena lelaki, sepertinya. Masa-masa penuh gejolak dengan ayah yang saat saya SMA sempat pergi berbulan-bulan tanpa kabar. Masa masa saya kenal cowok dan pacaran dengan orang orang yang kayanya memang dipertemukan oleh Tuhan buat bikin mama saya stress
Puncaknya waktu saya mulai berhubungan hingga menikah dengan suami.

image taken from http://www.worldofstock.com/slides/PCH5799.jpg
Salah satu kebiasaan buruk orangtua saya adalah tidak bisa menjaga lisan, bahkan saat memarahi anak. Saya ingat saya sering sekali sakit hati karena ucapan-ucapan orang tua saya ketika mereka memarahi saya atas sebab apapun. Oh well, it runs in the family, I guess. Skarang juga, kalau lagi ga ‘disarungin’, lidah saya tajem banget dan kasar
Saya ga akan pernah lupa, karena saya memang berniat mengingatnya seumur hidup saya, bukan karena dendam, tapi supaya saya ingat ketika insya Allah nanti saya jadi orang tua, saya tidak lupa bagaimana rasanya jadi anak. Satu yang paling sering bikin saya sakit hati adalah saat yang keluar adalah doa doa buruk yang mirip sumpah serapah dari mama.
Ga cuma ke saya. Ke adik adik juga sama. Misalnya adik sedang bertingkah menyebalkan atau apalah sampai bertengkar dengan orang tua, mama, biasanya dia bakal sambil marah berkata seperti, “Liat aja nanti…”, diikuti dengan kalimat yang super negatif, sama sekali bukan doa. Sejak dulu selalu ada, namun yang paling saya ingat adalah masa saya mulai serius dengan pasangan dan berniat menikah, yang mana mama ga setuju. Ga jarang kadang diskusi kami malah menemui jalan buntu dan malah diakhiri dengan bertengkar, mama saya sering sekali bilang, “Liat aja nanti.. Nyesel kamu ga dengerin mama!” , atau “Kamu mah ga akan berhasil!”, atau “Terserah kamu mau gimana! Hidup kamu ini! Ga usah ngomong lagi sama mama!”.
Haufff… Bayangin deh deh deh. Saya? Nangis darah kayanya tiap denger mama saya ngomong gini. Udah ga bisa ngebales dengan katakata apapun. Bikin pertahanan sekuat apapun, rontok! Nangis dan nangis doang bisanya.
Sampai suatu hari saat kalimat sumpahan ibu saya keluar dalam satu perdebatan kamu, saya memutuskan buat bilang, dengan mata bercucuran air mata, “Mama itu ga boleh bilang kaya gitu sama anak! Terserah mama mau suka keputusan aku atau ngga! Mama itu ibu! Tugas mama doain anak! Bukan nyumpahin! Mama cukup doain aku supaya apapun jalan yang aku ambil, aku bakal baik baik aja! Mama ga boleh nyumpahin anak! Doa ibu itu kan diijabah!”. Kira kira begitulah. Sambil nangis. Keluar dari kamar mama. Turun ke bawah masuk kamar sendiri dan nangis sampai cape.
Saya ga bermaksud kurang ajar sama sekali sama mama saya. Tapi benar, saya cuma ingin mama saya sadar, bahwa yang saya butuh adalah doa dari dirinya. Bukan sumpahan. Bukan kalimat bernada ancaman. Karena saya percaya banget, kalimat dari ibu adalah doa. Dan sebetulnya, saya ga merasa bahwa saya adalah anak durhaka yang pantas didoakan dengan kalimat buruk, dan seharusnya mama saya sadar.
It paid off. Dulu mungkin kepada saya dan adik perempuan saya mama, dan papa, masih eksperimen jadi orang tua. Masih lupa bahwa anak anaknya punya perasaan. Masih sama sekali susah buat diajak diskusi. Sejak saya pisah rumah dari hari kedua menikah, hubungan saya dan mama lumayan membaik. Kami ga bisa dibilang super dekat seperti sahabat juga sih, tapi paling ga, kami hampir tidak pernah bertengkar lagi. Mungkin mama saya juga akhirnya menyadari sesuatu. Jadi lebih bijaksana. Sama sama seiring usia anak yang menua, sama sama berproses mendewasa. Mama saya mulai bisa menerima kenyataan bahwa saya sudah punya hidup sendiri, yang saya pilih. Mama saya, dalam hati saya berharap, mungkin sudah kembali berdoa yang baik baik buat anak tertuanya ini sekarang. Buktinya saya Alhamdulillah bahagia, kok
Komunikasi kami lebih terjaga. Mama juga sudah bisa diajak berdiskusi dalam mengasuh dua adik saya terakhir yang masih tinggal di rumah. Sudah lumayan bisa diingatkan supaya tidak terlalu galak
Masih keras kepala tentang banyak hal dan mutlak kanjeng ratu yang jarang mau dipersalahkan, tapi ini benar-benar perubahan baik yang menyenangkan. Saya bersyukur sekali dengan hubungan yang kami miliki saat ini.
Ah… mewek jaya gini tengah malem. Meler deh idungnya. Mana belum beres pilek pula!
Yaaaaaaaaaaahhh jadi belom cerita soal kegiatan warna warninya saya semingguan ini! Later ya






