Because The Time Will Come, Eventually

Selamat malam, Bebo

Hari ini adalah hari di mana adik perempuanku di wisuda. Wah… Sudah sebesar itu dia rupanya. Sebagai seorang kakak, perasaanku demikian bahagia dan bangga. Dengan satu adik lagi duduk di kelas 2 SMA dimana katanya orang terpintar seBandung kumpul, adik kelas 5 SD yang sudah khitan tapi masih seperti bayi namun sudah mulai mandiri, aku bangga sekali melihat mereka bertiga, dan ingin menangis terharu kadang-kadang. Wah… bagaimana kalau nanti jadi orangtua nih :p

Satu-satunya hal yang kusayangkan adalah karena hubunganmu dengan ibuku yang sama sekali belum membaik sehingga kau tidak bisa ikut merayakan hari bahagia ini bersama keluargaku. Sayang sekali beliau masih belum mau menurunkan egonya sama sekali. Ah… Tapi waktunya akan tiba buat itu. Kau sabar kan menantinya? Karna kadang-kadang aku sendiri masih merasa sedemikian pedih bila kumpul keluarga inti tapi tanpa kamu. Namun aku akan jalani semua ini dengan sabar, hingga waktunya tiba dimana semuanya akan membaik. Kenapa? Karena aku tidak mau memilih satu di antara semua.

Dulu pernah ada seorang teman yang bertanya sebelum kita menikah, yang tau bahwa hubungan kita tidak dapat sama sekali restu dari sang ibu. Dia bilang, “Ya… baliknya skarang ke loe, Taz… loe lebih berat ke pacar apa ke keluarga?”. Saat itu aku agak bingung buat menjawab. Hey, I did love you the same much as I am now. But you’re just a boyfriend back then, rite? Sementara keluarga…. Aku sayang sekali pada mereka semuanya, meskipun mereka semua, sebagaimana juga aku yang bagian di dalamnya, sangat jauh dari sempurna. Lalu, kenapa aku harus memilih? Dia bilang, karena begitulah hidup, penuh dengan pilihan.

……………………..

Kelanjutan surat bisa dibaca di buku ini

Sudah bisa dipesan di http://www.leutikaprio.com

atau PM ke inbox FB Leutika Prio atau inbox FB saya ;)

Atau email ke leutikaprio@hotmail.com atau maddy_taz@yahoo.com :)

 

A book you’re most likely gonna enjoy reading it *kata yang nulis :lol:


Selaksa Rasa

sapatuw

Kemarin ini luapan emosi terjadi dalam satu hari. Setelah seperti biasanya berantem lagi dan lagi dengan sang mama, dengan si lelaki kecil pun tiba tiba suasana jadi panas.

Saya punya kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk buat selalu menyalahkan seseorang karna tidak bisa saya andalkan. Di sini saya salahkan dia si lelaki kecil saya, karena dia tidak bisa segera bawa saya pergi dari sini dan mendamaikan hidup saya dengan menjaga jarak dari mama. Karna ayah saya tidak mengijinkan saya keluar dari rumah seperti sekedar kost sebelum menikah. Jadi sepenuh hati saya mengharapkan lelaki kecil saya itu kan?

Tapi terus saja rencana kami makin kesini makin mundur. Ada ada saja yang terjadi. Mulai dari masalah keluarga, masalah pekerjaan yang akhirnya berimbas pada masalah finansial. Sperti tidak ada habisnya menguji kami berdua dan menjadi halangan yang ga habisnya buat kami akhirnya menikah.

Saya marah. Saya kecewa. Merasa dibohongi. Merasa tidak punya harapan. Merasa takut pada masa depan yang rasanya tidak sama sekali ada banyangan bagaimananya. Saya menangis dan menumpahkan semuanya begitu saja padanya.

Ah… manusia… saya lupa bahwa dia juga punya itu si hati dan rasa.

Saya lupa buat lihat betapa dia berusaha buat tujuan kami juga. Betapa sekarangpun dia bisa mulai melunturkan idealismenya dan berkutat dengan hal yang kurang disukainya tapi tetap dilakukannya, yang buat siapa lagi kalau bukan buat kami juga. Dia juga punya kelemahannya yang tidak mau dipaparkan karena cuma akan membawa pengaruh buruk saja. Dia juga sama lemahnya kadang dengan saya, tapi dia juga sama dengan saya, bisa buat tegar dan ada. Karena kami berdua.

Kemarin lupa begitu saja. Jadilah banjir airmata di mana mana. Dengan sedikit bentakan di sana sini. Penuh emosi. Tapi pada akhirnya memang kami adalah kami. Yang saling dan selalu saling mencintai. Ada buat satu sama lain. Bukankah selama ini juga masalah yang ada menimpa kami tidak ada yang benar benar dikarenakan kami sendiri?

Saya justru jadi benar bersyukur. Dengan smua ujian ini, penundaan ini, akhirnya saya bisa lihat bahwa ini adalah proses pematangan yang sempurna buat kami. Bahwa Tuhan mau kami tahu bahwa kami akan menghadapi yang begini nantinya mungkin lagi dan lagi, tapi sebagaimana selalu, kami pasti bisa buat jalani dan lewati. Dengan sakit, dengan airmata, dengan kecewa, dengan putus asa, tapi dengan berdua. Dengan saling mendukung. Dengan saling mengingatkan. Dengan saling ada satu buat lainnya. Yang selalu tidak akan pernah tergantikan dan terbeli oleh apapun juga. Yang itu kami sudah punya.

Dan jalannya memang sudah makin terbuka. Sekalipun sekarang mama masih belum membuka hatinya dengan sempurna, toh restu sang papa sudah dipunya. Mamanya sudah bisa dibayangkan akan mendukung juga. Kami memang masih perlu menunggu sbentar lagi, yang kami sendiri tidak tahu seberapa lama lagi… tapi itu bukan alasan buat pergi dari sini. Karena tujuan kami sudah jelas dan sudah pasti. Buat saling menyatukan diri. Tinggal sabar sebentar lagi. Sambil belajar ikhlas buat menjalani. Dan hal baik itu akan datang pada kami sebagaimana yang telah terjanjikan.

Ah… tidak tahan.

Tidak tahan buat merasa sangat diberkahi dan bersyukur karenanya, dibalik semua kekurangan dan cobaan yang masih saja ada.

Hey lelaki kecilku, aku tahu. Sekarang pelankan sedikit langkah buat sampai kesana. Biar saja orang mau bilang apa. Tidak apa apa. Selama kita berdua ada di jalur yang sama. Bagaimanapun kita sudah setengah jalan, sebentar lagi pasti tiba. Pelan pelan saja…



moa

Hard Thing Called “BELIEVE”

Sebelumnya mohon maaf karena saya belum bisa menanggapi sama sekali komentar di postingan2 sebelumnya dan belum sempat blogwalking sama sekali :( Minggu ini super hectic dan rasanya banyak sekali yang harus dikerjakan dan mulai kebingungan enaknya bagaimana! Heuh.. Pusing akuh!


BFF saya akhirnya jadi juga ditinggal pasangannya yang akhirnya dikirim ke Pontianak untuk bekerja di ESIA sana. Sahabat tersayang saya tidak berhenti menangis justru tiga hari sebelum pasangannya itu pergi. Dan memang pada hari kepergiannya menangis lagi, namun kebanyakan dia memilih diam.


Sebagai seorang sahabat, saya tau cuma bisa jadi shoulder to cry on saja buat dia. Dan menunggunya buat cerita sendiri apa yang dirasakannya.

Awalnya dia cerita soal ketakutan. Ketakutan kalau pacaran jarak jauh nanti entah dia entah pasangannya itu akan saling melupakan satu sama lain dan menemukan orang lain yang tempting yang ada di depan mata. Kemudiansoal keraguan. Dia ragu justru karena pasangannya sedemikian yakinnya! Dan itu malah membuat keyakinannya agak goyah. Dan yang paling mengusik adalah karena dia berpikir sekarang setelah pasangannya akan “maju” nantinya bakal meninggalkan dia, padahal waktu kemarin pasangannya belum dapat kerja dia tidak sekhawatir ini. Khawatir akan dilupakan begitu saja dan bakal digantikan seseorang yang jauh lebih segala dari dia.

Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 330 other followers