Setelah beberapa lama, akhirnya kemarin saya menonton juga satu film drama yang menurut saya bagus sekali! Saya ga peduli para kritikus film dan web film mau pada bilang apa, tapi buat saya it is 8 out of 10 stars!
Bukan film baru sepertinya karena sudah sejak lama saya lihat mejeng di rak Vertex (One of my favorite place in Bandung :p), tapi toh sayanya baru nonton jadi mari kita anggap saja ini film baru
Adapted from a book with the same tittle, sebelumnya bukunya pun pernah dibahas di Oprah lho!
Yang main juga bertaburan bintang! Ada Drew Barrymore dan Jennifer Anniston (my favorite drama gals!), ada Ben Affleck… sisanya diliat aja disini

Dengan seorang Gigi sebagai narator utama dari film ini, ga menjadikan film ini terlihat hanya dari satu sudut pandang Gigi sendiri saja. Jelas tidak, karena film ini lebih mirip seperti Love Actually yang multi plot tapi saling berhubungan antara satu tokoh dengan yang lainnya, tapi dikemas dengan lebih nyata lagi.
Gigi, perempuan usia akhir 20an yang belum juga dapat pasangan dan mudah sekali terpancing oleh lelaki yang sedikit saja memberi perhatian padanya. Sayangnya pada umumnya tanda tanda yang dia tangkap dari si lelaki biasanya justru salah buat diartikan, that in the end made her looks desperate and under the wishful thinking. Tapi rasanya bukan cuma Gigi yang begitu. Coba sedikit tengok ke masa masa yang lalu waktu ada seorang lelaki yang nampak seperti memberi perhatian dan memberi harapan, padahal tanpa sadar kita sudah ditinggalkan pelan pelan! Tapi masih saja menunggu dan berharap, entah pada apa. Gigi’s not that alone, yeap? Tapi Gigi bertemu Alex. Alex si “man’s-valuer” buat Gigi. Yang mengingatkan Gigi tentang lelaki yang cuma mengambil keuntungan dan tidak akan serius padanya. Not into her. Ah… kau mungkin akan bersyukur kalau punya sahabat lelaki yang demikian… jadi ga perlu menginjak ranjau dan meledak sendiri. Tapi kalau semua lelaki begitu mau apa? Masa tidak ada satupun yang serius? Masa semua cuma selewat saja? Haruskah putus harapan dan berhenti mencari? Oh… you ask Gigi yourself
Ada juga Janine. Yang istri dari seorang suami yang katanya sangat mencintai dia. Suami yang bertahun tahun bersamanya setelah bertahun tahun juga berpacaran dulu. Suami yang ternyata bertemu dengan seorang perempuan atas nama kebetulan, dan merenungkan tentang keterburuburuan yang dulu dijalaninya buat menikah. Perasaan terpaksa yang dulu tidak terpikirkan tapi entah kenapa jadi terasa. Apalagi si perempuan kebetulannya merasa bahwa mungkin saja memang ini lelaki yang dikirimkan buat dia? Kau mau bilang apa kalau begitu?
Dan ada Beth yang punya adik perempuan yang sudah mau menikah saja, sementara pasangannya menolak buat menikah yang katanya ga lebih berarti dari selembar sertifikat pengesahan. Memangnya cinta perlu di deklarasikan? Memang perlu apa lagi yang lebih dari sebuah komitmen dan ikatan penuh rasa yang sudah ada? Butuh juga menikahkah? Hm… tapi Beth masih perempuan pada umunya pada awalnya, di mana menikah adalah satu impian… Tapi lelakinya juga kan impian? Lalu apa sudah benar si pilihan?
AH!
Film ini manis sekali dan seperti sebuah potret kehidupan cinta yang macam macam masalahnya, dan satu atau lebihnya saya dan kamu juga mungkin, pasti hukumnya pernah mengalami, atau sekedar melihat di depan mata
Sudahlah… tonton saja… yang lagi bimbang tentang cinta…. yang lagi perlu hiburan…. yang lagi kangen drama… Yang mau pacaran di rumah saja biar lebih santai dan ga keluar banyak biaya *curcol :p









