Menikah dan Nafkah

Sejak berhenti siaran dan memutuskan buat fulltime urus bisnis, suami, dan diri sendiri, saya jadi punya jam tidur yang buruk banget! Tau banget kalo ini buruk buat kesehatan :mrgreen:  Sebentar lagi akan segera mengupayakan supaya kembali ke pola tidur yang normal. Hanya saja, kadang bekerja lebih enak malam, sih :)

Di malam hari pulalah adanya orang-orang yang ga bisa tidur karena berbagai alasan pribadi mereka. Salah satunya ada sahabat saya yang sudah lama tidak bertemu. Yang sudah sibuk dengan kehidupannya masing-masing dan membuat saya merasa bahwa hidup saya makin mengerucut. Tapi yang namanya sahabat, jarang bertemu juga, ada rasa sayang dan hangat yang selalu ada buat mereka.

Salah satu sahabat saya, kemarin malam sekitar jam 2an curhat-curhat, ga biasanya, karena tidak bisa tidur katanya. Sedang stress karena masalah komunikasi yang ga lancar dengan pasangannya, yang insya Allah akan menikah dengannya mendekati akhir tahun 2012. Stres, karena katanya mau menikah tapi malah mengambil keputusan buat resign dari pekerjaannya dan ingin fokus jadi wirausahawan saja. Padahal belum ada arah tujuannya, apalagi rencana ke depannya gimana. Diingatkan, malah seperti tersinggung dan merasa dipaksa untuk bekerja yang tidak sesuai dengan “panggilan hati”nya. Tapi kan lelaki harus bisa menafkahi keluarganya nanti, mana bisa kalau ga bekerja? Pertanyaan yang wajar yang dimiliki sahabat saya itu yang membuatnya tidak terlalu bersemangat menyambut hari Hnya, yang harusnya penuh rasa bahagia, katanya.

Masalah komunikasi antara sahabat saya dan pasangannya ini sepertinya bukan yang pertama kalinya. Sudah sering sepertinya dia bercerita stress ini itu dari dulu. Tapi akhirnya semuanya terlewati dan memutuskan untuk siap juga menikah di tahun ini setelah 2 tahun lebih pacaran. Katanya dia makin kesal, karena seharusnya si lelaki harusnya mengerti kenapa dia kesal dan stres, bukannya malah balik marah!

Saya sedikit pengen ketawa waktu dia cerita begini. Bukan… Bukannya jahat atau gimana. Tapi dulu saya juga stres melulu waktu mau menikah! :lol: Hal sekecil apapun yang terjadi tiba-tiba dan tidak sesuai rencana rasanya bikin kiamat dan bikin pengen batal nikah :p Hm… Apakah ini dialami oleh banyak perempuan, atau cuma yang typenya drama queen aja? Soalnya, kayanya banyak deh yang mau nikah ada ada aja stresnya, dan biasanya yang stres memang perempuannya. Lakinya sih tenang-tenang aja. Ga sedikit yang malah marah karena ga ngerti kenapa calon istrinya kok rempong dan stres bawaannya :p Somehow, when it’s meant to be, we all managed :)

Tapi kalau soal pekerjaan, penghasilan, yang akan berujung pada “kemapanan”, memang mau gamau pasti membuat perempuan stres ya? Kalau saya pribadi, dulu pertimbangannya justru bukan kepada apakah dia kelak mampu membiayai saya sebagai istrinya, tapi lebih kepada alangkah malunya kalau punya suami yang sepertinya ga bisa menghidupi istri. Saya rasa sahabat saya juga merasakan hal yang sama. Bagaimanapun, ga mau kan ya dibilang salah pilih suami?

Sebagai istri dari suami yang ga suka kerja kantoran, yang bisa saya lakukan cuma membantu si sahabat buat merasionalisasi keputusan calon suaminya. Mungkin memang bukan type kantoran. Kalau udah begitu kan mau dipaksa gimana juga percuma. Mungkin dia sudah punya rencananya sendiri, yang dia rasa kamu sebagai calon istri ga perlu tahu, yang penting tau beres aja nantinya. Tapi susah ya… Mungkin karena sahabat saya sendiri seorang type pekerja, dan mungkin keraguan terhadap si pasangan karena belum jelas arahnya mau kemana sekarang, tetap saja bakal stress.

Memang iya kan? Ada orang yang memang punya type pekerja. Ada yang lebih suka mengikuti kesukaannya dalam mencari penghidupan. Akan stress bila dipaksa jadi pekerja kantoran konvensional. Tapi ini kan pernikahan? Harusnya ada kompromi yang dilakukan? Kalau kamu yang ada di posisi sahabat saya gimana? Dulu, waktu mau menikah, suami saya ga punya pekerjaan tetap apa-apa. Sampai sekarang masih begitu. Kerjaannya ya masih sebagai web designer freelance saja. Yang kadang dalam sebulan dapat besar, kadang sebulan libur. Saya sering stress, serius. Tapi di satu sisi, saya sama sekali ga mau memaksakan suami buat bekerja kantoran yang sama sekali ga sesuai dengan jiwanya dia. Takutnya malah stress. Lagipula dulu pernah ada tawaran buat “ngantor”, dan gajinya tidak sepadan sepertinya. Kadang sekalipun menang cuma 1 proyek sebulan, bisa dibilang cukup dan ada sisa buat bulan berikutnya. Lalu saat ga ada? Saya berkompromi. Makanya masih tetap cari duit sendiri. Karena sayang sama diri sendiri, dan suami.

Tapi memang tetap. Menafkahi adalah kewajiban suami. Lalu kalau begitu, gimana dong?

Ya tinggal percayakan. Percayakan pada suami, yang sebelum menikah sudah tau dan menyanggupi kewajibannya, termasuk diantaranya menafkahi. Percaya pada diri sendiri, yang sudah memutuskan mau menikah dengan seseorang, pastinya akan bisa berusaha berjuang menghadapi masalah apa saja yang akan ada kelak. Percaya pada TUHAN. Jodoh DIA yang aturkan, kok. Segala urusan yang berhubungan dengannya, pasti diatur juga, toh? :)

Semoga dilancarkan, ya BFF segala urusanmu :) Kangen banget deh rasanya! Kenapa ya kok padahal cuma Bandung-Bekasi aja jarang ketemu? :cry:

Buat yang mau menikah, diingat-ingat lagi aja, memutuskan mau menjadikan dia sebagai calon suami, berarti sudah yakin kan? Sudah percaya, kan? Kelak kalau ada masalah apapun, HADAPI, jangan lari. Suami istri itu tidak pernah sendiri :) Nemu satu gambar yang lupa lagi dimana, tapi lucuuuu banget deh…

After all, finding someone to be a friend to grow old with, is a bliss :)

19 moths of a lifetime

Kadang saya masih suka heran juga, apa yang membuat saya cinta sama suami saya.

Is he my type of guy?

Ga juga.

Pendek dan kurus. Jelas bukan fisiknya. Sensitif dan pendendam. Punya aura gelap. Game addict. Geez.. I hate that a lot. Keturunan orang kaya? Not at all.. Bawel. Manja.

Lalu apa ya? Read the rest of this entry »

First Year of A Lifetime

Looks like we’ve made it

look how far we’ve come my baby

Satu tahun pertama.

Kata orang, tahun pertama pernikahan justru adalah tahun terberat. Dimana ga ada lagi yang disembunyikan. Dimana mulai benar-benar hidup bersama dan membawa dua kepala buat disatukan.

Bertengkar? Oh sering. Karna hal sepele? Umumnya demikian. Hampir putus asa dan ingin menyerah lalu lari? Aku yang begitu biasanya. Payah :p Tapi aku punya kamu. Yang tidak sama sekali terlihat tangguh, yang terlihat meragukan dan tidak dewasa. Tapi ternyata, menghadapiku kamu mampu. Kamu berhasil membuatku mengurangi kebiasan menjeritjerit yang seakan jadi hal yang selalu harus kulakukan. Kau berhasil, mengatasi emosimu dan meredakan punyaku saat sedang meledak. Cuma kamu yang bisa!

Tahun lalu, tepat saat ini, adalah hari yang sangat bahagia namun penuh rasa lain yang bercampur aduk jadi satu! Jelas, karna tidak ada mamaku disana, hingga saat ini, masih jadi beban tersendiri. Tapi selain masalah hati itu, aku ingat sekali betapa taun lalu, menjelang hari H, kita pusing tujuh keliling mencari uang yang kita butuhkan dan kita tidak punya!

Alhamdulillah Allah baik sekali. Ada saja jalannya buat kita. Job job kecil yang datang padaku dan padamu. Tapi itu saja tidak cukup. Maka Allah kirimkan sahabat kita buat jadi perpanjangan tangannya meminjamkan uang berjutajuta buat kita. Masih kurang juga! Allah beri sahabat terbaik yang memberi hadiah pernikahan pengisi rumah. Allah antarkan rejeki lewat Papa yang membantu biaya sebegitu banyak. Semua yang kelak harus kita balas, karna kebaikan hati adalah sesuatu yang sulit dicari.

Lihat setahun kemudian. Hari ini. Betapa aku bisa bernapas lega buat mengetahui bahwa kita sama sekali tidak sedang berhutang kepada siapapun! Alhamdulillah Robb… Jalannya perlahan-lahan dibuka dari awal, dengan cara apa saja, apalagi bagi kita berdua yang kerjanya di rumah saja sehari-harinya. Ada masa deg-degan karena fee yang pending dan sebagainya, tapi semuanya bisa kita lalu dengan selamat :D Salah sih, kau yang membantuku selalu berkepala dingin. Yah… kau tau kan, istrimu depresi setiap ga pegang uang :lol: Kita memang belum punya mobil pribadi. Belum bahkan punya rumah pribadi. Tapi tidak apa, we’ll get there. We’re on my way. I believe that we really will eventually get the life we’ve been dreaming of. I believe in it, as I always believe in us :)

Satu tahun berlalu, dan Allah belum mempercayakan kita buat punya buah cinta yang dititipkannya di rahimku. Tapi aku bisa mengerti. Masih banyak yang harus aku, dan kau, perbaiki. Dan itu tidak apa-apa. Allah tau yang terbaik, kan? Sama sekali aku tidak akan bilang bahwa tidak apa aku tidak memiliki buah hati dan bahwa hal itu tidak akan membuatku sedih. Itu akan. Sangat. Tapi aku juga tidak akan bilang bahwa bila tidak punya anak, maka kehidupan kita tidak sempurna. Tidak. Kita akan buat apapun yang diberi Allah pada kita sempurna buat berdua. Life’s good anyway ;)

Tahun lalu, aduh betapa kurus dirimu. Sekarang, kurus sih masih… tapi ada perut yang membuncit ke depan dan pipi yang mulai berisi juga leher yang ada lipatan :D Aku? Dulu masih wajar…. skarang mulai ga wajar, terlalu santai dan menikmati hidup rupanya :lol: Tenang, aku tau aku  harus diet hehe. Sebelum satu tahun lalu, masih ada saja hal hal yang kita malu malu buat lakukan, jaim deh istilahnya. Sekarang? Kentut dan sendawa sahut menyahut hampir tiap hari kita lakukan :lol: Luar dalam, aku dan kau. Setiap hari di rumah berdua, bertemu terus dan terus, ada bagusnya buat kita berdua yang sama sama haus perhatian ya ;)

 

Satu tahun pertama dari perjalanan seumur hidup bersamamu. It’s been great. As it always be, and as it will become.

Lanjuuuuuuuuuuttttt :D

 

Thank you for one wonderful year.


I love you.
More.
And more :)

Ah ya,
Kau suka kadoku?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 330 other followers