Jadi hari ini ceritanya resepsian pernikahannya sepupu saya, Mba Tata dan Mas GunGun. Selamat yaaaa…. Makanannya enak-enak
Semoga cepet dapet momongan… kan skarang smua orang dah keundang hehehe
Saya dan suami dapat undangan sendiri. Bukan lagi bersama dengan mama maka saya nebeng datang. Tapi spesial buat kami berdua. Awalnya bimbang, datang atau tidak? Akan merusak suasana atau tidak? Nanti ada ribut-ribut atau tidak? Ah… Tapi kan di acara orang, masa sih bahkan mama akan mengambil resiko bikin malu diri sendiri? Rasanya ngga… Kebetulan saya sedang tidak masak, jadi rasanya ada bagusnya kalau kami datang saja.
Maka sebelum siaran, dandan yang cantik dan menghadiri kondangan. Dandan paid off. Kata Bude saya dia pangling liat saya makin cantik
kalo diomongin sendiri gini kok jadi najis kedengarannya. Ketemu banyak sodara yang sudah lama ga ketemu, salam-salaman, dan tentunya, mengenalkan sang suami pada mereka. Hey, they responded well and they welcomed him. Cant say how relieved I was
Tapi rasanya ada yang kurang? Oh iya… Mamaku!
Datang menghampiri dan bersalaman, mama sih sayang banget sama anak perempuannya ini. Tapi rupanya hatinya belum bisa tergerak buat menerima menantunya, dan sayang sekali, pertemuan kali ini berakhir kembali dengan mama tidak sama sekali mau bahkan menengok pada suami saya. Sakit hati? Ehm… Suami saya sih mungkin ya sedikit sisa-sisa, sekalipun saya sudah bilang, apapun reaksinya hari ini ya ga usah dianggap sama sekali. Kalau saya? Ngga. Sudah ga tersisa sakit hati. Terasa sebagai suatu hal yang wajar, dan saya tau bahwa saya hanya perlu menunggu sebentar lagi.
Pakde dan Bude semua juga bilang hal yang sama pada lelaki kecil tercinta, “Sabar aja…” Karena rasanya memang cuma itu ya, yang bisa dilakukan saat ini? Rasanya ga ada gunanya memaksakan apa-apa. Bahkan semakin lama saya makin tidak ambil hati sama sekali. Meskipun pada momen momen tertentu hati ini masih sering sakit rasanya, karena belum utuh tentunya. Tapi ya mau gimana? Saya benar-benar clueless saat ini tentang hal ini. Tapi saya ga merasa ada yang kurang dalam kehidupan saya. So be it.
Sahabat saya keheranan ketika diceritakan. Masa sebegitunya reaksi sang ibunda? Apa dia tidak bisa melihat bahwa suami saya kata dia sih membawa pengaruh baik pada saya yang makin lama jadi lebih dewasa? Memangnya ga bisa dihargai itunya?
Saya ga punya jawabannya. Saya yakin mungkin sekali mama saya punya alasannya sendiri. Maka saya tidak akan berusaha menebak apa maknanya. Biar saja, pada waktunya nanti, mungkin akan terbuka sendiri.
In the mean time,
Que Sera…





February 27, 2011 at 3:55 pm
ikut titip link..hehe. mau tukr link gK?
February 27, 2011 at 6:39 pm
smoga hati bunda segera terbuka buat suami tercinta mbak
February 27, 2011 at 6:40 pm
i wish a happy ending for your family
May 4, 2012 at 1:44 am
[...] Sutralah ya.. ga mau lagi mengingat ingat masa sedih sedihan dan galau dulu. Yang ditulis disini selalu bawa perasaan campur aduk kalo diinget-inget. Yang penting sekarang saya sama suami udah bahagia, Alhamdulillah. Mama masih belum mau ketemu suami saya sejak awal pernikahan sampai hari ini, tapi hubungan saya sama mama baik-baik saja, dan akhirnya penyangkalan mama saya terima dengan lapang dada dan ga mempengaruhi hubungan ibu anaknya kami Sampai mama sendiri yang bilang mau menerima suami saya, rasanya saya dan suami ga berniat memaksakan apa-apa. [...]