Sudah lama sekali sejak terakhir kalinya saya membaca sebuah buku dari awal hingga tamat dalam satu waktu, hingga terbawa sepenuhnya dalam suasana yang diciptakannya. Sudah lama sekali sejak terakhir kalinya saya menonton sesuatu yang kemudian setelahnya tersenyum sendiri atau merasa ada tohokan di dalam sini. Sudah lama sekali saya punya waktu sebebasbebasnya buat diri sendiri.

Stagnasi. Kebosanan tingkat tinggi. Semua orang bilang inilah jalan yang harus terjalani dan kita hanya perlu kompromi. Masa iya? Apakah tidak ada cara lagi selain begini? Saya tidak menjadi diri sendiri. Bagaikan cangkang kosong yang melayang layang hampir tiap hari ke tempat yang itu itu lagi untuk menjelma jadi seseorang yang bahkan saya sendiri tidak pernah kenal siapa sebenarnya.
Saya tidak bisa kompromi untuk ini. Saya menolak buat mengerti lebih jauh lagi. Saya menolak merasa tergerogoti dari dalam dan perlahan lahan serasa mati. Saya lelah dengan perasaan lelah dan keruwetan yang ada yang menyebabkan emosi memuncak lalu menguji kesabaran yang memang sudah tidak ada lagi.
Ah… saya tidak bisa. Saya rindu jadi diri sendiri. Saya rindu dengan keseharian yang kata orang judulnya adalah monoton dan tidak berguna sama sekali. Ah. Mereka tahu apa? Lagipula, mereka mereka itu apakah benar benar hidup di dalamnya? Atau hanya sekedar seakan akan hidup? Masih ingat lagi pada sebuah kuliah di kelas panas pada suatu siang hari, tentang eksistensi. Saya merasa tidak mengada. Padahal seharusnya saya ada.
Yang dibilang keluar dari zona aman itu yang mana? Yang memilih keseharian yang katanya menjanjikan pegangan? Atau melompat dan mencoba cari sendiri sebuah ketenangan dan kebahagiaan dalam apapun yang terlakukan, meski sampai kesana akan lumayan lamanya. Asal punya tujuan, kan?
Maka hari ini, saya sudah bulat putuskan buat berhenti. Dunia ini sama sekali bukan buat saya. Permisi.













