Jadi begini ceritanya…
Si Verdy sedang kesal sekali dengan rekan rekan kerjanya yang menurut dia sangat mengganggu. Mulai dari yang kecil kecil sampai jadi bukit dan ga ketahan lagi.
Jadi ceritanya dia ikutan gabung di satu perusahaan kecil yang bergerak di bidang web magazine dan segala hal yang berhubungan dengan web dan graphic designs.
Awalnya kalau menurut saya perusahaan ini sangat dodol sekali, karena dia ga punya orang yang mengerti tentang dunia web yang sebenarnya. Yang mereka punya cuma programer yang semuanya kopi paste dari buku. Isi kepalanya ya cuma buku. Pengalaman nol sama sekali. Website yang mereka bikin pun setelah beberapa bulan ga mengalami peningkatan sama sekali dan ga bahkan nongol di google! Ceritanya mulai sedikit berubah setelah si verdy ini gabung di sana. Saya sendiri ga mengerti gimana membahasakannya karena saya pribadi tolol mati soal yang beginian, tapi paling tidak sekarang sudah mulai jadi urutan atas di search enginenya si gugel ituh. Tampilan pun banyak berubah. Ada beberapa sistem dan apalah yang juga dirubah dan kalau menurut divisi lain pun jadi sangat mempermudah.
Tapi ceritanya si Verdy ini bekerja dalam satu tim, dan dia punya satu ketua tim. Padahal tadinya katanya ini ga pakai hierarki apalah. Sama sama memiliki si perusahaan inilah. Ternyata tetap begitu.
Lain ceritanya kalau yang jadi pemimpin adalah orang yang lebih. Lebih pintar, oke. Lebih bijaksana, oke. Lebih praktis, oke. Tapi kalau lebihnya lebih goblok kan susah. Lebih keras kepala pula! Yang paling parah adalah lebih sok tahu!
Kemarin ini dan masih belum finish juga sampai sekarang, ada satu proyek yang masuk ke perusahaan yang nominalnya sekian juta. Yang aneh adalah ceritanya buat mengerjakan proyek ini ada satu team yang katanya ikut mengerjakan. Terdiri dari 3 orang. Si verdy kebetulan terpilih jadi project leadernya atau semacam itulah. Yang aneh itu karena pada akhirnya dia yang mengerjakan semuamuanya! Dua orang lainnya cuma nebeng nama saja jadinya. Yang super aneh adalah, team yang mengerjakan ini cuma akan dapat 20 persen dari bayaran yang diberi oleh klien dengan alasan 60 persennya jatuhnya ke perusahaan dan 10 persen ke marketing team! Gila kali dia? Smentara ini ga ada hubungannya sama sekali dengan si perusahaan! Smentara ga ada yang berbuat apa apa selain si verdy! Dan dari 20 persen itu dia cuma dapat 50 persennya, sisanya buat dua lainnya yang bahkan pantatnya ga pernah kelihatan dalam pengerjaan proyek ini.
Sudah begitu si klien banyak minta. Ya itu memang hak dia, tapi kalau yang mengerjakan merasakan ketidakadilan karena dianya cuma mendapat bagian yang sama sekali ga bisa dibilang layak ya gimana? Dan orang lain, termasuk yang katanya pimpinan di perusaah itu, makin lama makin menunjukkan karakteristik yang sama dengan orang lain yang ada di sana jauh lebih lama sebelum si verdy. Sok tahu tapi tidak bisa berbuat apa apa! Banyak bicara dan kadang terlalu sok bijaksana tapi sama sekali tidak pada tempatnya. GA TEPAT dengan kata halusnya mah. Cuma bisa tanya tanya sudah selesai apa belum, karena butuh uangnya, tanpa tanya pengerjaannya suka sampai mana. Tanpa ada sedikitpun penghargaan atas apa yang dikerjakan. Seenaknya sekali? Sementara si verdy yang mengerjakan semuanya?
Dan kabarnya akan ada beberapa job lagi yang menanti, yang masih sama mau dibilang mengatasnamakan perusahaan dan pastinya si verdy yang akan banyak mengerjakan, tapi sangat sedikit kebagian!
Betapa tahi nya ketidakadilan dan kebrengsekan di depan mata. Wih… gagal sudah semua upaya buat sabar dan ikhlas. Si verdy itu bukan orang goblok! Dia bisa bikin apa apa yang jauh lebih bagus daripada yang lainnya di perusahaan itu bisa. Kalau terus begini, hay verdy, sebagai calon istrimu, aku memintamu dengan sedikit paksa buat berhenti saja. Karena selain tak ada guna, capek juga mendengarmu mengeluh dan memaki yang begitugitu lagi tanpa kunjung ada perubahan yang berarti. Sudahlah. Selesaikan yang satu ini, lalu angkat kaki.
Kita cari yang lain lagi… Yang lebih sedikit memaki, Yang lebih sedikit makan hati. Yang lebih bisa masuk ke hati… dan dompet. Jangan lagi lagi!






June 17, 2009 at 11:38 pm
ya olooo mak! segitunya yaa perusahaan itu hauhauhauahuaha. Darling, endingmu jujur sekalih.Baguussss
June 18, 2009 at 8:50 am
iya tuh Bok,
kerjaan gitu kan gak butuh formalitas sebuah perusahaan.. udah lepas ajah dan gawe sendiri…
atas nama sendiri… lebih jelas.. semangat!!!
June 18, 2009 at 9:48 am
beuh.. tinggalin aja perusahaan dodolnya, nat! bikin aja gih, berdua.. verdy jadi pimpro, dirimu jadi administrasi.. asik, kan.. uang hasil keringat sendiri gak dimakan siapa-siapa lagi.. semua masuk kantong (calon) istri heheheh,,
kalo butuh tenaga bantuan kan bisa pake tenaga cabutan / freelance / anak kuliahan gitu deh..
June 18, 2009 at 11:42 am
emang si vei mah cocoknya gawe olangan… bisa senggol bacok urusannya tuh(jiga dangdutnya
)… veivei dilawan… 
June 18, 2009 at 4:22 pm
ya ya…
hei verdy! benar itu kata calon istrimu,
sudah segera angkat kaki saja dari sana,
bikin perusahaan sendiri kalau perlu.
oke verdy (dan calon istri)?

June 19, 2009 at 1:38 am
Setuju ma Yoan..
bikin perusahaan sendiri aja non
ga usah yang langsung gede, cukuplah punya web usaha sendiri
iA rejeki mah dimana2 yaa..
June 19, 2009 at 1:42 am
hehehe.. pokoke kata kata mbak YOAN entu keramaaaaat mesti dituruti..
June 30, 2009 at 10:45 pm
[...] Awalnya masih bisa buat menahan diri. Masih coba buat jalani. Masih menyabarnyabarkan diri. Karena berpikir bahwa memang ini untuk sebuah tujuan yang mungkin pasti. Kemudian ada job dari luar yang ternyata katanya lewat perusahaan sehingga fee yang diterima sangat tidak masuk akal dan tidak sebanding dengan apa yang dikerjakan, karena yang lain juga berebut minta bagian, padahal dia yang mengerjakan hampir semuanya! Masih ada juga si perbedaan pendapat dan perbedaan pola pikir, yang akhirnya hanya menimbulkan kekesalan dan sakit hati yang masih dan lagi lagi masih coba ditahan sekalipun kadang mulai nampak keluar itu si kekesalan. Tapi masih membuat sesuatu. Masih membantu. Masih menunggu buat suatu penghargaan sesederhana sebuah pujian atas hasil, karena yang berbentuk materi belum bisa diberi, yang pada akhirnya tidak ada sama sekali. [...]