Archive for June, 2009

Setan Sedang Menang Di Dalam Sini

Saya masih tidak ada waktu buat posting dan berjalanjalan di blogosphere karena bahkan si flash sekarang ini sedang dipakai si adik. Tapi emosi yang meluap ini memaksa minta disalurkan… Jadi ya mau gimana…

Sebetulnya, jarang sekali saya dipenuhi perasaan benci dan marah yang sehebat ini. Biasanya saya cuma bertengkar sama mama saya atau pacar saja, dan semarahmarahnya tidak akan pernah bertahan lama. Tapi saya takut yang ini akan jadi benci yang mengendap dan mengakar.

Saya benci pada mereka yang dulunya rekan kerja saya di satu radio yang dulu sempat sangat saya suka dan berubah format dengan gilanya dan saya putuskan buat tinggalkan. Dulu orang orang di sana hampir jadi keluarga buat saya. Tidak pernah terlalu dekat atau bagaimana juga, tapi karena mereka tempat bicara tiap harinya saya, ya mau tidak mau jadi demikian. Tapi seorang yang saya anggap kakak pun hengkang setelah menikah. Lalu saya keluar. Tidak ada yang bersisa? Masih.. karena si pacar ikutan bekerja bareng mereka.

Awalnya lancar lancar saja. Masuk akal. Tapi kemudian makin kesini makin terlihat agak kurang ajar. Belum dibayar dengan layak sama sekali karena katanya masih di awal sih itu masih tidak apa apa. Tapi kemudian banyak perbedaan pendapat yang umumnya ditolak mentah mentah. Masih bisa diterima. Kadang juga berbicara di belakang, padahal katanya sama sama memiliki si perusahaan kecil tersebut. Tapi tidak terbuka. Apa apaan?

Awalnya masih bisa buat menahan diri. Masih coba buat jalani. Masih menyabarnyabarkan diri. Karena berpikir bahwa memang ini untuk sebuah tujuan yang mungkin pasti. Kemudian ada job dari luar yang ternyata katanya lewat perusahaan sehingga fee yang diterima sangat tidak masuk akal dan tidak sebanding dengan apa yang dikerjakan, karena yang lain juga berebut minta bagian, padahal dia yang mengerjakan hampir semuanya! Masih ada juga si perbedaan pendapat dan perbedaan pola pikir, yang akhirnya hanya menimbulkan kekesalan dan sakit hati yang masih dan lagi lagi masih coba ditahan sekalipun kadang mulai nampak keluar itu si kekesalan. Tapi masih membuat sesuatu. Masih membantu. Masih menunggu buat suatu penghargaan sesederhana sebuah pujian atas hasil, karena yang berbentuk materi belum bisa diberi, yang pada akhirnya tidak ada sama sekali.

Sampai tiba tiba didatangi. Dibilang katanya kalau berbeda dengan orang satunya yang punya pendapat lain, ya lebih memilih dia saja. Oke. Tidak mengerti? Dengan kata lain DIBUANG. TIDAK DIBUTUHKAN LAGI. DIMINTA DENGAN HALUS BUAT TIDAK DATANG LAGI.

Baiklah. Mungkin itu buat yang terbaik. Tapi tetap saja dia merasa sangat digunakan beberapa bulan terakhir, dan sia sia saja semua yang dilakukan tanpa diberi imbalan yang pantas karena merasa bahwa akan ada hasil di depannya bagi semua ini. Karena dia dianggap beda maka dia disisihkan. Tanpa bayaran apa apa. Tanpa terima kasih atas apa yang sudah pernah dilakukan. Tanpa apa apa.

Wajar tidak kalau dia marah? Wajar tidak kalau dia kesal dan menyumpah nyumpah? Wajar tidak kalau bahkan sayapun ikut kecewa karena mereka yang dulu saya kenal baik dan dianggap keluarga kedua ternyata begini polahnya?

Apa yang saya lakukan? Memangnya salah kalau saya coba hibur si pacar supaya sabar… belajar ikhlas… bahwa yang berbuat seenaknya pasti dapat balasan. Memangnya salah kalau saya bilang bahwa dia bakal lebih baik dari mereka semua, when they all going down deep. Kau tahu… Masa mereka yang marah? Mereka yang bilang kami yang berdosa berpegang pada keyakinan yang jahat yang dibalas, bahwa kami yang berharap mereka dapat balasan malah membuat mereka semakin bersemangat buat maju dan mendoakan kami dimaafkan. Tuhan…  betapa manusia mu seharusnya lahir dengan kaca di depan muka, atau kau selipkan di dalam hati. Supaya lihat tingkah laku sendiri! Dan dengan bangganya dia bilang “True men never hits woman and kids”. Ouch ouch ouch. Offensive sekali! Saya MARAH! Saya yang dari kemarin mengingatkan si pacar supaya sabar dan ikhlas dan nanti pasti terlihat dan yang jahat pasti dapat balasan dan segala macam… sekarang saya tidak bisa. SAYA CUMA MARAH! DAN DIPENUHI KEBENCIAN! Padahal sumpah saya jarang sekali membenci hingga begini.


Tuhan maafkan saya. Saya akan membuang mereka sama sekali dari hidup saya. Saya tidak suka berhubungan dengan orang yang tidak memikirkan perasaan orang lain dan tetap merasa paling benar. Saya tidak mau. Saya menolak buat berkata balasan apa apa, saya hentikan mulai sekarang. Biarlah semua doa disimpan di dalam hati. Biarlah saya bikin janji dengan Tuhan yang menciptakan saya ini. Biarlah saya lupakan mereka, yang sumpah membuat saya sendiri sakit hati sekali, padahal dulu saya menaruh kepercayaan pada mereka. Saya benci Tuhan. Maafkan saya…

Dan saat ini saat airmata ini mengalir sendiri tidak mau berhenti, semoga si kekesalan dan kemarahan terhapus karenanya. Bukan buat mereka, tapi buat saya sendiri. Supaya tidak mati ini saya punya hati. Kalian boleh bilang apapun, tapi saya percaya kami lebih baik dari kalian. Kalian boleh merasa sesukses apapun mungkin nantinya, tapi saya titipkan semua pada Tuhan. Tuhan tahu betapa kami sakit hati karena kalian. Dia sakit. Saya ikut sakit. Bila saya musti memilih, biarlah hilang beberapa jumlah orang yang dulu pernah saya sebut teman dalam kehidupan, karena saya tidak mau peduli lagi.


Tuhan selalu paling tahu di atas sana apa yang terjadi.


Comments (19)

My Time Is Running Out

Mama saya baru pulang tadi malam, dan si Telkomsel Flash dipakai terus oleh dirinya dan adik saya. Ah.. baru kebagian giliran sekarang, padahal jam 8 saya sudah musti hengkang dari rumah ini dan menuju ke sebuah rumah di daerah antapani buat briefing tes kesiapan sekolah di SD Coblong besok. Hope the fee’s good :D


And yes, my time is running out! Malah sibuk cerita dulu di blog yang satu ini, padahal di sini katanya posting2 saya agak ga dalem… ah… masa bodo amat. Niat  utamanya juga buat komersil kok hehehe.

DUh duh duh beneran udah mepet sekali waktunya. Im gonna have a long day today. Briefing, nonton transformer, nunggu kiriman Oriflame, nyetrika sisa cucian kemarin, dan baru deh ada jadwal buat tutulisan ;)

Yang ngasih PR… saya kerjain nanti yah hehehe demikian pula halnya dengan cerita cerita yang banyak sekali di kepala yang mau saya bagi, dan menanggapi komentar di posting sebelumnya satu satu. Terima kasih lho buat yang tetap baca kemarin kemarin :D

Oke, im out of time. Mau baca cerita saya nanti? Bacalah… Balik lagi kemudian yah :D :D :D

Meanwhile…


HAVE A GREAT DAY EVERYONE!

cup mwah :*

moa

Comments (10)

Posting and for the rest of this week

Aaaaah mama saya pergi beberapa hari dan TELKOM FLASH nya dibawa!
Jadi slamat tinggal posting dan blogwalking sampai senin malam ya..
Agak malas pakai hp soalnya (ribet pleus mahal)
Lagipula bakal sibuk nih besok mau outbond skalian gathering penutupan magang.. Saptu jadi pembicara pertama kali di SD NASYWA.. Minggu blum ada rencana tapi sepertinya bobogohan.. Dan senin mau nonton TRANSFORMER 2 di Blitz Megaplex, mau bareng? :-D
Key then..

HAVE A GREAT GREAT GREAT WEEKEND EVERYBODY!!!

Comments (14)

IM VALUEING MYSELF GOOD

Jadi ceritanya kemarin kemarin saya sempat daftar ke salah satu sekolah bagus di Bandung. Sebenarnya saya daftar jadi pendamping buat ABK, karena itu sesuai sekali dengan ilmu yang saya punya. Tapi ternyata saya terpanggil kembali diprospek sebagai guru agama. Hahaha nona yang sial ini beginigini juga lumayan jagoan kok ilmu agamanya. Secara ajah lulusan pesantren skalipun cuma tiga tahun. Tapi skali lagi juga, ilmu ga ada gunanya ya kalo ga diamalkan… nah… di kasus saya, ilmu agama ini kurang pengalamannya :p jadi waktu terpanggil buat diprospek jadi guru agama, ya saya pikir kenapa ngga juga toh? ;)

Tes demi tes saya lalui rasanya dengan sangat oke. Gusti nu agung sumpah ini bukan mau sombong atau apa. Tapi hal hal yang berhubungan sama sekolah ini masih termasuk bidangnya saya, and I am good at what im doing when it comes to my thing! Im a woman with competency for heaven sake! Bahkan saya sudah terpanggil ke wawancara akhir yang sudah akan hampir pasti diterima.

Lalu kenapa ga jadi? Kenapa masih “menganggur” begini?

Karena kata dia minimum salary yang saya minta terlalu tinggi. WTF? Terlalu tinggi? Kau mengharapkan saya minta berapa memang? I know… gaji guru katanya emang ga ada yang terlalu tinggi ya? But hell, whatever! Saya ga mau lebih rendah dari yang saya minta. Dia kan sekolah bagusan yang satu anaknya pun SPP bulanannya 650 ribu. Masa menggaji guru dengan layak saja ga mampu?

So I think I’ll just past.  And I dont regret it like at all.

Saya tahu betapa orang di jaman sekarang katanya akan melakukan apapun buat dapat pekerjaan. Saya juga kok. Makanya saya magang di sekolahan yang jauh di ujung bumi dan home visit ke ujung bumi yang lebih jauh lagi juga. Tapi saya ga mau kalau dihargai dengan rendah. Sama sekali bukan karena apa apa. Tapi karena saya menghargai diri sendiri. Dan percayalah, kalau kau tahu nominalnya, kau pasti akan anggap itu juga masuk akal sekali buat saya.

Ya, well. ROBBI yang berencana toh? Tepat pada waktu dimana saya berpikir bahwa buat meneruskan perjalanan jadi konselor sekolah mungkin akan jauh lebih menyenangkan, setelah sebuah presentasi yang bisa dikatakan berhasil dengan mulus dan menarik :) Jadi skarang saya mau meneruskan magang di itu Biro yang sedang saya gabung di dalamnya sekarang. Im gonna get paid then. Karna saya kan sudah lewat masa pelatihan. They surely can use me, karena sekali lagi, dengan jumlah orang yang baru sedikit sekali di biro tersebut, they’re eventually gonna need someone with a good communication skill like me ;) Ga setuju? Ah… I know me. So u better just zip it up.

Dan ibuku sayang… just because I dont do it, doesnt meant I cant. Saya ga mau dan ga minat buat melakukan hal hal yang saya memang ga suka, dan itu sama sekali ga ada hubungannya sama ga mampu. Belum percayakah kau bahwa kau itu punya empat anak yang orang tua manapun akan merasa beruntung memilikinya? We’re all good, mum. And we know just what it is  best for us. So u better just pray for us, and give it one hell of support!

Ding ding ding ding

Si nona “pengangguran” yang abis misah misuh disini mau membabu… Menunggu minggu depan mau ke PRJ sama sepupu yang pastinya akan membiayai semuamuanya. Menunggu bulan depan ada proyek dari satu bimbel di Bandung yang mau pakai si Biro yang si nona mau gabung di dalamnya. Oh ya! Baru dapat kabar Saptu ini diundang jadi pembicara di SD Unggulan NASYWA ;) So excited! Ah… mau mengeluhkan apa lagi sih?

moa

Comments (27)

BANGGA OH BANGGA

Ceritanya adik saya yang ketiga sedang sangat bahagia karena dia lulus SMP dengan nilai yang sangat memuaskan. Bayangkan saja, masa NEM nya 38.9 dari nilai total 40! Wow! Matematikanya pun dapat 10! Dulu kakaknya ini aja paling gede cuma nilai Biologi aja waktu SMA.. itu juga cuma 9.4! Ini adiknya lebih gila lagi!

Bangga itu jelas. Saya sebagai kakak bangga. Mama saya sebagai orang tua bangga. Tapi yang lebih lucu adalah selanjutnya, ketika si adik ga terima kebanggaannya dikatakan milik siapa siapa lainnya, karena memang dia yang berusaha sendiri buat keberhasilannya.

Awalnya adalah mama saya yang bilang di status facebooknya, “Selamat ya sayang. Ga percuma kan mama galak ke kamu”. Adik saya yang kedua sewot dan berkata, “Ya percuma lah. Mama bisanya marah marah doang. Bentak bentak. Ngebantuin apa apa juga ngga. Ini mah hasil dia sendiri. Sama sekali ga ada urusan sama mama”.

Geli juga saya jadinya. Karena memang beberapa saat sebelumnya sempat ada beberapa tragedi di mana mama saya sama sekali tidak mau datang ke pertemuan orang tua dan guru di sekolah adik saya karena malas, dan si adik sampai dengan kesal bilang, “Mama jadi orang tua tanggung jawab sedikit dong! Ini kaya ga punya orang tua aja!”. Kaget juga saya… bisa bisanya dia bilang begitu. Tapi yah… ga bisa sepenuhnya disalahkan juga sih.

Terlepas dari kasus internal keluarga saya. Ini juga terjadi di beberapa anak yang saya dan rekan tangani di proses konseling di SD Coblong kemarin. Kebanyakan (hampir semua malah) orang tua tidak sadar sama sekali bahwa apa yang mereka beri dan lakukan, atau tidak lakukan pada anak, sangat menentukan perkembangan dan prestasi si anak itu sendiri. Kalau anak dapat hasil jelek dimarahi, tapi kalau yang beruntung dan bagus dibanggabanggakan ke orang lain dengan embel2 dirinya yang punya andil.

Ada yang tidak peduli sama sekali. Ada yang ga bahkan pernah tahu bahwa nilai si anak super jelek sekali. Ada yang cuma bisa memarahi anak terus dan terus, tanpa pernah terpikir buat bisa memarahi diri sendiri.

Perkembangan dan keberhasilan seorang anak di sekolah, faktanya dipengaruhi oleh tiga faktor yang saling berhubungan. Diri sendiri, sekolah, dan orang tua. Satu faktor saja timpang, maka hasilnya juga tidak maksimal. Terbukti dari 6 anak yang kami tangani, keenamnya punya masalah di lingkungan keluarganya.

Mungkin justru bagi kebanyakan orang ada satu paradigma masuk ga masuk akal yang berkembang. Diamkan saja anak, nanti juga bisa belajar sendiri. Saya juga dulu didiamkan dan saya berkembang sendiri. Paling tidak orang tua dari anak yang kami tangani kemarin ada yang mencetuskan kalimat ngawur tersebut.

Ga semua anak diberkahi kemampuan buat bisa mengembangkan diri sendiri. Dan ga langsung di awal kehidupan anak bisa melakukannya. Ada waktu yang akan dibutuhkan. Kenapa tidak justru berpikir justru dulu punya hasil yang tidak maksimal karena segalanya dikembangkan dan dipelajari sendiri, dan tidak mengulang pola yang sama supaya hasilnya jadi lebih baik lagi?

Yeah well… parenting style kan memang beda beda. Sayang ga semua orang belajar tentangnya. Lagi dan lagi saya bersyukur karena saya kuliah di Psikologi sekalipun termasuk yang kelamaan. Ilmu saya berguna sekali buat saya, ga seperti yang orang anggap jadi ga ada gunanya sama sekali cuma karena sekarang saya memilih ga mau jadi HRD di perusahaan manapun :p


Makanya jangan… jangan merasa bangga dan merasa punya andil, kalau memang tidak sama sekali :D *menyindir para orang tua dengan pola neglection yang suka seenaknya… nope… mama saya sih ga beginibegini amat :p

moa

Comments (26)

KDRT itu…

Ini sebetulnya bukan pertama kalinya kasus begini terjadi. Lho? Tau tau ko udah bilang bukan pertama kalinya? Emang kasus apa? Itu lho… KDRT.

Bukan juga karena saya tertarik sama kasusnya si Cici Paramida yang notabene lelaki tua goblok itu lemah sekali pembelaannya dan seharusnya ga ada celah yang bisa membiarkan dia bebas. Kalau sampai bebas sih agak kelihatan ada “sesuatu” disitu. Tapi yah… apa yang kau harapkan sih dari lelaki yang sudah 5 kali menikah, hay Cici?

Dem! Lost focus!

Balik ke KDRT nya sendiri… Hal paling nista yang bisa terjadi di sebuah rumah tangga. Jangan salah. Ga selalu suami yang bisa melakukan si KDRT ini sendiri, tapi istri pun bisa. Atau kalau diganti perannya, ayah dan ibu yang menyiksa anaknya. Hm… lebih jelasnya silakan baca saja di sini

Tapi ga ngaruh sama sekali yah? Di berita di mana mana, mulai dari artis sampai pembantu rumah tangga, yang namanya KDRT terus saja terjadi! Dari yang mulai teradukan dan ketahuan sampai yang mungkin ga kelihatan atau orang menutup mata pura pura ga lihat? Banyak.

Satu yang mau saya ceritakan *ya baru mau cerita ini daritadi prolog aja :p* tentang tetangga belakang rumah saya. Keluarga kecil, suami istri dan dua orang anak lelaki dan perempuan berusia sekitar 9 dan 6 tahun. Sang suami bekerja sebagai tukang ojek. Saya sering lihat dan memang sering menumpang ojeknya. Berusia awal 30an dan bertubuh tinggi tegap. Nope. Ga ganteng! :p Sementara si ibu katanya sih bekerjanya sebagai tukang cuci di rumah di komplek saya. Mereka bukan orang komplek Margahayu Raya sini. Tempat tinggal mereka di salah satu kost-kost an belakang rumah saya yang dibatasi sebuah kali yang lumayan besar. Sekamar berempat kalau tidak salah (asli saya ga pernah melihat mereka langsung)

Lalu kenapa saya peduli pada rumah tangga mereka? Saya bukan orang yang gampang peduli pada urusan orang lain lho.

Mau gimana lagi… wong setiap hari, sekitar Magrib paling sering, kedua anak itu menjerit jerit sedang dipukuli ya kalau ga ibunya ya bapaknya. MENJERIT JERIT AS IN MENJERIT KESAKITAN! “Ampun bu.. Ampun pak…” atau kadang cuma jeritan teriakan kesakitan saja. Dan biasanya yang ikut terdengar adalah suara si ibu berteriak-teriak memaki anaknya. “Kan udah dibilangin! Ga nurut, hah!? Mati aja loe skalian!”

Itu terjadi setiap hari! Sebabnya sih mungkin beda beda, ga tau juga.

Kalau menurut gosip dari adik saya yang temannya mengkaryakan tetangga si ibu sebagai tukang cuci di rumahnya, kedua orang tua itu memang bertengkar setiap hari. Teriak teriak. Biasanya karena masalah uang. Ga punya uang jadi stress dan ingin marah marah saja bawaannya.. yeah yeah i know… sounds familiar, rite? Tapi yang jadi masalah adalah kalau katarsisnya adalah dengan memukuli dan memaki sang anak! Kata ibu cuci itu juga, si Yoga dan Lani (nama kedua anaknya) memang dipukuli setiap hari dengan alasan yang macam macam, mulai dari tidak belajar, main kelamaan, dsb. Dipukuli dengan tangan, atau kadang pakai sapu!

Heran juga kenapa tidak ada tetangganya yang protes. Mungkin karena semua sibuk dengan masalahnya sendiri sendiri. Sibuk dengan urusan ekonominya sendiri sampai tidak sempat peduli pada orang lain. Ibu saja pernah mengadukan ini ke RT di wilayah kami. Tapi ga bisa diapaapakan katanya karena bukan wilayahnya dan lagipula ga ada pengaduan apa apa.

Korban KDRT memang pada umumnya ga ada yang berani mengadu! Ya istri, ya pembantu, apalagi ini yang cuma anak-anak! Dan inilah yang bikin pelakunya jadi besar kepala! Mungkin memang akhirnya cuma Tuhan yang akan menempeleng mereka!

Tapi balik ke Yoga dan Lani. Mau jadi apa mereka besar nanti? Dengan role model orang tua seperti itu… dengan trauma fisik dan psikis yang dialami seharihari. Semoga saja tidak akan jadi orang tuanya…. dan mengulangi lingkaran setan yang sama pada keluarga mereka nanti.

Ah… putus asa! Ya saya, ya mama saya. Cuma bisa mengeraskan volume radio kalau adegan penyiksaan itu terjadi, karena suara jeritan anak anak itu sangat mengganggu! Membuat gatal! Ingin melakukan sesuatu tapi tidak bisa!

Ekonomi bisa merubah orang sedemikian rupa ya? Makanya di Islam semua orang sebisa mungkin harus jadi orang kaya di dunia mungkin alasannya ya seperti ini. Atau jadi orang yang Qanaah atas apapun yang terjadi, ya supaya ga seperti ini. Dan manusia, lagi dan lagi cuma bisa lupa!

Makanya lagi saya masih bisa dan ga bisa buat setuju pada orang yang menolak KB, karena anak adalah rejeki dari Tuhan yang sudah pasti punya porsi rejekinya sendiri di dunia ini. Nah kalau keadaannya begini? Kalau justru masalah “ketidakadaan rejeki” ini yang membuat si anak menderita? Belum tepat… karena belum semua orang matang pikirannya dan bisa mengerti sebenar-benarnya maksud kalimat di atas. Jadi ya jangan punya anak dulu kalau memang tidak mau ngurus!

Kalau sudah begini, moral juga jadi gamang. Lebih baik mana coba? Orang tua yang menyiksa anaknya sebegini hingga mungkin lama lama mati, atau orang tua yang merasa sedemikian mencintai anak sampai mereka membunuh si anak daripada musti merasakan penderitaan dunia?

SYIT! GA ADA YANG BENER! GA USAH PUNYA ANAK AJA!

Saya masih percaya sepenuhnya bahwa Tuhan tidak akan memberi cobaan yang melebihi kemampuan umatnya, seberapapun sering saya mengeluh dan memakimaki karenanya. Saya masih percaya bahwa sebagaimana yang namanya kebahagiaan yang ga abadi, maka penderitaan pun ga akan abadi. Saya masih percaya bahwa yang perlu dilakukan manusia adalah berusaha mengubah nasibnya dan menjadikannya lebih baik lagi. Saya masih percaya kekerasan apalagi bunuh diri cuma ketololan dan bukan jawaban buat apa apa.

moa

Comments (20)

Norak Norak Norak

Minggu ini rumah saya ini di review juga sama majalah CHIC. Wah… kirain seleb blog aja yah… dan sdikit dipromosikan juga pula rumah satunya :D

Jadi saya mau pamer, boleh?

Ah ya boleh lah! Ini kan blog saya ;)

chic's

moa

Comments (27)

Older Posts »