Ehm, sudah terlalu banyak tulisan saya yang membahas tentang film dalam sekali posting ini. Jadi kalau buat si YES MAN ini saya ga akan membahas filmnya, selain mengenai moral yang saya dapat dari film tersebut, seperti biasanya.
Menjadi YES MAN mungkin maksudnya adalah orang yang mengambil semua kesempatan yang ada di depan mata tanpa terkecuali. Tapi jangan juga tanpa pertimbangan apa apa, yang begitu sih bodoh namanya… cuma Jim Carrey yang boleh begitu!
Seberapapun sering saya bilang bahwa yang namanya kesempatan itu bukan hanya datang sekali karena yang namanya kesempatan adalah sesuatu yang kita ciptakan sendiri, ga bisa dipungkiri ada beberapa hal yang benar hanya “mampir” sekali dalam kehidupan dan tidak akan menengok lagi saat kita melewatkannya. Kalaupun yang namanya rejeki tidak akan kemana dan segala macamnya, toh itu kan hanya bisa dengan usaha, dan rasanya bentuknya pasti tidak akan sama dengan sebelumnya juga.
Jadi tidak ada salahnya menjadi YES MAN, penuh dengan ke-optimis-an menjalani apapun yang ada di hadapan tanpa ada sedikitpun itu yang namanya ketakutan apalagi keraguan. Meraup apapun yang memang berhak buat kita dapatkan bila kita mau, karena kita mampu. Saya kok tidak bisa terlalu begitu ya?
Hingga sekarang hidup saya masih terasa tersia-siakan. Dan yang membuat saya jauh lebih bodoh daripada kedelai adalah bahwa bahkan saat saya punya kesadaran penuh tentang betapa tersiasianya hidup saya ini, saya masih saja sulit buat berbuat apa apa. Entah tidak mau entah tidak tahu entah tidak mampu. Berjuta kali saya menolak kesempatan, ataupun apapun itu, jalan yang ada di hadapan saya karena berbagai alasan yang saya ciptakan. Entah itu karena saya takutlah, entah karena itu saya ga PD lah, entah karena saya ragu lah, atau bahkan karena saya malas dan tidak merasa penting buat menjalaninya padahal mungkin saja itu berarti buat saya. Saya masih lebih bisa menerima bila karena saya tidak suka dengan hal tersebut. Tapi seringnya saya marah pada diri saya karena hal lain selain itu yang justru jadi hambatan.
Bukan hanya pada hal yang besar seperti misalnya pekerjaanlah, dalam hal hubungan lah, mulai dari hal hal paling sederhana saja. Saya sering tidak mau ketemu dengan teman teman saya cuma karena saya malas mengeluarkan ongkos karena merasa sedang ga punya lebih, padahal kalau dipikir yang keluar mungkin tidak akan terlalu banyak dan ga akan sebanding dengan apa yang saya dapat dengan berkumpul dengan mereka. Atau saya sering sekali menolak bertemu dengan seorang teman yang sudah menikah dan nampak sangat ingin curhat pada saya hanya karena saya merasa tidak PD dengan keadaan saya, merasa beda, merasa dia pasti akan mencela saya, padahal sampai sekarang belum saya coba dan saya pasti tidak akan tahu sebetulnya bagaimana. Atau saat beberapa kali menolak tawaran MC di acara yang saya merasa saya tidak akan bisa, dan menyesalinya kemudian.
Banyak sekali yang sudah terlewat dalam kehidupan. Bukan sama sekali mau buat terus begini, tapi entah kenapa rasanya masih akan ada lagi beberapa yang akan terlewati. Padahal sudah berjuta kali saya dimarahi pacar karena pola pikir saya yang seperti ini. Yes, my Mr Law of Attraction minded. Tapi kenapa ya buat merubah cara si kepala bekerja kok susah? Pintar banget dia itu, buat beralasan! Saya sama sekali tidak mau merugi, tapi…


Wih.. sebelnya karena di Buah Batu yang beginian lewat! Kok ga sampai depan rumah saya ya
di radio dulu yang kena program perampingan dari direktur baru yang goblok. Jadi saya ga selamanya diam begitu saja di ruangan pacar. Nangkring di ruangan teman yang lain dan kadang iseng mancing mancing mereka curhat juga suka saya lakukan. Apa saja lah pokoknya. Menghabiskan waktu di bawah atap yang sama dengan pacar menyenangkan buat saya. 












