Saya punya sebuah cerita lucu tentang ibu.
Ya ya. Kalau kemarin saya punya berjuta kecewa pada sang ibu, sekarang rasanya keadaan sudah kembali biasa. Tapi rasanya nanti juga keadaannya akan sama saja. Suatu lingkaran setan yang terus berulang tiada henti dan bagaikan sebuah kutukan!
Tapi lelaki kecil saya mengingatkan saya, bahwa keadaan yang demikian tidak akan selamanya. Tahun depan pun insya Allah keadannya akan berubah. AMIEN. Terima kasih saat ini ada dia dalam hidup saya. Ada satu hal yang masih bisa selalu saya syukuri dalam kehidupan saya.
Tapi rupanya akan ada lagi.
Kemarin BFF saya bercerita tentang seorang teman SMA yang menghabiskan masa kuliah di tempat yang sama bersamanya dan sekarang pun masih jadi orang Jakarta. Ira namanya. Ira yang dari SMA saya selalu anggap sebagai perempuan super centil, materialistis, mau enaknya saja. Saya memang tidak akan pernah bisa terlalu dekat dengan orang ini. BFF saya juga tidak. But as PlainAmi said, we adapt, yes? Demikian juga dia.
Ira ini lulus kuliah sejak awal tahun ini dan sudah bekerja di Bakrie sebagai staff HRD. Dia ini semasa kuliah yang 5 tahun itu sempat tiga kali berganti pasangan sama seperti saya. Dan dengan Angka, pasangannya yang sekarang, dia merasa akhirnya menemukan The One nya dia, sama seperti saya. Beberapa lelaki yang sejak dulu bergantian memasuki kehidupannya selalu saja ada yang salah di mata ibunya, sama seperti saya. Ira ini paling mudah menangis karena ibunya, sama seperti saya sekali lagi. Ibunya nampak agak sakit jiwa, yang ini beda dengan saya.
Ya, ibu saya memang orang yang sangat rumit dan sering bikin saya sakit hati. Tapi ibu Ira ini rasanya jauh lebih parah lagi! Dia dan suaminya bercerai kira kira 4 tahunan yang lalu. Ibu ini tidak bekerja dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Well, memang sih ibu ini memasak tiap hari buat keluarga, tidak seperti ibu saya. Tapi ibu inipun meminta seluruh gaji anaknya yaitu Ira dan hanya memberinya sekitar 30 persennya perbulan, karena katanya sisanya ditabung buat masa depan.
Ibunya Ira, mungkin karena trauma pribadinya pada lelaki jadi punya standard yang berlebihan tentang laki laki yang boleh mendapatkan anaknya. Maunya yang pintar, terbungkus dalam casing yang baik dan layak dipamerkan kalau kata Ibu saya, juga berasal dari keluarga berlatar-belakang normal dan status ekonomi masuk dalam hitungan orang berada. Standar sekali ya? Keinginan para ibu. Tapi coba deh, liat diri sendiri dulu. Kalau anaknya memang sudah sangat bagus sekali sih masih bisa diwajarkan. Nah kalo anaknya juga merasa biasa biasa saja seperti saya begini? Ibunya Ira punya tolak ukur begini. Ibu saya juga begini. Namun pada satu titik tertentu, akhirnya ibu saya mau mencoba buat menerima dan memaklumi kemauan saya. Mungkin karena saya juga orangnya agak memaksa dan memang ingin menjalani apa yang saya yakini. Ira tidak demikian.
Suatu hari Ibunya Ira sedang mengadakan arisan bulanan di rumahnya dan banyak ibu ibu lain disana. Ada seorang ibu yang bilang, “Duh, saya lagi nyariin anak saya jodoh nih. Umurnya sudah 28, udah kerja, udah mapan, tampangnya juga lumayan… heran mbokya nyari jodoh aja kok susah”. Wajar? Ya memang. Tapi yang agak kurang wajar ketika Ibunya Ira dengan semangatnya bilang, “Buat anak saya aja!’. Dan segera setelahnya Ibunya menyampaikan pada Ira soal so-called-perjodohan tersebut. Ira jelas marah. Dia sakit hati. Ibunya tau dia sedang menjalin hubungan ke arah yang serius dengan Angka. Ibunya tau dia berniat menikah. Ibunya malah bilang, “Kamu pikiran lagi lah soal Angka. Dia kan cuma lulusan D3, kerjanya begitu aja, gajinya juga gedean kamu! Orangtuanya aja masih numpang tinggal di rumah neneknya! Mau jadi apa kamu nanti? Nanti malah kamu digantungin sama keluarganya Angka lagi? Terus kalau neneknya meninggal emang pada mau tinggal dimana kalau rumahnya dijadiin warisan?” dan banyak lagi kalimat kalimat lainnya yang membuat Ira sungguh sangat merasa sakit hati. Angka. Dia lelaki baik hati berusia 23 tahun dan bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi di Bandung, sambil berwirausaha bersama temen kuliahnya dulu. Keluarganya termasuk menengah dan memang mereka tinggal di rumah neneknya karena sang nenek sudah tidak punya siapa siapa lagi sejak dulu. Dan di keluarganya tidak ada catatan kecacatan seperti perceraian dan lainnya.
Lalu Angka jadi tidak layak? Read the rest of this entry »