Archive for May, 2008
HARI TANPA TEMBAKAU DI 107.5 MUSTIKA FM
Dalam rangka memperingati HARI TANPA TEMBAKAU, Radio MUSTIKA FM bekerja sama dengan Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Bandung menggelar TalkShow on air pada hari Jumat 30 Mei 2008 pada jam 16.00 – 17.00 di 107.5 MUSTIKA FM atau mendengarkan via streaming online di www.mustikafm.com
Akan dibawakan oleh Kepala Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Bandung, dr. Hedy B. Sampurno dan interaksi di line sms 0818811075 atau isi shoutbox di www.mustikafm.com
PENTING OH PENTING WAHAI SMOKER PASIF DAN AKTIF
DENGARKAN OH DENGARKAN YAAAAAAAAAAHHH!!!!!
*JUST BECAUSE WE CARE*
Yang Nampak Seperti Cinta Tapi Bukan Cinta
Sedang terperangkap di perpustakaan karena terlambat mengumpulkan bahan bimbingan jadi ditolak oleh ibu dosen pembimbing tercinta, dan kecewa karena mpotmpotan tidak berjalan lancar seperti biasanya! Huh huh huh sekali pokoknya.
Akhirnya memutuskan menulis menulis yang tidak berguna (bukan sama sekali yang akan saya post disini, ada yang lebih tidak berguna lagi untuk dibagi hehe) dan setelah lelah akhirnya memutuskan membaca baca buku tentang perkembangan orang dewasa muda (ceritanya sembari introspeksi diri) dan menemukan satu bab yang paling saya suka buat baca sampai tadinya mau dijadikan judul skripsi tapi untung tidak jadi karena akan menimbulkan sugesti sugesti bagi diri saya pribadi.
Bab apakah nat…??? banyak omong kaw!!! Hehe bab pernikahan lah!!! Apalagi :p
Di awal sekali, sebelum menikah, bahkan termasuk dalam salah satu tugas perkembangan masa remaja akhir kalau menurut ibu Hurlock mah, adalah memilih pasangan dan mempersiapkan kehidupan perkawinan. Have you? Karena saya berasumsi kebanyakan blogger yang suka saya sambangi dan menyambangi saya masa remaja akhirnya sudah lewat, mulailah bertanya apakah semua tugas perkembangannya terpenuhi? Konon kabarnya kalau ada tugas perkembangan di satu tahap perkembangan yang tidak terjalani, akan jadi hambatan di tahap perkembangan selanjutnya, lho… (halah kok jadi menakut nakuti hehe) Tapi tenang saja, ini juga masih merupakan masalah di masa dewasa muda, jadi mungkin sebagian dari anda masih wajar mengalaminya, tapi kalau sudah 29 tahun keatas dan masih terperangkap di situ situ saja, silakan mulai mempertanyakan ada apa ya dengan saya.
Dalam memilih pasangan hidup, tidak bisa dipungkiri bahwa masalah cinta mencintai jadi masalah yang kadang utama. Karena sedikit, menurut saya pribadi, orang yang mau menghabiskan sisa hidupnya dengan niat sampai maut memisahkan dengan seorang yang tidak mereka cintai dan juga mencintai. Baiklah. Jadi kita akan bicara cinta. Tapi tidak akan terlalu banyak (ini bukan acara mingguan The Night in Romance anyway), tapi tentang sebuah perasaan yang menyerupai cinta tapi bukan cinta. Ada beberapa “rambu rambu cinta” yang terilhami dari tulisan L. Kirkendall, diambil dari sebuah buku berjudul PSIKOLOGI ORANG DEWASA yang disusun oleh Drs. ANDI MAPPIARE yang sedang saya baca di perpustakaan pagi hari ini.

Apa sajakah hal yang nampak seperti cinta tapi sebenarnya bukan cinta?
Cepat Sembuh Ya…

Karena aku sedang merasa membuatmu susah. Karena aku sedih melihatmu yang nampak mengering. Karena aku benci mendengar suaramu yang melemah. Karena jantungku berdegup kencang entah kenapa saat bicara denganmu di telepon. Karena aku sedang punya banyak kekhawatiran dan ketakutan. Karena aku sedih mendengarmu kehilangan semangatmu. Karena aku tidak bisa berbuat apa apa buatmu. Karena aku tau tidak bisa ringankan bebanmu. Karena aku menyayangimu.
Untuk semua karena yang bahkan tidak bisa kusebutkan lagi rasanya…
CEPAT SEMBUH YA LELAKI KECILKU
dalam mode lebay hahaha…
miss u thou`!
Untuk Seorang Lelaki yang katanya ingin menikahi Seorang Perempuan
Untuk dirinya, seorang lelaki yang mengatakan berencana mengajak seorang perempuan menikah. Kira kira apakah dirinya tau apa saja yang akan dihadapinya nanti bila akan dan telah menikah dengan sang perempuan? Apa yang sudah direncanakannya? Apa yang sudah ataupun sedang dan kira kira akan dilakukannya buat mewujudkannya? Apakah dia tau bahwa si perempuan sedang memikirkan banyak hal seiring dengan berjalannya hari? Apakah dia tau bahwa kadang si perempuan bilang pada sahabatnya bahwa dia tidak yakin dan tidak tau pasti apa yang sedang dijalani bersama si lelaki? Apakah dia tau bahwa walaupun si perempuan sangat menyayanginya dan mengasihinya dan bersyukur menjalani apa yang sedang dijalani bersamanya, rasa tidak yakin tetap menggelayut di hati sang perempuan? Apakah dia tau bahwa si perempuan sering sekali bertanya apakah benar dirinya adalah yang terakhir buat si perempuan? Lelaki itu, apakah dia sadar bahwa perempuannya punya banyak sekali keraguan yang akhir akhir ini makin ada karena suasana yang terasa makin dan makin aneh entah kenapa. Ya ya ya saya tau sekali si perempuan ini memang sering memikirkan yang tidak perlu dipikirkan, ketakutan sendiri, dan mengacaukan segalanya pada akhirnya. Tapi saya rasa itu bukan salah si perempuan sepenuhnya. Si perempuan punya banyak trauma, si perempuan mengemban banyak tuntutan, si perempuan digantungkan banyak harapan, si perempuan tumbuh ditemani keraguan dan ketidakpercayaan. Lalu apa yang dia harapkan? Taukah dia kalau si perempuan malam ini sedang dilanda kebingungan setelah malam tadi diingatkan pada satu kisah yang agak mirip kisah si perempuan dan dirinya yang akhirnya agak menyulitkan? Apakah dia sadar bahwa si perempuan mulai ragu pada dirinya, akankah dia punya kemampuan menjalani semuanya, akankah dia mampu buat jadi pasangan sehidup semati buat si perempuan, akankah dia mampu membahagiakan sang perempuan? Apakah dirinya tau bahwa saya sendiri bosan! Bosan karena sang perempuan kadang kesal sendiri sampai menangis karena tidak tahu musti bagaimana dengan keraguannya. Taukah dirinya bahwa sang perempuan sering ketakutan saat dirinya mengeluh dan seakan tidak mampu maju menjalani hidupnya, apalagi nanti setelah bersama sang perempuan? Sang perempuan tertular tidak yakin karena dirinya yang tidak sedikitpun menunjukkan bahwa dirinya akan mampu. Mampu buat segala. Si perempuan mulai berpikir lebih jauh lagi, apakah keluarga perempuan ini bisa menerima sang lelaki, padahal sang perempuan ada dalam kungkungan jerat keluarga yang merepotkannya mau tak maupun. Apakah dirinya orangnya? Sang lelaki yang katanya berniat jadi suaminya.
Ah! Malam ini pun bosan! Karena lagi dan lagi si perempuan dilanda keraguan dan kehilangan napsu buat melakukan apa apa yang padahal adalah kewajiban. Jujur, tolol sekali kamu wahai perempuan! Ah, tapi mau apalagi. Si perempuan memang sudah tercetak demikian.
Dan buat dirinya yang disebutkan disini, apabila mungkin membaca sejuta pertanyaan ini, sebagaimana biasanya dia suka membaca tanpa berkomentar apa apa, tolong demikian juga kali ini. Jangan berkomentar apa apa, apalagi repot repot coba bertanya. Karena sebagaimana dia biasa hanya membaca, saya juga biasa hanya menulis. Malam ini sedang begini besok belum tentu masih begini, jadi biarlah hal ini malam ini. Jangan bertanya. Jangan katakan apa apa. Ya. Diam saja. Baca saja.
Nasionalis itu…
Kemarin sore ada yang sms ke radio waktu saya sedang siaran… dia bilang
Terulang lagi waktu malam…
Baiklah. Pertama. Acara yang saya bawa sudah ada format acaranya dan memang tidak sesuai dengan lagu Indonesia yang sekarang banyak beredar. Paling tidak saya sering memutarkan lagu Indie. Ada juga beberapa penyanyi dan band yang sering saya putar sekalipun tidak banyak. MDnya juga menitah demikian!
Dan kalau dibilang tidak nasionalis karena tidak memutarkan lagu Indonesia, then just be it! Kalau memang cuma sebegitu saja dangkalnya makna nasionalis.
Pegang janji saya. Kalau nanti lagu Indonesia sudah jadi catchy di telinga saya, dengan lirik yang tidak membuat saya merasa diundang buat bunuh diri dan sama sekali tidak self-motivating, kalau nanti jumlah lagu bagusnya lebih banyak dari sekarang, kalau soundtrack dari film musikalnya bisa bagus selayaknya Glen Hansard dan nona Marketa Irglova atau paling tidak RENT saja yang sedemikian kurang jelasnya, maka saya pasti! ya Saya Pasti akan memutarkannya dan mengusulkan pada bapak Eka Nugraha!
Tapi buat sekarang, saya tidak peduli. Memang formatnya demikian. Terserah mau bilang apa. Saya cuma mau bilang “Ya nanti dulu…” dan menerima label tidak nasionalis dengan tidak merasa sakit hati.
Ah… lagipula dia sih dengerinnya jam saya… denger yang memang pas memang jam nya lagu Indonesia kenapa!!! :p
a Home is Where Your Heart in

rumah adalah tempat dimana hatimu berada
Bagaimana bila pulang ke rumah dan tidak menemukan kedamaian lagi di dalamnya? Bagaimana bila pulang ke rumah dan menangis tidak lama sesudahnya padahal sebelumnya saat di luar rumah tawa bahagia bisa ada? Bagaimana bila pulang ke rumah dan yang bisa terasa cuma ketidaknyamanan yang menyiksa? Bagaimana bila pulang ke rumah dan merasa tidak lagi terterima, atau tidak mau lagi diterima? Bagaimana bila pulang ke rumah dan merasa bukan di sini lah tempatnya?
Bertanya…
“Hai hati, kamu ada di mana?”
Di sini kah di tempat yang masih di sebut rumah, walau sudah tidak berasa seperti rumah? Ataukah sedang mengembara karena merasa sudah tidah berumah, dan bingung akan bernaung dimana? Hatiku, kamu ada dimana?
Ah…
Mungkin memang sudah saatnya saya meninggalkan rumah.
Mungkin memang sudah saatnya saya pindah rumah.















